M. Reza Sulaiman | Ridho Hardisk
Seseorang sedang persiapan berangkat ke luar negeri. (Magnific.com)
Ridho Hardisk

Belakangan ini, linimasa media sosial dipenuhi berbagai fenomena yang sekilas tampak tidak saling berkaitan. Ada perdebatan mengenai childfree, tren #KaburAjaDulu yang sempat menggaung dan mendorong anak muda mencari pekerjaan di luar negeri, keluhan tentang harga rumah yang semakin sulit dijangkau, hingga cerita tentang burnout akibat pekerjaan yang tak kunjung memberi rasa aman.

Ironisnya, fenomena-fenomena tersebut sering kali dipandang secara terpisah. Orang yang memilih tidak memiliki anak dianggap egois. Mereka yang ingin bekerja di luar negeri dicap kurang nasionalis. Sementara pekerja muda yang menolak budaya kerja berlebihan masih kerap diberi label "mental stroberi" atau dituduh tidak tahan tekanan.

Padahal, saya melihat semua itu mungkin berasal dari akar persoalan yang sama. Bukan karena generasi muda semakin malas atau kehilangan daya juang, melainkan karena mereka mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan benar-benar bisa menjadi lebih baik. Inilah krisis yang menurut saya jarang dibicarakan.

Kita terlalu sibuk memperdebatkan pilihan hidup anak muda, tetapi lupa bertanya mengapa pilihan-pilihan itu muncul secara bersamaan.

Goyahnya Rumus Sukses Tradisional

Lihat saja pola yang sedang terjadi. Harga rumah terus meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan. Persaingan kerja semakin ketat. Gelar pendidikan tinggi tidak lagi otomatis menjamin pekerjaan yang layak. Di sisi lain, kecerdasan buatan mulai mengubah banyak profesi, sementara kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) datang silih berganti dari berbagai sektor.

Dalam kondisi seperti itu, wajar jika banyak anak muda mulai mempertanyakan satu hal sederhana: apakah semua usaha yang mereka lakukan hari ini benar-benar akan membawa kehidupan yang lebih baik di masa depan? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Selama ini kita diajarkan sebuah rumus yang tampak pasti: belajar dengan baik, memperoleh pendidikan tinggi, bekerja keras, lalu perlahan membangun kehidupan yang mapan. Rumah, keluarga, dan masa depan seolah menjadi hasil yang tinggal menunggu waktu. Namun, rumus tersebut kini tidak lagi terasa sesederhana itu.

Banyak lulusan perguruan tinggi harus mengirim ratusan lamaran sebelum mendapat pekerjaan. Mereka yang sudah bekerja pun belum tentu mampu membeli rumah karena kenaikan harga properti jauh melampaui kemampuan pendapatan mereka. Bahkan sebagian pekerja yang telah membangun karier bertahun-tahun tetap tidak luput dari ancaman PHK. Ketidakpastian itu perlahan mengubah cara pandang terhadap masa depan.

Bagi sebagian orang, memiliki rumah bukan lagi target lima tahun, melainkan impian yang terasa semakin jauh. Menikah pun akhirnya ditunda karena kondisi finansial belum dianggap cukup stabil. Memiliki anak menjadi keputusan yang semakin berat karena biaya hidup dan pendidikan terus meningkat. Ketika kesempatan bekerja di luar negeri datang, banyak yang melihatnya sebagai jalan keluar yang lebih realistis daripada bertahan dengan harapan yang belum tentu terwujud di dalam negeri.

Semua keputusan itu sering dianggap sebagai persoalan karakter. Padahal, bisa jadi yang sedang berubah bukan karakter generasinya, melainkan cara mereka membaca realitas.

Psikolog Martin Seligman pernah memperkenalkan konsep learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang terus-menerus menghadapi situasi yang membuat usahanya terasa tidak menghasilkan perubahan berarti. Lama-kelamaan, mereka bukan berhenti karena malas, tetapi karena merasa hasil akhirnya tetap akan sama. Saya rasa konsep ini cukup relevan untuk memahami sebagian keresahan anak muda hari ini.

Bayangkan seseorang yang disiplin menabung setiap bulan untuk membeli rumah. Ketika tabungannya bertambah, harga rumah justru naik lebih cepat. Tahun berikutnya, kondisi yang sama kembali terulang. Setelah beberapa kali mengalami kenyataan serupa, rasa optimistis perlahan berubah menjadi keraguan. Bukan karena ia tidak ingin memiliki rumah, melainkan karena target tersebut terasa semakin sulit dijangkau.

Laporan Deloitte mengenai Gen Z dan Milenial dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar generasi muda. Banyak responden mengaku hidup dari gaji ke gaji tanpa memiliki ruang yang cukup untuk membangun keamanan finansial jangka panjang.

Di Indonesia, kondisi ini diperkuat oleh data BPS yang menunjukkan masih tingginya jumlah anak muda yang masuk kategori Not in Employment, Education, or Training (NEET). Di saat yang sama, berbagai survei kesehatan mental menunjukkan bahwa kecemasan terhadap masa depan menjadi salah satu tekanan yang paling sering dirasakan remaja dan dewasa muda.

Gejala Global: Dari Tang Ping hingga Quiet Quitting

Yang menarik, perubahan ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Korea Selatan muncul istilah Sampo Generation, yaitu generasi yang memilih melepaskan impian untuk berpacaran, menikah, dan memiliki anak karena tekanan ekonomi.

Di China berkembang fenomena Tang Ping atau "rebahan" sebagai bentuk penolakan terhadap budaya kerja yang dianggap tidak lagi memberikan kehidupan yang layak. Di Amerika Serikat dan Eropa, tren quiet quitting menjadi simbol perlawanan terhadap budaya kerja yang menguras tenaga tanpa jaminan keseimbangan hidup.

Artinya, persoalan ini bukan sekadar masalah satu negara, melainkan gejala global yang memperlihatkan bagaimana banyak anak muda mulai mempertanyakan hubungan antara kerja keras dan kualitas hidup. Karena itu, saya kurang sepakat jika semua keresahan generasi muda hari ini disederhanakan menjadi persoalan mental yang lemah.

Faktanya, banyak dari mereka justru memiliki lebih dari satu pekerjaan, mengikuti berbagai pelatihan, membangun usaha sampingan, hingga terus belajar keterampilan baru agar tetap relevan di tengah perubahan teknologi. Mereka tidak berhenti berusaha. Mereka hanya semakin sulit memercayai bahwa usaha tersebut akan memberikan hasil yang sebanding.

Inilah inti persoalan yang sesungguhnya. Krisis terbesar yang sedang dihadapi generasi muda bukan hanya mahalnya biaya hidup atau sulitnya mencari pekerjaan, tetapi memudarnya keyakinan bahwa masa depan masih layak untuk direncanakan.

Ketika rasa percaya itu mulai hilang, berbagai keputusan hidup ikut berubah. Orang menunda menikah, mengurungkan niat memiliki anak, memilih bekerja di luar negeri, atau sekadar hidup dari satu akhir pekan ke akhir pekan berikutnya tanpa lagi berani membuat rencana besar.

Pada akhirnya, mungkin sudah saatnya kita berhenti terburu-buru memberi label kepada generasi muda. Sebelum menyebut mereka malas, manja, atau terlalu banyak mengeluh, ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab bersama.

Apakah kita telah benar-benar menghadirkan kondisi yang membuat mereka percaya bahwa kerja keras hari ini masih mampu membawa kehidupan yang lebih baik di masa depan?