M. Reza Sulaiman | Dini Sukmaningtyas
Makan Bergizi Gratis (bgn.go.id)
Dini Sukmaningtyas

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi jawaban atas masalah gizi anak. Ironisnya, program ini justru berkali-kali muncul dalam pemberitaan karena dugaan keracunan. Dalam beberapa hari terakhir, kasus serupa bermunculan di berbagai daerah, dengan jumlah korban yang terus bertambah.

Di Sleman, misalnya, 229 orang dari 1.110 responden dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG. Kasus serupa juga muncul di Turi beberapa hari kemudian dengan puluhan siswa dan seorang guru mendapat penanganan medis.

Di Sidoarjo, jumlah korban bahkan mencapai 748 orang, sementara kasus di Rembang dilaporkan berdampak pada ratusan siswa dan guru. Dugaan keracunan MBG juga muncul di Nganjuk, Jombang, Agam, Klaten, hingga Tana Toraja.

Dalam rentang 1–3 September saja, hampir 2.000 orang dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG di sejumlah wilayah.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik yang bisa ditutup dengan evaluasi dan pemberhentian sementara sejumlah dapur. Di balik setiap angka, ada nyawa anak yang harus menanggung akibat dari makanan yang seharusnya mereka terima sebagai bagian dari pemenuhan gizi.

Lantas, sampai kapan anak-anak harus ikut menanggung risiko dari program yang seharusnya menjamin kebutuhan mereka?

Benarkah Anak-anak Jadi Prioritas MBG?

Kalau melihat tujuan awalnya, MBG terdengar seperti program yang terdengar mulia karena ditujukan untuk pemenuhan gizi anak-anak. Tapi kalau kepentingan anak memang jadi alasan utama MBG, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan.

Anak-anak yang menerima MBG juga tidak punya banyak pilihan. Mereka tinggal makan apa yang sudah disediakan. Jadi, kalau makanan itu kemudian diduga membuat mereka sakit, rasanya agak aneh kalau keracunan yang sudah terjadi hanya dipandang sebagai kekurangan teknis yang tinggal dievaluasi.

Kalau anak memang menjadi prioritas, seharusnya mereka tidak hanya dihitung sebagai penerima manfaat, tetapi juga dipikirkan sebagai pihak yang paling mungkin menanggung akibat kalau sistemnya gagal.

Makan Bergizi Seharusnya Tidak Jadi Uji Nyali

MBG ini program makan, bukan proyek pembangunan yang hasil akhirnya baru kelihatan beberapa tahun lagi. Ada produk yang setiap hari masuk ke tubuh manusia. Artinya, makanan itu harus layak dimakan. Tidak perlu teori yang muluk-muluk.

Yang bikin geleng-geleng, dapur SPPG dibangun besar-besaran dan dikerjakan serentak, tetapi urusan paling mendasar dalam penyediaan makanan justru masih berantakan. Makanan basi, berlendir, belum matang, hingga berbagai masalah lain yang lolos dan berakhir di hadapan anak-anak.

Kalau sebuah dapur belum mampu menghasilkan makanan yang aman, ya jangan dipaksa mengejar jumlah produksi. Ini program makan bergizi, bukan kelas praktikum yang hasil percobaannya baru diketahui setelah makanan masuk ke perut.

Di sinilah istilah makan bergizi terasa semakin ironis. Bergizi itu percuma kalau kualitas makanannya masih bikin penerimanya tebak-tebakan, apakah makanan di hadapan mereka beracun atau tidak.

Korban Bertambah, Tersangka Belum Ada

Kasus dugaan keracunan MBG sudah muncul di berbagai daerah dengan jumlah korban yang tidak sedikit. Namun, sejauh ini belum ada pihak yang secara resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam rangkaian kasus tersebut.

Beberapa kasus memang sudah masuk ke tahap penyidikan. Masalahnya, sejauh ini penanganan yang paling terlihat justru mentok pada langkah administratif. Dapur yang bermasalah ditutup atau disuspend, pengelola dicopot, lalu dilakukan evaluasi.

Saya khawatir penutupan atau suspend dapur menjadi semacam jalan pintas untuk mengalihkan kemarahan publik. Lalu setelah sorotan mereda, apakah persoalannya benar-benar ikut selesai? Sebab sejauh ini, dapur bisa dihentikan, tetapi siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan yang sudah terjadi masih belum jelas.

Program ini katanya untuk masa depan anak-anak, tapi kok makan siang gratis dari negara terasa seperti uji nyali. Anak-anak seharusnya mendapat makanan yang aman dan bergizi, bukan mempertaruhkan kesehatan demi sebuah program yang katanya demi masa depan.