Di banyak keluarga Indonesia, kita masih sering mendengar nasihat yang kini terdengar janggal. Tidak usah banyak makan telur, nanti bisulan. Anak kecil tidak perlu lauk mahal, dulu cukup singkong dan garam juga besar.
Bahkan ada anggapan bahwa ikan atau daging adalah makanan mewah yang tidak perlu dikonsumsi setiap hari.
Ungkapan semacam ini sering dianggap sebagai petuah orang tua. Padahal, jika ditinjau dari ilmu gizi modern, sebagian besar merupakan mitos yang justru dapat menghambat pemenuhan nutrisi keluarga.
Ada yang berpendapat bahwa pola pikir tersebut merupakan warisan dari masa kolonial. Teori ini memang kerap beredar di masyarakat, tetapi hingga kini belum memiliki bukti sejarah yang kuat untuk menyatakan bahwa pemerintah kolonial secara sengaja mendoktrin perempuan Indonesia agar menghindari makanan bergizi demi melemahkan generasi bangsa. Karena itu, klaim tersebut perlu disikapi secara hati-hati.
Namun, satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa penjajahan meninggalkan kemiskinan struktural yang berlangsung sangat lama. Dalam kondisi serba kekurangan, masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan yang tersedia, bukan makanan yang ideal secara gizi. Singkong, ubi, jagung, atau nasi dengan garam menjadi pilihan karena keterbatasan ekonomi, bukan karena dianggap lebih sehat daripada telur, ikan, atau daging.
Masalah muncul ketika pola bertahan hidup itu diwariskan sebagai "nasihat kesehatan". Apa yang dahulu merupakan strategi menghadapi kemiskinan perlahan berubah menjadi keyakinan turun-temurun. Akibatnya, generasi berikutnya menganggap makanan bergizi sebagai sesuatu yang tidak penting atau bahkan berbahaya.
Fenomena ini masih dapat dijumpai hingga sekarang. Tidak sedikit orang tua yang membatasi konsumsi telur karena takut kolesterol atau bisulan, padahal penelitian menunjukkan bahwa telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik bagi pertumbuhan anak. Ada pula keluarga yang lebih mengutamakan rasa kenyang daripada kualitas gizi karena menganggap yang penting anak tidak kelaparan.
Padahal, persoalan gizi bukan sekadar menghilangkan lapar. Protein, zat besi, vitamin, dan mineral memiliki peran besar dalam perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga pertumbuhan fisik. Kekurangan zat gizi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko stunting, menurunkan kemampuan belajar, serta memengaruhi produktivitas ketika dewasa.
Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan hanya meningkatkan akses terhadap pangan bergizi, tetapi juga mengubah pola pikir yang sudah mengakar selama puluhan tahun. Edukasi mengenai gizi harus menjangkau keluarga hingga tingkat paling dasar, terutama ibu dan ayah sebagai pengambil keputusan dalam penyediaan makanan di rumah. Informasi yang benar perlu menggantikan mitos yang terus diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar. Edukasi saja tidak cukup jika harga pangan bergizi masih sulit dijangkau sebagian masyarakat. Program pemenuhan gizi harus diiringi dengan kebijakan yang menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sumber protein seperti telur, ikan, susu, dan daging. Dengan demikian, masyarakat tidak dipaksa memilih antara kebutuhan ekonomi dan kesehatan keluarga.
Warisan masa lalu memang dapat memengaruhi cara berpikir suatu masyarakat. Namun, tidak semua kebiasaan lama harus dipertahankan. Yang perlu diwariskan adalah semangat bertahan hidup, bukan keterbatasan yang dahulu dipaksakan oleh keadaan.
Generasi Indonesia hari ini membutuhkan pengetahuan yang didasarkan pada ilmu, bukan sekadar mitos yang terus diulang. Sebab, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa lama sebuah nasihat bertahan, melainkan oleh keberanian kita mengevaluasi apakah nasihat itu masih benar untuk diterapkan pada zaman sekarang.
Baca Juga
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
-
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun
-
Kekerasan Seksual di Pesantren, Mengapa Terus Terjadi Objektifikasi
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
Terkini
-
Akhir Era Naik Kelas Otomatis: Mendikdasmen Kaji Ulang Kebijakan Demi Cegah Fenomena RMS
-
Sinopsis Whisper of Time, Drama China Dibintangi Huang Xuan dan Liu Hao Cun
-
Sinopsis The Exorcist: Martyrs, Scarlett Johansson Hadapi Pembunuh Berantai
-
Captain Tsubasa: Rising Sun FINALS Kembali, Menuju Klimaks Madrid Olympics
-
Kereta Terakhir Pukul Sembilan Malam