Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Pidato Presiden. (instagram.com/prabowo)
Taufiq Hidayat

Menyaksikan dan menyimak bait demi bait pidato seorang pemimpin tertinggi negara secara historis telah menjadi sebuah ritus kultural bagi masyarakat. Melalui pancaran corong pelantang suara di atas podium resmi, rakyat menanti dengan takzim: sebuah pemaparan visi yang benderang, peta jalan kebijakan yang terukur, serta pancaran ketenangan berwibawa yang tereflesi dari setiap diksi yang diartikulasikan.

Namun, dalam lanskap politik akhir-akhir ini, ritus yang semula dinilai sakral itu perlahan bergeser menjadi sebuah momen menegangkan yang memaksa publik menahan napas dalam-dalam. Kita terpaksa menahan napas bukan karena terpesona oleh kedalaman visi yang ditawarkan, melainkan karena dirundung kecemasan akut perihal "kesalahan fatal" atau blunder verbal apa lagi yang akan meluncur spontan dari bibir sang penguasa selanjutnya.

Di tengah kegelisahan yang membiak itu, sebuah pertanyaan skeptis bernada menggugat jamak berseliweran di ruang publik: apakah di lingkaran birokrasi kepresidenan tidak ada lagi tim kerja profesional yang bertanggung jawab menyusun naskah pidato (speechwriter)?

Secara sistemik dan institusional, kita tentu mafhum bahwa seorang kepala negara senantiasa dikelilingi oleh jajaran dewan pakar yang elitis, mulai dari teknokrat komunikasi, ekonom senior, budayawan, hingga juru bicara strategis. Mereka dibayar oleh keringat pajak rakyat dengan satu tugas yang teramat purba: memastikan bahwa setiap kata yang diproduksi oleh sang pemimpin memiliki bobot intelektual, akurasi data yang valid, serta impak psikologis yang tepat bagi stabilitas peradaban.

Namun, cetak biru ideal itu nyatanya kerap kali membentur realitas yang bertolak belakang di lapangan. Pesan-pesan kenegaraan yang seharusnya bernada visioner dan penuh kebijaksanaan, secara tragis berulang kali terdistorsi oleh letupan ucapan spontan (off-the-cuff remarks) yang melompat jauh dari substansi inti kebijakan publik.

Nalar kritis kita sempat dipaksa mengernyit heran ketika di tengah badai depresiasi nilai tukar rupiah yang melemah, respons yang keluar dari lisan seorang pemimpin justru berupa simplifikasi dangkal: "orang di desa tidak pakai dolar kok". Anomali verbal ini kian mencapai titik nadirnya ketika diksi bernada kurang elok dan peyoratif seperti "endasmu" dengan ringannya diucapkan dalam ruang pidato resmi. Bagi seorang negarawan, seni memilih kata (diction) bukan sekadar urusan estetika kebahasaan, melainkan sebuah manifestasi paling benderang dari marwah dan martabat jabatan yang diembannya.

Gugatan Terhadap Intellectual Humility dan Paradoks Autentisitas

Ketika untaian kalimat yang tunaetika itu telanjur diproduksi dan dipamerkan dari atas podium kenegaraan yang agung, masyarakat secara logis berhak melayangkan kecurigaan: apakah tim ahli di sekeliling istana telah mengidap apatisme akut sehingga membiarkan sang raja tampil telanjang, ataukah memang sang Presiden sendiri yang merasa tidak lagi memiliki kewajiban moral untuk menjaga keadaban berbahasa di hadapan rakyatnya?

Di balik kabut misteri ini, muncul sebuah dialektika yang menantang: apakah dokumen rancangan pidato yang disusun oleh tim ahli itu memang berkualitas buruk, ataukah sang pemimpin yang mengidap delusi "terlalu cerdas" sehingga merasa haram hukumnya untuk patuh pada teks yang telah distandardisasi?

Dalam diskursus ilmu kepemimpinan moderen, ada garis demarkasi yang teramat tebal dan jelas antara aspek autentisitas (keaslian karakter) dengan aspek kapabilitas (kemampuan manajerial). Hasrat seorang pemimpin untuk tampil apa adanya, merakyat, dan "sejati" di hadapan konstituen memang merupakan sebuah strategi politik pencitraan yang memiliki daya pikat magis tersendiri.

Namun, ketika narasi "autentisitas" itu dipaksakan hadir dengan cara menabrak pagar-pagar etika dan kesantunan publik, maka produk yang lahir ke permukaan bukanlah kewibawaan yang karismatik, melainkan sebuah anjloknya citra diri dari predikat seorang negarawan sejati.

Ibarat seorang petani yang sedang menyemai bulir-bulir padi di sawah, kata-kata yang diucapkan oleh seorang pemimpin adalah benih ideologis. Jika benih yang sengaja Anda tanam di atas podium adalah ketidaksopanan, simplifikasi masalah, dan kebingungan naratif, maka jangan pernah terkejut jika kelak hasil panen yang dituai oleh bangsa ini hanyalah kegelisahan sosial dan pembodohan massal di akar rumput.

Falsafah Siri’ dan Degradasi Etika Komunikasi Publik

Jika kita bersedia menengok kembali khazanah nilai-nilai kearifan lokal Nusantara, seperti yang termaktub dalam kosmologi filosofi kepemimpinan etnis Bugis, kata-kata yang keluar dari mulut seorang pemimpin adalah cerminan absolut dari harga diri, martabat (siri’), dan integritas kemanusiaannya. Di bawah payung falsafah ini, ucapan pemimpin bukan sekadar embusan angin atau suara tanpa makna; ia adalah sebuah sumpah sakral, sebuah maklumat hukum yang mengikat dan menentukan nasib hidup mati orang banyak.

Oleh karena itu, sungguh merupakan sebuah tragedi kebudayaan yang teramat memilukan ketika mimbar kenegaraan yang sakral justru direduksi fungsinya menjadi arena panggung improvisasi liar yang tidak hanya nir-substansi, melainkan juga merobek-robek pakem etika komunikasi publik.

Jika tim penulis naskah istana telah memeras keringat dan pikiran untuk menyiapkan naskah terbaik yang kaya akan narasi strategis, lalu mengapa filter institusional itu selalu menemui kegagalan sistemik saat sang pemimpin berdiri di depan pengeras suara? Apakah jajaran staf dan menteri di sekeliling Presiden sudah terlampau lelah dan dihantui ketakutan untuk sekadar melayangkan teguran, ataukah memang pemimpin kita sedang sangat menikmati peran barunya sebagai seorang penguasa absolut yang merasa tidak lagi membutuhkan panduan skrip?

Pada konklusinya, kita sebagai sebuah bangsa harus menyadari dengan kesadaran penuh bahwa podium kenegaraan bukanlah sebuah panggung stand-up comedy yang menuntut gelak tawa penonton, bukan pula ruang curahan hati (curhat) privat yang menuntut pemakluman emosional dari publik. Podium itu adalah ruang bagi artikulasi kebijakan yang menentukan arah peradaban.

Rakyat hari ini tidak lagi membutuhkan sosok pemimpin yang piawai melontarkan kalimat kasar, diksi "unik", atau selorohan kontroversial, yang ironisnya esok pagi harus sibuk diklarifikasi dan diluruskan ulang oleh para menterinya demi meredam gejolak pasar.

Rakyat hanya merindukan seorang pemimpin yang menaruh hormat pada setiap kata yang diucapkannya sendiri, serta sebuah sistem komunikasi kepresidenan yang kokoh yang mampu menjaga agar naskah pidato tetap tegak berdiri sebagai fondasi kebijakan, bukan sekadar lembaran kertas pajangan yang terbuang sia-sia di bawah kaki podium.