Era media sosial telah membuka berbagai peluang baru bagi para kreator dan artis untuk mendapatkan pemasukan. Setelah sebelumnya mengandalkan iklan, endorsement, dan kerja sama dengan berbagai merek, kini mereka memiliki alternatif lain melalui fitur Instagram Exclusive atau Instagram Subscriptions.
Lewat fitur ini, penggemar dapat membayar biaya langganan bulanan untuk menikmati konten yang hanya bisa diakses oleh subscriber, mulai dari Stories, Live, hingga unggahan di balik layar kehidupan sang artis.
Biaya langganannya pun bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah setiap bulan. Nominal tersebut mungkin terasa kecil bagi sebagian orang.
Namun, ketika jumlah pelanggannya mencapai ribuan, pemasukan yang diterima seorang artis bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Yang menarik untuk dibahas adalah begitu banyak orang rela mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan akses yang sedikit lebih dekat dengan kehidupan seseorang yang bahkan mungkin tidak mengenal mereka.
Parasocial Relationship di Era Media Sosial
Fenomena ini berkaitan dengan konsep parasocial relationship, yaitu hubungan satu arah ketika seseorang merasa memiliki kedekatan, keterikatan, atau rasa mengenal terhadap figur publik yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengannya.
Menurut Psychology Today, hubungan semacam ini biasanya terjadi antara penggemar dengan selebriti atau figur publik, di mana rasa dekat tersebut lebih banyak terbentuk dalam pikiran individu tanpa adanya hubungan timbal balik yang nyata.
Di era media sosial, fenomena tersebut menjadi semakin kuat. Kehadiran Instagram membuat penggemar tidak hanya melihat karya seorang artis, tetapi juga mengikuti kehidupan pribadi, kebiasaan, hingga aktivitas sehari-hari mereka.
Interaksi seperti membalas komentar, melakukan siaran langsung, atau membagikan cerita pribadi membuat batas antara figur publik dan penggemar terasa semakin dekat. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan melalui fitur seperti Instagram Exclusive.
Eksklusivitas Selalu Menemukan Pembelinya
Saya juga melihat bahwa Instagram Exclusive memanfaatkan satu hal yang sangat kuat dalam dunia digital, yaitu keinginan manusia untuk menjadi bagian dari kelompok yang istimewa.
Subscriber mendapatkan lencana khusus, bisa mengikuti Live yang lebih terbatas, atau melihat aktivitas harian yang tidak diunggah ke akun publik.
Semua itu menciptakan kesan bahwa mereka memiliki akses yang lebih istimewa dibanding pengikut lainnya. Perasaan "lebih dekat" inilah yang memiliki nilai ekonomi.
Di sisi lain, model bisnis seperti ini sangat menguntungkan. Penghasilan tidak lagi bergantung pada jumlah penonton iklan atau kerja sama dengan merek. Selama penggemar tetap membayar setiap bulan, pemasukan akan terus mengalir.
Bagi artis, ini adalah sumber pendapatan yang stabil. Bagi platform, semakin banyak pengguna yang berlangganan, semakin tinggi pula aktivitas di dalam aplikasi.
Di Tengah Ekonomi Sulit, Mengapa Konten Artis Tetap Laku?
Saya merasa media sosial telah mengalami perubahan yang cukup besar. Dulu, media sosial identik dengan ruang berbagi pengalaman, cerita, atau aktivitas sehari-hari. Kini, banyak aspek kehidupan pribadi justru berubah menjadi produk yang memiliki harga.
Saya tidak mempermasalahkan artis yang memanfaatkan peluang tersebut. Kalau ada pasar, tentu akan ada orang yang menawarkan produk. Yang membuat saya penasaran justru adalah perilaku konsumennya.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih membuat banyak orang berhitung sebelum mengeluarkan uang, ternyata tetap ada ruang bagi pengeluaran untuk melihat konten eksklusif seorang artis.
Namun, fenomena ini membuktikan bahwa yang membuat seseorang tertarik bukan hanya konten yang mereka dapatkan, tetapi juga rasa dekat dan pengalaman khusus yang ditawarkan.
Baca Juga
-
Cabbage Your Life: Potret Kehidupan Desa dan Makna Bahagia yang Sederhana
-
Tepung Singkong untuk Atasi Karhutla, Water Cannon untuk Redam Suara Rakyat
-
Bahasa Ngeles ala Pejabat dan Aparat: Ketika Istilah Mengaburkan Fakta
-
Sejak Ada MBG, Saya Tidak Percaya Negara Ini Tidak Punya Uang
-
Move to Heaven: Setiap Barang Punya Cerita, bahkan setelah Pemiliknya Tiada
Artikel Terkait
-
Temon Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Siang Ini, Jenazah Lebih Dulu Disemayamkan di GPIB Effatha
-
Bijak Bersosial Media: Kebebasan Berkomentar Bukan Lisensi untuk Melecehkan
-
Prabowo Wanti-wanti Masyarakat Tak Mudah Tertipu Konten Medsos: Banyak Pesanan Orang Berduit
-
Merasa Butuh Membeli Sesuatu? Bisa Jadi Kamu Cuma Terpengaruh Algoritma
-
Fear of Missing Content: Tren Media Sosial yang Diam-diam Bikin Gen Z Lelah
Kolom
-
Bukan Cuma RUU Perampasan Aset, Membaca Keresahan di Balik Demo 27 Agustus
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Paradoks Komunikasi dan Etika Birokrasi Pemangku Kepentingan
-
Saatnya Ganti Provider: Jaringan 5G Stabil Jadi Alasan Netizen Pindah ke XL
-
Rekening Diblokir Jelang Demo, Penegakan Hukum atau Pembungkaman?
Terkini
-
Sinopsis Unabomber, Kisah Nyata Mahasiswa Harvard Jadi Teroris Buronan FBI
-
Ulasan Film Operasi Pesta Copet: Aksi Komedi Heist Berlatar Festival Musik!
-
Auto Pede Pakai Tank Top! 5 Underarm Cream yang Merawat dan Mencerahkan
-
Mengulas Warisan Abadi Romcom Remaja dalam Film 10 Things I Hate About You
-
Sudah Tidur Lama Tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Kualitas Tidurmu Bermasalah