Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Orang Kaya (Unsplash/@lancereis)
Oktavia Ningrum

Di Indonesia, ada satu istilah yang hampir selalu bernada negatif. OKB, singkatan dari Orang Kaya Baru. Istilah ini jarang digunakan sebagai deskripsi yang netral. Sebaliknya, ia lebih sering menjadi label yang melekat pada seseorang yang dianggap baru memperoleh kekayaan lalu dinilai berlebihan dalam menampilkannya.

Namun, menarik untuk bertanya. Mengapa istilah ini begitu populer? Mengapa seseorang yang baru berhasil secara ekonomi justru sering menjadi sasaran ejekan?

Dan apakah label OKB benar-benar menggambarkan perilaku seseorang atau justru lebih banyak mencerminkan cara masyarakat memandang kesuksesan?

Secara sosiologis, setiap masyarakat memiliki mekanisme untuk menilai perubahan status sosial. Ketika seseorang mengalami peningkatan ekonomi secara cepat, perhatian publik terhadapnya juga meningkat. Sebagian mengagumi keberhasilannya, sebagian lagi mempertanyakan asal-usul kekayaannya, dan tidak sedikit yang langsung memberi cap OKB.

Padahal, menjadi kaya bukanlah sebuah kesalahan. Dalam sistem ekonomi yang sehat, mobilitas sosial justru menjadi tanda bahwa seseorang memiliki kesempatan memperbaiki kehidupannya melalui pendidikan, kerja keras, inovasi, investasi, atau kewirausahaan. Negara berkembang seperti Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu naik kelas secara ekonomi karena mereka berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Masalahnya, istilah OKB sering kali tidak lagi digunakan untuk mengkritik perilaku, melainkan untuk merendahkan identitas seseorang. Padahal, dua hal tersebut berbeda.

Jika seseorang bersikap arogan, meremehkan orang lain, atau memamerkan kekayaan secara berlebihan hingga mengganggu ruang publik, tentu perilaku itu dapat dikritik. Namun, kritik seharusnya diarahkan kepada perilakunya, bukan kepada fakta bahwa ia baru saja menjadi kaya.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang berasal dari keluarga berada selama beberapa generasi tetapi tetap bersikap rendah hati. Ada pula mereka yang baru sukses secara finansial namun menggunakan kekayaannya untuk membangun usaha, membuka lapangan kerja, atau membantu masyarakat. Kekayaan tidak otomatis menentukan karakter seseorang.

Di sisi lain, juga tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap kritik terhadap fenomena "OKB" lahir dari rasa iri. Motif seseorang bisa sangat beragam. Ada yang benar-benar mengkritik gaya hidup konsumtif, ada yang mempertanyakan etika dalam memperoleh kekayaan, dan ada pula yang memang didorong oleh kecemburuan sosial. Menyamakan seluruh kritik sebagai bentuk iri hati justru menyederhanakan persoalan yang lebih kompleks.

Yang patut menjadi perhatian adalah budaya kita yang terkadang lebih sibuk mengomentari simbol kekayaan dibanding membahas proses mencapainya.

Alih-alih bertanya bagaimana seseorang membangun usaha, mengelola risiko, atau bangkit dari kegagalan, percakapan publik sering berhenti pada merek mobil, tas, rumah, atau gaya berpakaian. Akibatnya, diskusi tentang kewirausahaan dan produktivitas kalah oleh gosip mengenai status sosial.

Di banyak komunitas bisnis, yang lebih sering dibicarakan justru peluang investasi, strategi mengembangkan usaha, cara menghadapi krisis, hingga membangun jaringan. Fokusnya adalah menciptakan nilai dan memperbesar peluang ekonomi. Budaya seperti ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai inspirasi dan kesempatan untuk belajar.

Sebaliknya, apabila masyarakat lebih banyak menghabiskan energi untuk menjatuhkan orang yang berhasil daripada memahami proses keberhasilannya, maka yang tumbuh adalah budaya saling curiga, bukan budaya bertumbuh.

Namun demikian, keberhasilan finansial juga membawa tanggung jawab. Kekayaan bukan hanya soal kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, menjaga etika, serta menggunakan sumber daya yang dimilikinya secara bertanggung jawab. Orang yang benar-benar mapan biasanya tidak perlu membuktikan statusnya melalui pengakuan orang lain.

Yang seharusnya menjadi ukuran bukanlah apakah seseorang termasuk orang kaya lama atau orang kaya baru. Yang lebih penting adalah apakah kekayaannya diperoleh dengan cara yang sah, dimanfaatkan secara produktif, dan tidak membuatnya kehilangan empati terhadap orang lain.

Mobilitas ekonomi adalah sesuatu yang patut dirayakan dalam masyarakat yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang. Namun, merendahkan mereka yang belum berhasil juga bukan cerminan kedewasaan. Begitu pula, mengejek mereka yang baru sukses hanya karena status ekonominya berubah tidak akan membuat siapa pun menjadi lebih sejahtera.

Karena pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang sibuk memberi label kepada orang yang berhasil. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menghargai kerja keras, menjunjung integritas, dan membuka ruang agar siapa pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya tanpa harus takut dicap hanya karena berhasil naik kelas.