Ada satu kebiasaan yang mungkin diam-diam sudah kita anggap normal. Gaji masuk, bayar tagihan, sisihkan sedikit untuk tabungan, lalu sisanya seperti punya seribu alasan untuk segera dihabiskan. Kopi setelah lembur, skincare karena sedang diskon, makan enak karena minggu ini melelahkan, atau membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan dengan alasan sederhana, “Saya sudah kerja keras, masa tidak boleh menikmati hasilnya?”
Yang menarik, sering kali kita tahu kondisi rekening sedang tidak baik-baik saja. Kita tahu dana darurat belum aman, cicilan masih berjalan, tabungan belum cukup, bahkan mungkin sudah berulang kali membuat resolusi untuk lebih hemat. Tetapi ketika melihat barang yang diinginkan, semua pertimbangan itu tiba-tiba terasa bisa dinegosiasikan. Kita tahu harus menahan diri, tetapi jari tetap menekan tombol checkout.
Mapan Entah Kapan
Saya mulai merasa masalah ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan kalimat “kurang bisa mengatur keuangan”. Sebab di satu sisi, kita terus didorong untuk menabung dan mempersiapkan masa depan. Di sisi lain, masa depan yang kita persiapkan terasa semakin mahal dan semakin jauh. BPS mencatat jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024.
Di saat yang sama, akses untuk menikmati konsumsi hari ini justru semakin mudah. OJK mencatat outstanding BNPL perbankan mencapai Rp30,7 triliun pada Juni 2026, tumbuh 33,54 persen secara tahunan dengan 32,77 juta rekening. Artinya, kita hidup dalam situasi yang agak ironis. Masa depan menuntut kita semakin berhati-hati terhadap uang, sementara sistem konsumsi membuat mengeluarkan uang semakin mudah.
Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih dalam. Financial freedom adalah janji yang hasilnya baru terasa nanti. Rumah, investasi, dana pensiun, tabungan, semuanya membutuhkan pengorbanan sekarang untuk sesuatu yang belum tentu bisa kita nikmati dalam waktu dekat. Sementara secangkir kopi, pakaian baru, makan di restoran, atau tiket konser menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, kita bisa merasakan hasilnya hari ini.
Jadi, mana yang terasa lebih worth it? Menyimpan uang untuk kehidupan yang mungkin baru terasa nyaman sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau membeli sedikit kesenangan sekarang setelah melewati minggu yang melelahkan?
Kita Tidak Selalu Membeli Barang
Istilah doom spending menarik karena mencoba menjelaskan perilaku ketika seseorang tetap mengeluarkan uang meskipun sadar kondisi ekonomi sedang tidak ideal. Dalam survei Credit Karma di Amerika Serikat, 27 persen responden mengaku melakukan doom spending untuk meredakan stres terkait kondisi ekonomi. Angka tersebut bukan data Indonesia, tetapi menunjukkan bahwa hubungan antara kecemasan terhadap masa depan dan konsumsi sudah menjadi percakapan yang lebih luas.
Menurut saya, yang sering luput dari pembahasan adalah bahwa kita tidak selalu membeli barang ketika melakukan konsumsi impulsif. Kadang yang kita beli adalah rasa lega. Setelah seharian bekerja, makanan favorit terasa seperti hadiah. Setelah merasa tertinggal dari orang lain, membeli sesuatu membuat kita merasa kembali punya kendali. Setelah hidup terasa monoton, liburan singkat memberi sensasi bahwa kita masih bisa menikmati hidup.
Masalahnya, media sosial membuat kebutuhan tersebut semakin mudah dipicu. Kita melihat orang lain traveling, makan di tempat bagus, membeli gadget baru, menggunakan skincare mahal, atau melakukan self-reward. Kita tidak melihat seluruh kondisi keuangan mereka, tetapi algoritma hanya menunjukkan bagian hidup yang paling layak ditampilkan. Akhirnya, standar “hidup yang menyenangkan” perlahan berubah tanpa kita sadari.
Kita mulai membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain, merasa ada sesuatu yang kurang, kemudian mencari cara tercepat untuk memperbaikinya. Dan cara tercepat itu sering kali bukan meningkatkan pendapatan atau membangun aset, melainkan membeli sesuatu yang bisa membuat kita merasa lebih baik sekarang.
Tapi Apakah Solusinya Hanya Berhenti Belanja?
Di sinilah saya merasa nasihat finansial sering terlalu sederhana. Ketika seseorang menghabiskan uang karena stres, kita biasanya menyuruhnya mencari pelampiasan lain. Olahraga, membaca, journaling, jalan-jalan, atau melakukan hobi. Saran tersebut tentu tidak salah. Tetapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar sudah menyelesaikan masalah jika hanya mengganti cara melampiaskan stres tanpa memahami mengapa kita begitu membutuhkan pelampiasan?
Sebab mungkin persoalannya bukan hanya kita terlalu suka konsumsi. Mungkin kita juga semakin sulit percaya pada masa depan. Kalau rumah terasa semakin jauh, pekerjaan semakin tidak pasti, biaya hidup terus meningkat, dan financial freedom terasa seperti proyek puluhan tahun, kesenangan kecil hari ini bisa terlihat jauh lebih konkret daripada kehidupan ideal yang belum tentu datang.
Saya tidak ingin menggunakan argumen ini untuk membenarkan perilaku konsumtif. Bagaimanapun, membeli sesuatu karena stres tetap bisa memperburuk kondisi finansial yang justru sedang membuat kita stres. Tetapi saya juga tidak sepakat jika seluruh persoalan kemudian dikembalikan menjadi kelemahan karakter. Tidak disiplin, tidak bisa menabung, atau terlalu mengikuti gaya hidup.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum menghakimi orang yang terus melakukan self-reward. Bukan untuk membenarkan semua pengeluaran, tetapi untuk bertanya, apa sebenarnya yang sedang mereka cari ketika menekan tombol checkout? Apakah barangnya, pengalamannya, status sosialnya, atau sekadar perasaan bahwa setelah menjalani hidup yang melelahkan, setidaknya ada sesuatu yang menyenangkan hari ini?
Mapan Nanti, Checkout Sekarang
Pada akhirnya, masalahnya bukan memilih antara menikmati hidup atau menabung untuk masa depan. Kita tetap membutuhkan keduanya. Yang perlu kita waspadai adalah ketika kesenangan hari ini mulai menjadi kompensasi atas masa depan yang terasa terlalu jauh, sementara media sosial terus menyediakan alasan baru untuk mengeluarkan uang.
Karena itu, mungkin pertanyaan sebelum checkout tidak cukup hanya “Apakah saya mampu membelinya?” Kita juga perlu bertanya, “Saya sedang membeli barang ini, atau sedang membeli perasaan yang saya harap muncul setelah memilikinya?” Jika jawabannya yang kedua, mungkin kita sedang menghadapi persoalan yang berbeda dari sekadar ingin membeli sesuatu.
Financial freedom memang belum tentu datang secepat yang kita inginkan. Tetapi jangan sampai karena masa depan terasa terlalu jauh, kita terus mengorbankan kemampuan untuk mencapainya demi kesenangan yang hanya bertahan sampai paket berikutnya datang. Menikmati hidup hari ini tidak salah. Yang perlu dipikirkan adalah apakah cara kita menikmati hari ini sedang diam-diam membuat hidup esok semakin sulit.
Baca Juga
-
Ijazah Masih Penting, Tapi Kenapa Dunia Kerja Hanya Melihat Portofolio?
-
Selamat Datang di Era Attention Economy: Ketika Kebenaran Kalah Penting dari Sensasi Viral
-
Childfree hingga Kabur Aja Dulu: Pelarian Anak Muda atau Bentuk Protes terhadap Realitas?
-
Ancaman 'Inflasi Kepintaran' di Era AI: Masihkah Kita Belajar untuk Berpikir?
-
Kenaikan Dana Riset 2026: Mahasiswa Siap Disibukkan Dengan Inovasi Nyata?
Artikel Terkait
Kolom
-
Karhutla Membara, Saham Sawit Melonjak: Kebetulan atau Pertanda?
-
Tubuh Perempuan di Balik Energi Bersih dan Ketidakadilan Geografis
-
15 Jam Jalan Membuka Mata: Potret Ketimpangan Layanan Kesehatan Indonesia
-
Seberapa Merdeka Gen Z di Era Medsos: Lebih Bebas atau Justru Tertekan?
-
Andai Satwa bisa Bicara: Rumah Kami Berapi Bukan karena Takdir Tuhan
Terkini
-
Review Under the Stars of Paris: Saat Kemiskinan Dijadikan Mesin Air Mata
-
Review Drama Guilty The AI Said, Ketika Algoritma Menggeser Empati Keadilan
-
Khotbah dari Bawah Mimbar: Dakwah Sederhana yang Diam-diam Sampai ke Hati
-
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2, Keberanian Para Penyihir Muda
-
Ulasan The Book You Wish Your Parents Had Read: Belajar Menjadi Orang Tua dari Kesalahan Masa Lalu