Aktivitas vulkanisme erupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik menimbulkan gangguan tak terorganisasi karena terjadi secara tiba-tiba. Tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat dan jarak pandang saat berkendara, lalu lintas udara pun ikut terkena imbasnya.
Akibatnya, pemerintah dan pihak bandara menutup sementara operasional Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta sejak Minggu dini hari hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Bahkan, seperti yang dilaporkan oleh detikNews, per hari Senin (7/9/2026), bandara masih menghentikan aktivitas penerbangan sampai pukul 23.59 WIB sembari terus memantau kondisi sebaran abu dan mengevaluasi keseimbangan antara keselamatan penerbangan dengan dampak biaya operasional.
Berdasarkan ulasan Bloomberg Technoz, pemberlakuan ini didasarkan pada hasil laporan dan analisis sebaran abu vulkanik oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin yang bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Di sisi lain, mengutip laporan detikFinance, jaringan lintas kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni masih beroperasi secara normal di saat aktivitas gunung sedang meningkat. Jika dilihat dari jarak tempuh dari bandara dan pelabuhan, jarak bandara mencapai 130 km dari titik erupsi, sedangkan pelabuhan jaraknya justru jauh lebih dekat, yakni sekitar 65 km.
Risiko Mesin Pesawat vs Kapal Laut
Pertanyaannya, mengapa bandara menghentikan aktivitas penerbangan dan pelabuhan kapal penyeberangan tetap beroperasi normal? Jawabannya karena adanya perbedaan risiko keselamatan dan karakteristik armada dalam menghadapi bencana. Sebagai contoh, mesin kapal feri bergerak menggunakan sistem pendingin di dalam air laut, sebaliknya mesin pesawat melaju dengan menghisap udara dengan kecepatan tinggi.
Mengutip dari jurnal Aviation Hazards from Volcanoes: The State of the Science yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards (2009), abu vulkanik memang sudah sejak lama mampu mengancam aktivitas aviasi karena berpotensi menyebabkan kehilangan tenaga pada mesin pesawat, kerusakan bilah turbin, kontaminasi sistem oli, kendala pada nozel bahan bakar, dan berakhir mengancam nyawa penumpang.
Berbagai potensi tersebut kemudian dijelaskan secara rinci melalui jurnal Volcanic Ash and Aviation Safety: Proceedings of the First International Symposium on Volcanic Ash and Aviation Safety yang diterbitkan oleh U.S. Geological Survey. Jika dilihat dari mekanisme kimia dan fisika, abu vulkanik yang mengandung kaca vulkanik berkomposisi basaltik-andesitik, komponen mineral (seperti feldspar, piroksen, hornblende, dan oksida besi-titanium), serta fragmen batuan dapat meleleh lebih dulu sehingga partikel kaca bisa menempel dan mengeras di bagian turbin.
Ancaman Abu di Ketinggian Jelajah
Seperti diketahui, atmosfer bumi memiliki lima lapisan: troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, dan eksosfer. Pesawat komersial umumnya terbang di ketinggian jelajah 30.000–40.000 kaki yang secara ilmiah masih berada di troposfer atas. Di ketinggian inilah awak kabin biasanya mulai menawarkan makanan dan minuman serta mengizinkan penumpang beranjak ke toilet karena pesawat sudah relatif stabil setelah melewati fase turbulensi cuaca di lapisan troposfer bawah.
Namun, meskipun pesawat tetap berada di lapisan troposfer sepanjang penerbangan, termasuk saat fase jelajah, ancaman abu vulkanik sesungguhnya tidak terbatas pada fase lepas landas atau pendaratan saja. Sebab, troposfer adalah lapisan yang sama di saat tempat abu vulkanik tersebar dan terbawa angin, sehingga pesawat berisiko menabrak awan abu kapan pun di sepanjang rute, bahkan jauh dari gunung sumber letusannya.
Hal ini dibuktikan oleh beberapa insiden yang tercatat dalam dunia aviasi di antaranya: British Airways menembus awan abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung, KLM 747 menembus awan abu vulkanik dari letusan Gunung Redoubt pada ketinggian jelajah 25.000 kaki—sejauh 150 mil laut dari titik letusan, dan letusan Gunung Pinatubo membuat lebih dari 40 pesawat mengalami kerusakan mesin.
Terkait risiko tsunami, melalui siaran pers resminya, BMKG memastikan tidak ada anomali yang terdeteksi dari tsunami gauge di sekitar Selat Sunda. PVMBG turut menilai bahwa pertumbuhan tubuh Anak Krakatau masih begitu terbatas, sehingga potensi keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami dinilai kecil. Otoritas pelabuhan tetap dapat menerapkan larangan bagi kapal mendekati radius 3 kilometer dari kawah aktif sebagai langkah pencegahan, tetapi jalur penyeberangan Merak-Bakauheni sendiri berada jauh di luar radius tersebut sehingga masih dinyatakan aman untuk beroperasi normal.
Dengan demikian, penutupan sementara di Bandar Udara Soekarno-Hatta dan tetap beroperasinya kapal penyeberangan Merak-Bakauheni bukanlah keputusan yang kontradiktif, melainkan cerminan dari perbedaan mendasar antara karakteristik risiko udara dan laut terhadap abu vulkanik, mengingat jarak bukanlah satu-satunya faktor penentu keselamatan.
Baca Juga
-
Makna Lirik Lagu 'Coba Lagi': Pengingat Harapan saat Berada di Titik Terendah
-
Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
Jerat Perpeloncoan Kampus: Saat Regulasi Dikecoh Modus PKKMB dan Kaderisasi
Artikel Terkait
-
Kemenhub Pastikan Tak Ada Bandara Ditutup Imbas Karhutla
-
Amerika Evakuasi Diplomat dari Arab Saudi Usai Bandara Riyadh Dihantam Rudal Houthi
-
Ledakan Keras Terdengar di Arab Saudi saat Bandara internasional Riyadh Baru Dibuka
-
Kronologi Ribut Sesama Anggota DPRD Pekanbaru di Bandara Soetta yang Kini Dibidik Polisi
-
Dua Anggota DPRD Pekanbaru Ribut Saling Cekik di Bandara Soetta, Polisi Kantongi Bukti CCTV
Kolom
-
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
-
Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?
-
Perundungan Linguistik: Apa Kita Masih Punya Ruang untuk Belajar Berbahasa?
Terkini
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
Siap Uji Nyali? Ini 6 Film Horor Terbaik 2026 Buat Temani Malam Halloween
-
The Vanishing Beauty: Kisah Kebangkitan Wanita dari Badai Pengkhianatan
-
Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Membongkar Sejarah Hancurnya Bumi Nusantara
-
Sinopsis '4 Out: Mo Ichido, Play Ball', Film Jepang Dibintangi Aiba Masaki