Bagi sebagian masyarakat urban yang hidup dalam lingkaran kenyamanan fasilitas kota, durasi perjalanan selama empat jam mungkin dipandang sebagai alokasi waktu yang pas untuk menikmati dua judul film teranyar di dalam ruang bioskop berpendingin udara.
Namun, bagi masyarakat yang bermukim di sebuah wilayah pedalaman yang kita sebut saja sebagai Desa Kelok Sunyi, bentangan waktu empat jam adalah sebuah pertaruhan fisik dan psikologis yang teramat mahal.
Waktu tersebut harus mereka habiskan di atas jok kendaraan, melintasi jalur darat yang kondisinya jauh lebih menyerupai wahana uji nyali ekstrem daripada sebuah fasilitas publik yang layak bagi manusia merdeka.
Terletak di ujung terluar dari sebuah wilayah kabupaten yang dalam pidato resmi konon katanya sedang gencar membangun, desa ini seolah dikutuk menjadi wilayah yang sengaja "dianaktirikan" oleh konvoi kemajuan zaman. Di ruang geografi ini, lupakan kemewahan untuk sekadar melakukan aktivitas penelusuran (scrolling) media sosial dengan lancar.
Akses jaringan internet di Kecamatan Pedalaman Jauh, wilayah administratif yang membawahi desa ini telah lama diklasifikasikan ke dalam kategori barang mewah yang kondisinya sedang sekarat. Untuk terhubung dengan peradaban luar, warga lokal terpaksa menggantungkan hidup pada voucer Wi-Fi pinggir jalan yang pasokan kecepatannya kerap kali menuntut tingkat kesabaran setara dengan seorang sufi yang sedang bertapa.
Namun, di tengah segala potret keterbatasan infrastruktur dasar yang memprihatinkan tersebut, sebuah pemandangan janggal mendadak menghentikan langkah kaki saya saat melakukan observasi lapangan dalam program KKN di desa ini.
Di atas hamparan tanah yang kondisi jalannya masih hancur lebur dan sinyal selulernya timbul tenggelam bak hantu, berdiri dengan tegak, kokoh, dan berwibawa sebuah lembaga keuangan formal: Koperasi Merah Putih.
Sungguh sebuah fragmen teater komedi satir yang luar biasa sempurna dipamerkan di depan mata.
Koperasi Mendahului Aspal: Ketika Logika Pembangunan Terbalik
Nalar kritis mana yang tidak bergolak menyaksikan anomali sosiologis ini? Bagaimana mungkin sebuah sistem lembaga keuangan formal mampu meretas dan menembus medan berat empat jam perjalanan darat yang ekstrem, sementara hamparan aspal jalanan yang mulus dan pembangunan menara telekomunikasi kedapatan tersangkut entah di meja dinas mana? Pihak penyedia jasa jaringan seluler swasta maupun jajaran dinas pekerjaan umum setempat rasanya mutlak perlu mengambil kelas kilat dan berguru secara intensif kepada manajemen koperasi ini.
Mereka harus belajar tentang bagaimana kiat-kiat konkret untuk "hadir, berekspansi, dan melayani" di daerah pelosok tanpa banyak alasan geografis. Dalam benak saya yang mulai dirongrong rasa sinis, saya hanya bisa membatin: “Mungkin koperasi inilah pahlawan peradaban sejati di desa ini, hahah.”
Kehadiran lembaga keuangan yang mendahului hak pelayanan publik ini bertindak layaknya sebuah tamparan keras bagi logika perencanaan pembangunan kita.
Negara, melalui perpanjangan tangan pemerintah daerah, seolah-olah secara legal diizinkan absen untuk urusan pemenuhan kebutuhan primer warga, seperti akses jalan yang aman dan kemudahan distrubusi informasi.
Namun, anehnya, begitu konstelasi berganti ke urusan sirkulasi perputaran uang, penawaran pinjaman kapital, atau pemenuhan formalitas administratif perbankan, entah lewat keajaiban skema apa sistem birokrasinya dapat bekerja dengan sangat kilat hingga menyentuh batas ujung kabupaten.
Padahal, jika kita mau menengok potensi alamnya secara objektif, daerah terpencil ini sama sekali bukanlah wilayah miskin yang tidak menghasilkan apa-apa.
Desa Kelok Sunyi pada hakikatnya adalah sebuah fragmen surga komoditas musiman. Mulai dari buah durian, langsat, hingga rambutan tumbuh subur tanpa perlu banyak rekayasa.
Lebih jauh lagi, tanahnya juga menjadi rumah bagi komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi di pasar global, seperti nilam, cengkih, dan kakao. Hasil bumi yang melimpah ruah ini secara teoretis seharusnya lebih dari cukup untuk mentransformasikan kesejahteraan hidup warga lokal ke tingkat yang maksimal.
Sayangnya, seluruh potensi ekonomi setingkat "surga" tersebut terpaksa tunduk dan takluk pada realitas "neraka" jalur distribusi akibat hancurnya akses jalan. Warga terus-menerus kesulitan menjual hasil bumi mereka dengan harga yang layak dan kompetitif, semata-mata karena margin keuntungan mereka habis tercekik oleh biaya logistik transportasi yang teramat mahal.
Apatisme Akar Rumput: Bukti Paling Jujur dari Janji yang Menguap
Lantas, bagaimanakah respons kognitif yang ditunjukkan oleh warga lokal terhadap ketimpangan struktural ini? Di lapangan, tidak ada riuh rendah tepuk tangan apresiasi, tidak ada pula demonstrasi massa yang membakar ban di jalanan.
Mayoritas masyarakat desa memilih bersikap biasa saja, dingin, dan cenderung mengadopsi sikap apatis. Sikap diam yang diadopsi oleh kelompok komunal ini sama sekali bukan karena mereka bodoh atau tidak tahu bahwa ada sesuatu yang janggal sedang terjadi di atas tanah mereka. Mereka sangat paham. Namun, pada level psikologis, mereka telah berada pada titik kulminasi lelah yang teramat akut.
Ada rasa malas dan kepasrahan yang menancap jauh ke dalam relung batin mereka; sebuah kesimpulan pedih nan melankolis yang berbunyi: "Untuk apa kita repot-repot melayangkan protes? Kita ini hanyalah sebatas warga dari desa terpencil yang tidak punya kuasa apa-apa."
Sikap apatisme radikal ini adalah bukti empiris paling jujur bahwa masyarakat pelosok sudah terlanjur kenyang disuapi oleh janji-janji manis politik kepemiluan yang selalu berakhir menguap bersama debu jalanan yang mereka hirup setiap hari.
Melalui esai opini ini, sudah saatnya kita mengetuk pintu kesadaran hati pemerintah daerah di mana pun berada, khususnya bagi para pemangku kebijakan yang wilayah administratifnya memiliki daerah pedalaman terisolasi. Sudahlah, kurangi dulu porsi fokus yang berlebihan pada proyek-proyek estetika kosmetik, seperti mempercantik lorong-lorong di pusat kota atau membangun taman swafoto tiruan demi sekadar memburu pemenuhan citra visual di media sosial.
Esensi pembangunan yang berkeadilan itu sama sekali tidak diukur dari seberapa mengkilapnya hamparan jalan raya di depan kantor bupati, melainkan dari seberapa merata dan adilnya akses infrastruktur yang dihantarkan hingga ke desa-desa di ujung garis perbatasan.
Warga di wilayah pelosok tidak pernah mendesak butuh pada formalitas lembaga keuangan yang datang mendahului hak-hak dasar hidup mereka. Yang mereka tuntut hari ini adalah hamparan aspal yang kokoh agar durian, kakao, dan cengkih mereka dapat didistribusikan ke pasar dengan harga yang memanusiakan keringat.
Mereka butuh pancaran sinyal internet yang lancar agar anak-anak mereka tidak tertinggal dan tereliminasi dari dinamika dunia luar. Jangan sampai jargon agung "pemerataan pembangunan" hanya berakhir menjadi bahan lawakan getir berikutnya yang harus ditelan bulat-bulat oleh masyarakat pedesaan.
Baca Juga
-
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
-
Petaka Cinta Lintas Planet: Kala Dahlan Menjadi Mak Comblang
-
Review Toko Buku Gerbang Kota: Ketika Buku Menjadi Penyembuh Kesepian
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
-
Runtuhnya Republik Marilah Cerita Sebelum Fajar Tiba
Artikel Terkait
Kolom
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden
-
Fear of Falling Behind dan Gen Z: Semua Orang Terlihat Sukses, Aku Kapan?
-
Hujan Tidak Mengganggu Kerjamu, Hujan Justru Mengajakmu untuk Berhenti Sejenak
-
Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia
-
Ironi Demokrasi: Ketika Pembelaan Hanya Milik Mereka yang Berkuasa
Terkini
-
Sinopsis Legal Beat: Gyakuten no Houtei, Drama Jepang Terbaru Suzuka Ouji
-
Review Novel Octopus Moon: Kisah Menyentuh tentang Depresi pada Anak
-
4 Daily OOTD Urban Streetwear ala Choi San ATEEZ, Nyaman dan Fashionable!
-
4 Ide OOTD Minimalist Casual ala Seo Su Min yang Timeless dan Youthful!
-
Mengapa Remake '402 Rumah Sakit Angker' Gagal Memikat Seperti Gonjiam Versi Asli?