Perempuan Gen Z sering dituntut mandiri, produktif, dan kuat. Namun, kapan terakhir kali kita mengakui bahwa menjadi kuat juga bisa terasa sangat melelahkan? Pasti ada masa saat kita merasa burnout bahkan tertekan.
Kita seolah dituntut selalu kuat menghadapi pekerjaan dan masalah, rencana tidak berjalan sesuai harapan, atau mengambil keputusan sendiri. Bahkan saat sedang lelah pun, rasanya masih ada suara yang mengatakan, “Kamu pasti bisa.”
Masalahnya, bagaimana kalau kali ini saya memang tidak merasa bisa? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tapi bagi banyak perempuan, mengaku lelah tidak selalu mudah.
Kita hidup di tengah budaya yang begitu mengagungkan kemandirian, produktivitas, dan pencapaian. Bahkan perempuan dituntut selalu “proper” di semua kondisi. Akhirnya, istirahat pun terkadang terasa seperti kegagalan.
Saya Lelah Menjadi Perempuan yang Harus Bisa Segalanya
Sebagai perempuan, saya merasa ada standar yang cukup membingungkan. Kita didorong untuk berpendidikan tinggi, punya pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, punya kehidupan sosial, terus mengembangkan kemampuan, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Tidak ada yang salah dengan memiliki semua keinginan tersebut. Yang melelahkan adalah ketika semuanya terasa seperti kewajiban. Seolah-olah kalau belum sukses di usia tertentu, kita tertinggal.
Kalau belum punya penghasilan sendiri, kita kurang mandiri. Kalau meminta bantuan, dianggap tidak mampu. Padahal, saya tidak selalu ingin menjadi perempuan yang sanggup melakukan semuanya sendiri. Kadang saya ingin diperbolehkan merasa capek.
“Aku Bisa” Tidak Berarti Aku Harus Selalu Melakukannya
Saya mulai menyadari bahwa kemampuan dan kewajiban adalah dua hal berbeda. Saya bisa membantu orang lain, tetap bekerja keras, dan masih bisa menyelesaikan masalah sendiri.
Hanya saja, “skill” ini bukan berarti saya harus selalu tersedia untuk siapa pun, harus mengorbankan seluruh waktu untuk pekerjaan, atau malah merasa kalau meminta bantuan adalah sesuatu yang memalukan.
Barangkali selama ini orang terlalu sering memuji kemampuan bertahan perempuan, tapi lupa bertanya apakah memang ingin terus bertahan dalam kondisi tersebut. Kalimat “kamu perempuan kuat” kini menjadi tuntutan untuk terus menanggung semuanya.
Media Sosial Membuat Kita Sulit Mengakui Kelelahan
Ada satu hal lain yang membuat semuanya terasa semakin berat: media sosial. Setiap kali membuka media sosial, saya bisa melihat orang lain yang tampaknya sedang menjalani hidup dengan sangat baik.
Sementara di dunia nyata, saya mungkin sedang berada di kamar dan sedang kehilangan energi bahkan untuk melakukan hal-hal sederhana. Perbandingan semacam ini membuat kita berpikir kalau hidup orang lain bergerak lebih cepat.
Padahal, media sosial hanya menunjukkan potongan kehidupan. Kita tidak melihat seluruh cerita di balik sebuah pencapaian. Kita juga tidak tahu berapa banyak hari buruk yang tidak pernah diunggah.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai stopwatch untuk mengukur hidup sendiri. Tidak apa-apa untuk mengakui rasa lelah dan mengambil jeda untuk kembali berjalan lagi nanti saat sudah siap.
Burnout Bukan Kegagalan
Bagi saya, burnout bukan sekadar tentang terlalu banyak pekerjaan. Ada juga kelelahan karena terlalu lama berusaha memenuhi ekspektasi, terus mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya tidak baik-baik saja.
Ada juga kelelahan karena merasa harus terus produktif agar merasa berharga. Dan yang paling melelahkan adalah ketika kita bahkan merasa bersalah hanya karena membutuhkan istirahat.
Di titik tertentu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar sedang mengejar sesuatu yang saya inginkan, atau hanya berusaha membuktikan bahwa saya cukup baik di hadapan orang lain?
Pertanyaan itu mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun, setidaknya bisa menjadi awal untuk mengenali batas diri. Mungkin ini saatnya kita, perempuan, mendefinisikan ulang makna “kuat” yang sebenarnya.
Mendefinisikan Ulang Arti “Perempuan Kuat”
Saya tidak ingin lagi menganggap perempuan kuat sebagai seseorang yang selalu tersenyum ketika semuanya berantakan. Saya ingin melihat sisi kuat sebagai pribadi yang tahu kapan harus berjuang dan kapan harus berhenti sejenak.
Perempuan kuat juga boleh menangis. Boleh bingung. Boleh meminta bantuan. Boleh mengatakan tidak. Boleh mengubah rencana. Bahkan boleh mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Sebab, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah lelah. Justru mungkin, kekuatan terbesar adalah ketika kita cukup mengenal diri sendiri untuk berkata, “Aku sudah terlalu lelah. Kali ini aku perlu berhenti sebentar.”
Sebagai perempuan, saya tidak ingin menghabiskan hidup hanya untuk memberi pembuktian. Saya ingin punya ambisi, tapi juga punya batas. Saya ingin mandiri dan tetap bisa meminta bantuan. Saya ingin sukses, tanpa kehilangan diri sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan. Hidup juga tentang cara menikmati perjalanan itu tanpa terus-menerus memaksa diri menjadi seseorang yang sebenarnya tidak perlu kita buktikan pada siapa pun.
Baca Juga
-
Perundungan Linguistik: Apa Kita Masih Punya Ruang untuk Belajar Berbahasa?
-
Kemampuan Multibahasa GenZ: Gaul & Fasih Bahasa Asing Tanpa Lupa Bahasa Ibu
-
Antara Which Is dan Secara: Cara Gen Z Tetap Gaul Tanpa Merusak Bahasa Ibu
-
Slang Lokal ke Tren Global: Peluang Bahasa Indonesia Kuasai Algoritma Dunia
-
Strategi Kreatif Era Digital: Jaga Mutu Bahasa Ibu di Tengah Dikte Algoritma
Artikel Terkait
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan
-
Soroti Kasus Pembunuhan Ibu-Anak di Madiun, Menteri PPPA Ungkap Alasan Pemerintah Terlihat Lamban
-
Lewat Festival Lab Belajar Ibu, Tiga Perempuan Bagikan Makna Kesuksesan yang Beragam
-
Studi Ungkap Dampak Krisis Air terhadap Kesehatan dan Masa Depan Anak Perempuan
Kolom
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
-
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
Terkini
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026