Jarum jam sudah tegak lurus di angka dua belas, tetapi mata kita masih terbuka lebar. Laptop menyala dengan tampilan Microsoft Words, spreadsheets, dan halaman Google yang terbuka bersamaan. Secangkir kopi turut menemani malam yang panjang, lengkap dengan camilannya. Rasa lelah usai beraktivitas seharian diabaikan demi mengejar sesuatu yang tak selalu terlihat nyata. Merasa familiar? Bagi saya, situasi ini terasa sangat akrab—bahkan sudah seperti rutinitas.
Belakangan ini, kita cukup sering menjumpai pembahasan mengenai kebiasaan begadang di kalangan Gen Z. Menariknya, di satu sisi generasi ini dikenal lebih terbuka membicarakan kesehatan mental dan pentingnya self-care. Namun di sisi lain, tidak sedikit anak muda yang justru tumbang akibat kurang tidur, kelelahan, atau burnout. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya sedang kita kejar?
Begadangnya anak muda bukan selalu karena banyaknya pekerjaan. Bagi mahasiswa, terkadang mereka mengorbankan waktu tidur malamnya untuk mengerjakan tugas demi mengejar IPK, ada pula yang memang mengambil pekerjaan di malam hari demi bisa membayar UKT dan memenuhi kebutuhan hidup. Sementara bagi penulis, malam hari menjadi waktu strategis untuk produktif dan mengejar target karya. Selain itu, ada pula anak-anak muda yang begadang sekadar karena ingin mempunyai waktu untuk dirinya sendiri.
Namun, apakah semua itu sepadan dengan kesehatan kita yang harus dipertaruhkan?
Setelah seharian penuh beraktivitas, malam hari menjadi waktu yang benar-benar “milik kita”. Pagi hingga sore mungkin sudah banyak kita habiskan untuk kuliah, bekerja, mengurus organisasi, menjalankan tugas rumah, hingga menyelesaikan deadline. Akhirnya, malam menjadi satu-satunya waktu untuk merasa bebas. Karena itu, tidak heran jika banyak anak-anak muda yang masih terjaga hingga sepanjang malam—baik itu di rumah maupun di warung kopi. Ironisnya, waktu yang seharusnya digunakan tubuh untuk memulihkan diri justru menjadi waktu yang kita rebut kembali demi merasa hidup.
Tidak berhenti di sana, kondisi ini turut diperparah dengan pengaruh tekanan tak kasat mata yang seolah membuat kita merasa melewatkan sesuatu jika tidur lebih cepat. Begadang menjadi jalan yang kita pilih untuk mengejar ketertinggalan dan membuktikan bahwa kita mampu. Di sisi lain, tidak sedikit dari kita yang justru merasa bersalah jika tidur lebih awal. Melihat orang lain masih bekerja hingga larut malam membuat kita takut dianggap kalah produktif. Hingga tanpa disadari, muncul anggapan bahwa semakin sedikit waktu tidur, semakin besar pula peluang untuk meraih kesuksesan.
Saya pribadi pernah berpikir bahwa satu malam begadang tidak akan berdampak apa-apa. Namun, nyatanya kebiasaan begadang itu terus berlanjut hingga menjadi rutinitas. Sampai ketika tubuh saya benar-benar tumbang, saya baru menyadari bahwa semua itu tak ada artinya. Target yang saya kejar malah berhenti total sebab tubuh menagih haknya untuk beristirahat. Begadang yang awalnya saya harapkan bisa meningkatkan produktivitas justru membuat saya kehilangan banyak waktu, pekerjaan menjadi tertunda, bahkan mengeluarkan biaya tak terduga untuk berobat.
Di titik ini, mungkin yang perlu kita sadari adalah kita boleh saja mengejar sesuatu dengan usaha keras atau mencoba menikmati hidup dengan mencari kesenangan ketika orang-orang sedang beristirahat. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa tubuh pada akhirnya akan meminta haknya untuk beristirahat. Jika kita terus mengabaikannya, tubuh kitalah yang akan menagihnya secara paksa—dan saat itu terjadi, maka kita yang akan kehilangan kendali.
Jadi, Sobat Yoursay, saat memaksa tubuh terus terjaga di malam hari, sebenarnya apa yang sedang kita kejar mati-matian? Masa depan yang lebih baik, atau sekadar target yang membuat kita lupa bahwa tubuh kita juga punya batas?
Baca Juga
-
Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari
-
6 Rekomendasi Drakor dengan Kisah Penuh Intrik dan Manipulasi
-
Saat Hidup Terasa Melelahkan, 5 Lagu Ini Jadi Pengingat untuk Berhenti Sejenak
-
Lagu 'Bahagia Lagi' Mengingatkan bahwa Gagal Tak Berarti Kehilangan Harapan
-
Konten Edukasi Finansial: Menambah Wawasan atau Malah Bikin Cemas?
Artikel Terkait
-
Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
-
Siklus Finansial Gen Z: Gaji Belum Masuk, Tagihan Sudah Antre Paling Depan
-
AI Mengubah Cara Kerja Generasi Muda: Peluang atau Malah Ancaman?
-
Traveling atau Menambah Tabungan? Dilema Gen Z saat Punya Uang Lebih
-
Di Balik Layar Algoritma: Bagaimana Media Sosial Mempelajari Kebiasaanmu
Kolom
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tak Harus Nunggu Teman: Seni Menemukan Ketenangan Lewat Solo Date
-
Fenomena Gamer Rage: Saat Caci Maki dan Perundungan di Gim Dianggap Wajar
-
Perundungan Bukan Sekadar Candaan, Dehumanisasi Terus Terjadi pada Korban
-
Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita
Terkini
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara