Istilah "asbun Gen Alpha" tentu tidak asing lagi di media sosial. Sebutan ini semakin populer seiring banyaknya orang tua yang membagikan tingkah spontan anak-anak mereka di berbagai platform.
Istilah yang merupakan singkatan dari "asal bunyi" itu biasanya digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang melontarkan pertanyaan nyeleneh, komentar yang di luar dugaan, hingga celetukan yang terdengar seperti ucapan orang dewasa. Semuanya sering dianggap lucu dan menghibur sehingga mudah viral.
Di sisi lain, saya mulai melihat ada pergeseran makna yang patut diperhatikan. Istilah "asbun" tidak lagi sekadar menggambarkan spontanitas anak, tetapi perlahan dipakai untuk memaklumi hampir semua ucapan mereka.
Lantas, sampai di mana batas antara keluguan anak dan perilaku yang memang perlu diarahkan?
Spontanitas Anak Bukan Pembenaran atas Semua Ucapannya
Saya tidak memungkiri bahwa anak-anak memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka sering bertanya tentang hal-hal yang terdengar aneh, berbicara tanpa banyak pertimbangan, atau mengungkapkan apa yang ada di pikirannya secara spontan.
Dari sudut pandang perkembangan otak, hal itu memang wajar. Kemampuan mereka untuk mengendalikan impuls belum berkembang sepenuhnya sehingga proses menyaring ucapan pun belum sebaik orang dewasa.
Oleh karena itu, anak bisa saja bertanya kepada orang asing mengapa rambutnya putih, mengapa tubuh seseorang berbeda, atau mengapa ada orang yang bekerja di jalan. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali muncul bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena rasa penasaran yang besar.
Namun, saya rasa kita juga perlu membedakan spontanitas dengan kebiasaan bertutur yang tidak menghargai orang lain.
Ketika seorang anak mulai terbiasa mengejek fisik, memanggil orang dengan sebutan yang merendahkan, atau mengucapkan kata-kata kasar, itu seharusnya menjadi alarm.
Di balik kata-kata yang dilontarkan, ada proses belajar yang sedang berlangsung, dan proses itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya.
Ucapan Anak-anak Adalah Cerminan Lingkungannya
Anak adalah peniru yang sangat baik. Sebelum memahami mana yang benar dan salah, mereka lebih dulu menyerap apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari.
Cara orang tua berbicara, candaan di rumah, percakapan di sekolah, hingga konten media sosial yang mereka tonton perlahan menjadi bagian dari kosakata mereka.
Itulah sebabnya saya selalu merasa kurang tepat jika semua perilaku anak langsung diberi label "asbun", karena ada kemungkinan anak sedang meniru bahasa yang selama ini dianggap lumrah oleh orang-orang di sekitarnya.
Kita tentu pernah melihat video anak kecil yang berani menyebut orang lain "jelek", "gendut", "miskin", atau bahkan mengumpat.
Ironisnya, tidak sedikit orang dewasa yang justru tertawa, merekam, lalu mengunggahnya ke media sosial karena dianggap menghibur. Respons seperti ini tanpa disadari mengirimkan pesan kepada anak bahwa ucapan tersebut bukan masalah.
Etika Bertutur Tetap Perlu Diajarkan sejak Dini
Menurut saya, menjaga kepolosan anak bukan berarti membiarkan semua ucapannya mengalir tanpa arahan. Anak memang berhak bertanya, berekspresi, dan mengemukakan pendapatnya. Namun, mereka juga perlu belajar bahwa setiap kata memiliki konsekuensi dan dampak bagi orang lain.
Mengajarkan etika bertutur bukan berarti membungkam kreativitas atau rasa ingin tahu anak. Justru anak bisa tetap menjadi pribadi yang kritis, berani berbicara, dan penuh imajinasi tanpa harus melukai orang lain lewat ucapannya.
Dengan kata lain, mereka hanya perlu dibimbing untuk memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana sebuah kalimat sebaiknya disampaikan.
Orang tua, guru, dan lingkungan memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh bagaimana berbicara dengan santun, menghargai perbedaan, dan berempati terhadap orang lain.
Fenomena "asbun Gen Alpha" memang menarik untuk dibahas karena menunjukkan betapa uniknya cara anak memandang dunia. Namun, saya berharap istilah itu tidak berubah menjadi tameng yang membuat kita berhenti mengoreksi perilaku yang memang perlu diarahkan.
Baca Juga
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
Ulasan Brain Works: Mengungkap Aksi Kriminal Melalui Perspektif Neurosains
-
Ulasan Queen of Masks: Menyingkap Topeng Manusia dalam Pusaran Ambisi
-
Bersyukur atau Terpaksa? Dilema Bertahan di Tengah Upah yang Tak Layak
-
Rakyat Nunggak Pajak Kena Denda, Apa Sanksi Jika Pemerintah Gagal Kelola?
Artikel Terkait
-
Bukan Bengkel Perbaikan! Pesantren Tak Bisa Gantikan Peran Orang Tua
-
Khawatir Masa Depan Anak di Era AI? Ini Rahasia Menyiapkannya Menjadi Lifelong Learner
-
Kasus Eksploitasi Anak 'Tenda Biru' Bukan Dipicu Postingan Viral WN Jepang
-
Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar
-
Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal
Kolom
-
Makan Bergizi Gratis: Program Gizi atau Program Pencipta Lapangan Kerja?
-
Bukan Bengkel Perbaikan! Pesantren Tak Bisa Gantikan Peran Orang Tua
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
Terkini
-
Rumah Kosong di Banjarmasin Jadi Saksi Bisu: Mengapa 'Ngelem' Kembali Marak di Kalangan Remaja?
-
Membongkar Mitos Kecantikan dan Tragedi Perempuan dalam Cantik itu Luka
-
Post Kantoor Cikini, Restoran Vintage di Bekas Kantor Pos Zaman Belanda
-
4 Mix and Match OOTD Dark Streetwear ala Seonghwa ATEEZ, Modis Tanpa Ribet!
-
Prancis vs Maroko: Mengapa Penunjukan Wasit Argentina Menuai Polemik Pencinta Sepak Bola?