Beberapa hari terakhir, lini masa kita dihangatkan oleh berita mengerikan dari Bandung. Seorang wanita disekap dan disiksa. Respons publik? Mengutuk keras. DPR? Langsung mengeluarkan kecaman maut dari kursi nyamannya. Polisi pun bergerak cepat menangkap pelaku. Semua orang tampak peduli setelah media massa merilis kronologinya.
Namun, ada satu pertanyaan mengganjal yang terus berputar di kepala saya: di mana semua orang ketika penyiksaan itu sedang berlangsung?
Bandung adalah kota yang padat. Rumah-rumah berhimpit, suara bersin tetangga bahkan kadang bisa terdengar ke sebelah dinding. Mengapa jeritan atau kejanggalan di rumah itu bisa lolos dari radar lingkungan sekitar selama berhari-hari?
Ilusi "Menghormati Privasi" di Kota Besar
Kita sering membanggakan kehidupan masyarakat urban yang modern dan sangat menghargai privasi. "Urusan orang ya urusan orang, urusan kita ya urusan kita." Prinsip ini terdengar sangat keren dan beradab, sampai kita sadar bahwa batasan antara "menghormati privasi" dan "masa bodoh" itu ternyata setipis tisu warung soto.
Dalam psikologi sosial, ada istilah bernama bystander effect. Sederhananya, semakin banyak orang di suatu lingkungan, semakin kecil kemungkinan seseorang untuk bertindak ketika melihat ada masalah. Mengapa? Karena semua orang memikirkan hal yang sama: "Ah, paling nanti ada tetangga lain yang melapor," atau "Ah, mungkin itu cuma pertengkaran domestik biasa, kalau ikut campur malah dibilang kepo."
Akibatnya, ketika semua orang saling menunggu siapa yang akan peduli duluan, korban justru dibiarkan menderita sendirian di balik dinding tripleks yang tipis.
Pagar yang Makin Tinggi, Kontrol Sosial yang Makin Rendah
Mari jujur pada diri sendiri. Kapan terakhir kali Anda benar-benar mengobrol dengan tetangga sebelah rumah, di luar urusan iuran RT atau sekadar klakson saat keluar pagar?
Kehidupan kota urban yang melelahkan membuat kita pulang ke rumah dengan energi yang sudah habis. Rumah bukan lagi bagian dari sebuah komunitas bernama kampung, melainkan sekadar "kotak istirahat" tempat kita menutup diri dari dunia luar. Pagar-pagar rumah dibuat makin tinggi, telinga kita disumpal headphone dengan fitur noise-canceling, dan mata kita terpaku pada layar gawai.
Sistem kontrol sosial tradisional seperti ronda malam atau tradisi saling tengok antartetangga kini dianggap kuno. Ironisnya, teknologi membuat kita bisa tahu apa yang terjadi di belahan bumi lain dalam hitungan detik, tetapi membuat kita buta total terhadap jeritan minta tolong yang jaraknya hanya lima meter dari kasur kita.
Menolak Abai Sebelum Terlambat
Kecaman dari anggota DPR atau hukuman penjara bagi pelaku memang penting untuk menegakkan keadilan. Namun, itu semua adalah obat setelah luka itu telanjur menganga. Benteng pertahanan pertama untuk mencegah kejahatan kemanusiaan seperti ini sebenarnya bukan polisi, melainkan kepedulian orang-orang terdekat: Anda dan saya sebagai tetangga.
Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu arti "bertetangga" di era modern. Menjadi peduli tidak harus berarti menjadi tetangga yang hobi bergosip di tukang sayur. Menjadi peduli berarti memasang telinga dan kepekaan. Jika mendengar sesuatu yang janggal secara berulang, atau melihat gelagat yang tidak beres, jangan ragu untuk mengetuk pintu atau melapor ke pengurus lingkungan. Lebih baik kita salah mengira dan meminta maaf karena dianggap terlalu sensitif, daripada kita menyesal seumur hidup karena membiarkan sebuah nyawa perlahan habis di sebelah rumah kita.
Jadi, mari tengok sebelah kanan dan kiri kita hari ini. Apakah kita benar-benar sedang menghormati privasi mereka, atau sebenarnya kita hanya sedang memelihara sikap abai?
Baca Juga
-
Menanti Rp18.000 per Dolar AS: Rapuhnya Tameng Dedolarisasi Kita
-
Paspor Lebanon Gianni Infantino: Saat Politik Dilarang di Lapangan, Tapi Dihalalkan di Kursi VVIP
-
Adu Domba Digital Borneo: Sisi Lain Hoaks Hubungan RI-Malaysia
-
Bakat Emas yang Terancam Layu: Refleksi Nasib Atlet Indonesia di Cabang Olahraga Ice Skating
-
PHK Massal Buruh Pabrik: Benarkah Up-skilling Hanya Ilusi?
Artikel Terkait
-
Persib Kunci Ragnar Oratmangoen 3 Tahun, Sinyal Serius Kuasai Liga dan Asia
-
Hey Slank Guncang Bandung, Angkat Spirit Berani Beda dan Dukung Industri Kreatif
-
Ole Romeny Susul Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen Gabung Persib Bandung? Ini Kodenya
-
Ragnar Oratmangoen Terbaru, Daftar 5 Pemain Anyar Persib Bandung
-
International Ksatria Nusantara Series Bandung Utama 2026, Jadi Ajang Seleksi Pelatnas Taekwondo
Kolom
-
Menjinakkan "Asisten Otonom": Redefinisi Kendali Manusia di Era Agentic AI
-
Ambisi Kecerdasan Buatan dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Bumi
-
Kartu Merah Bukan Penghalang, Inggris Beri Sinyal Positif untuk 8 Besar
-
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
-
Kenapa Cuma di Indonesia Artis Pindah Agama Dijadikan Komoditas Berita?
Terkini
-
Cegah Pelecehan Siber Berkedok Candaan, Dosen Unpam Bekali Siswa SMK Telkom "Red Flag Detector"
-
Xiaomi 18 Series Jadi Smartphone Pertama dengan Snapdragon 8 Elite Gen 6
-
Red Velvet Siap Meriahkan Musim Panas dengan Album Terbaru, Velvet Summer
-
Menggugat Hak Pencipta dan Harga Diri dalam Film Power Ballad
-
Maling Itu Empat Langkah dari Rumahku