Lintang Siltya Utami | Ridho Hardisk
Ilustrasi ijazah kelulusan. (magnific.com)
Ridho Hardisk

Saya sering menemukan situasi yang agak membingungkan ketika melihat teman-teman yang baru lulus kuliah. Setelah bertahun-tahun mengejar nilai, menyelesaikan skripsi, dan akhirnya memegang ijazah, perjuangan mereka ternyata belum selesai. Masih ada satu pertanyaan yang terus muncul ketika melamar kerja. “Punya pengalaman apa?”

Akhirnya, banyak fresh graduate mulai sibuk mengejar hal lain. Magang, organisasi, freelance, sertifikat, sampai membuat proyek pribadi untuk dimasukkan ke portofolio. Ijazah tetap penting, tetapi rasanya seperti hanya menjadi tiket masuk. Setelah pintu terbuka, perusahaan ingin melihat bukti lain, sebenarnya kita bisa melakukan apa?

Menurut saya, di sinilah ada sesuatu yang menarik untuk dipertanyakan.

Ketika Ijazah Tidak Lagi Cukup

Dunia kerja memang sedang bergerak ke arah skills-based hiring. World Economic Forum mencatat bahwa 81 persen perusahaan memperkirakan pengalaman kerja tetap menjadi salah satu cara utama menilai kandidat pada 2025–2030, sementara 48 persen berencana menggunakan skills assessment. Persyaratan gelar universitas masih digunakan oleh 43 persen perusahaan, tetapi kecenderungannya menunjukkan bahwa pengalaman dan kemampuan praktis semakin mendapat perhatian.

LinkedIn juga menemukan bahwa lebih dari 90 persen profesional talent acquisition menganggap kemampuan menilai skill kandidat secara akurat penting untuk mendapatkan kandidat yang tepat. Perusahaan yang paling banyak melakukan pencarian berbasis skill juga tercatat 12 persen lebih mungkin menghasilkan quality hire. Artinya, anggapan bahwa “yang penting sudah sarjana” memang mulai kehilangan kekuatannya.

Tetapi saya justru melihat persoalan lain. Kita seolah sedang berpindah dari satu bentuk pembuktian ke bentuk pembuktian lainnya. Dulu kita terlalu percaya pada ijazah. Sekarang kita bisa saja terlalu percaya pada portofolio.

Portofolio Juga Bisa Menjadi Sekadar Pajangan

Saya setuju bahwa portofolio penting. Bahkan untuk beberapa pekerjaan, melihat hasil nyata memang jauh lebih masuk akal daripada hanya melihat gelar di selembar kertas. Bagaimana seseorang menulis, membuat desain, menganalisis data, mengembangkan produk, atau menyelesaikan masalah memang lebih mudah terlihat dari apa yang pernah dikerjakannya. Tapi ada satu hal yang menurut saya sering kita lupakan. Memiliki portofolio belum tentu berarti seseorang benar-benar siap bekerja.

Kita sekarang bisa membuat portofolio dengan sangat mudah. Satu proyek bisa dibuat untuk memenuhi tugas kuliah, satu tulisan bisa dikembangkan untuk terlihat profesional, bahkan dengan bantuan AI seseorang bisa menyusun hasil kerja yang tampak sangat meyakinkan dalam waktu singkat. Persoalannya bukan pada bagaimana portofolio dibuat, tetapi seberapa jauh portofolio tersebut mencerminkan kemampuan yang benar-benar dimiliki.

Di dunia kerja, masalah tidak datang dalam bentuk brief yang rapi seperti tugas kuliah. Klien bisa berubah pikiran. Atasan bisa memberi instruksi yang ambigu. Data bisa berantakan. Rekan kerja bisa sulit diajak bekerja sama. Target bisa berubah di tengah jalan. Di situlah kompetensi sebenarnya diuji.

Jadi, pendidikan mulai kehilangan nilai? Saya rasa kesimpulan itu terlalu cepat. Justru yang berubah bukan nilai pendidikan, melainkan cara dunia kerja menerjemahkan nilai tersebut.

Kuliah tetap memberi pengetahuan, cara berpikir, dasar teori, dan kesempatan untuk belajar memecahkan masalah. Bahkan data WEF menunjukkan banyak pekerjaan yang tumbuh paling cepat masih membutuhkan gelar universitas. Jadi, agak aneh kalau kita menyimpulkan bahwa ijazah sudah tidak berguna hanya karena perusahaan sekarang meminta portofolio. Masalahnya mungkin ada pada ekspektasi kita sendiri.

Kita dulu menganggap ijazah sebagai bukti bahwa seseorang sudah “siap kerja”. Kini perusahaan semakin ingin melihat bukti yang lebih konkret tentang apa yang bisa dilakukan seseorang. Tetapi jangan sampai perubahan ini membuat mahasiswa merasa harus datang ke dunia kerja dalam kondisi sudah “jadi”.

Kalau perusahaan meminta pengalaman untuk pekerjaan pertama, portofolio untuk posisi pemula, lalu berbagai sertifikasi sebagai tambahan, kita perlu bertanya sebenarnya siapa yang bertanggung jawab membentuk seseorang menjadi siap kerja?

Universitas tentu punya tanggung jawab. Mahasiswa juga punya ruang untuk mengembangkan dirinya. Namun dunia kerja juga perlu menyadari bahwa fresh graduate memang sedang berada pada tahap belajar.

Menurut saya, ijazah dan portofolio tidak seharusnya dipertentangkan. Ijazah bisa menunjukkan apa yang telah seseorang pelajari, sementara portofolio menunjukkan bagaimana ia mulai menerapkannya. Keduanya justru akan lebih bermakna ketika dilihat sebagai bagian dari proses yang sama. Sebab pada akhirnya, perusahaan tidak sedang merekrut selembar ijazah atau sekumpulan proyek.

Mereka sedang merekrut manusia yang diharapkan mampu belajar, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah ketika situasinya tidak lagi serapi yang ada di atas kertas. Dan mungkin, daripada bertanya “Ijazah atau portofolio yang lebih penting?”, pertanyaan yang lebih jujur adalah:

“Apakah sistem pendidikan dan dunia kerja sudah benar-benar memberi ruang bagi seseorang untuk membuktikan kemampuannya?”