Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
llustrasi bekerja (unsplash/Edwin Tan)
Oktavia Ningrum

Di banyak lingkungan kerja, sekolah, bahkan organisasi, ada sebuah candaan yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Jangan kelihatan terlalu pintar, nanti kerjaanmu ditambah. 

Awalnya hanya nasihat bercampur candaan, namun perlahan berubah menjadi budaya. Tidak sedikit orang yang sengaja menyembunyikan kemampuan, berpura-pura tidak bisa, atau memilih bekerja sekadarnya agar tidak dibebani tanggung jawab lebih besar.

Yang lebih penting lagi, mengapa banyak orang menganggapnya sebagai strategi yang masuk akal?

Fenomena tersebut lahir bukan tanpa sebab. Di sebagian tempat kerja, karyawan yang rajin justru memperoleh pekerjaan lebih banyak tanpa diikuti penghargaan yang setimpal. Mereka yang menyelesaikan tugas lebih cepat sering diberi pekerjaan tambahan, sementara rekan yang bekerja lambat tetap memperoleh beban yang sama. Dalam situasi seperti itu, muncul persepsi bahwa menunjukkan kompetensi hanya akan membuat seseorang dieksploitasi. Akibatnya, sebagian orang memilih menurunkan performa secara sengaja demi menghindari tambahan pekerjaan.

Sekilas, strategi itu tampak menguntungkan. Beban kerja lebih ringan, tekanan berkurang, dan ekspektasi atasan tidak terlalu tinggi. Namun, manfaat tersebut sering kali hanya bersifat jangka pendek. Dalam jangka panjang, budaya berpura-pura tidak mampu justru dapat menjadi penghambat terbesar bagi perkembangan karier dan kualitas diri.

Kemampuan seseorang hanya dapat dikenali ketika ia berani menunjukkannya. Atasan, rekan kerja, maupun pihak lain tidak mungkin mengetahui potensi yang sengaja disembunyikan. Kesempatan mengikuti proyek strategis, promosi jabatan, pelatihan, bahkan rekomendasi pekerjaan biasanya diberikan kepada mereka yang terbukti mampu menyelesaikan tanggung jawab dengan baik. Jika seseorang terus membangun citra sebagai orang yang tidak kompeten, citra itulah yang pada akhirnya akan dipercaya oleh lingkungan sekitarnya.

Lebih jauh lagi, kebiasaan berpura-pura tidak mampu dapat mengikis kepercayaan diri. Semakin lama seseorang menahan potensinya, semakin kecil pula keberanian untuk mengambil tantangan baru. Ia terbiasa berada di zona nyaman, menghindari tanggung jawab, dan menolak kesempatan belajar. Padahal, hampir semua pencapaian besar lahir dari keberanian menerima tugas yang lebih sulit daripada sebelumnya.

Di sisi lain, budaya ini juga merugikan organisasi. Ketika banyak orang memilih bekerja di bawah kemampuan mereka, produktivitas menurun, inovasi melambat, dan pembagian kerja menjadi tidak sehat. Organisasi akhirnya kesulitan mengidentifikasi talenta terbaik karena kemampuan yang sesungguhnya sengaja disembunyikan. Akibatnya, promosi maupun pembagian tugas tidak lagi didasarkan pada kompetensi, melainkan pada siapa yang terlihat aktif atau sekadar hadir.

Tentu saja, persoalan ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan individu. Organisasi juga perlu melakukan introspeksi. Tidak adil apabila karyawan yang berkinerja tinggi terus dibebani pekerjaan tambahan tanpa penghargaan, insentif, atau peluang karier yang jelas. Sistem semacam itu memang dapat memunculkan rasa enggan untuk menunjukkan kemampuan terbaik. Oleh karena itu, penghargaan terhadap kinerja harus berjalan seiring dengan peningkatan tanggung jawab. Mereka yang berkontribusi lebih besar semestinya juga memperoleh pengakuan dan kesempatan berkembang yang lebih baik.

Namun demikian, memilih berpura-pura bodoh bukanlah solusi yang bijak. Strategi tersebut mungkin mengurangi pekerjaan hari ini, tetapi juga dapat mengurangi peluang esok hari. Dunia kerja tidak hanya mengingat siapa yang paling sedikit bekerja, tetapi juga siapa yang dapat diandalkan ketika tantangan datang. Reputasi sebagai pribadi yang kompeten sering kali menjadi modal yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan sesaat.

Pada akhirnya, budaya berpura-pura bodoh merupakan cerminan dari hubungan kerja yang belum sepenuhnya sehat. Di satu sisi, organisasi perlu menciptakan sistem yang menghargai kompetensi secara adil. Di sisi lain, setiap individu perlu menyadari bahwa menyembunyikan kemampuan sama saja dengan menutup pintu bagi kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali. Potensi yang terus disembunyikan tidak akan berkembang menjadi prestasi.

Sebab, peluang besar biasanya tidak datang kepada mereka yang sengaja terlihat biasa-biasa saja, melainkan kepada mereka yang berani menunjukkan kemampuan, menerima tantangan, dan membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan memang layak dipertahankan.