Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi mendapat dukungan emosional (Pexels/cottonbro studio)
e. kusuma .n

Belakangan ini, saya sering melihat kalimat seperti “Cari support system yang baik” atau “Untung masih punya orang-orang yang selalu mendukung.” Kalimat itu terdengar hangat dan bahkan terasa seperti pengingat kalau manusia tidak bisa hidup sendirian.

Tapi jujur saja, ada kalanya saya membaca itu sambil diam-diam merasa asing. Karena kenyataannya, tidak semua orang punya support system. Dan realita itu jarang sekali dibahas, tapi diam-diam menyimpan luka.

Tidak Semua Orang Punya Tempat Pulang yang Nyaman

Banyak orang menganggap rumah dan keluarga otomatis menjadi tempat paling aman. Saya dulu juga berpikir begitu. Tapi semakin dewasa, saya sadar kalau tidak semua hubungan keluarga berjalan hangat seperti yang sering ditampilkan di media sosial.

Ada yang tumbuh di lingkungan penuh tuntutan, ada yang terbiasa memendam masalah sendiri, dan ada juga yang sejak kecil belajar untuk tidak terlalu bergantung pada siapa pun, termasuk pada keluarga sendiri.

Bukan berarti tidak sayang keluarga. Tapi tidak semua orang merasa cukup aman untuk benar-benar bercerita. Dan itu membuat rasa sepi jadi berbeda.

Pertemanan Juga Tidak Selalu Bisa Menjadi Sandaran

Saya juga pernah berpikir bahwa teman pasti bisa menjadi support system saat keluarga tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Tapi realitanya, pertemanan di usia dewasa ternyata tidak selalu sesederhana itu.

Semua orang sibuk dengan hidup masing-masing. Ada yang sedang berjuang dengan masalahnya sendiri, ada yang perlahan menjauh karena keadaan, dan ada juga hubungan yang ternyata hanya dekat di permukaan.

Kadang saya ingin bercerita, tapi bingung harus mulai dari mana. Takut merepotkan. Takut dianggap terlalu banyak mengeluh. Akhirnya, saya memilih diam.

Terbiasa Kuat Karena Tidak Punya Pilihan

Ada satu fase di mana saya sadar kalau saya terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Bukan karena benar-benar kuat, tapi karena tidak tahu harus bergantung ke siapa. Saya terbiasa memendam dan menghibur bahkan menenangkan diri sendiri.

Dari luar mungkin terlihat mandiri. Tapi di dalam, ada rasa lelah karena selalu harus menjadi “orang kuat” setiap waktu. Dan menurut saya, banyak orang mengalami hal yang sama tanpa benar-benar menunjukkannya.

Media Sosial Membuat Kesepian Terasa Lebih Nyata

Ironisnya, di era ketika semua orang terlihat saling terhubung, rasa kesepian justru semakin terasa. Saya sering melihat orang lain punya circle yang suportif, pasangan yang selalu ada, atau keluarga yang tampak harmonis.

Lama-lama, saya mulai bertanya ke diri sendiri: kenapa saya tidak punya itu? Perbandingan seperti ini kadang tidak sehat, tapi sulit dihindari. Dan inilah efek media sosial yang selalu tampak indah tanpa menunjukkan proses dan realita di baliknya.

Belajar Menjadi Support System untuk Diri Sendiri

Karena tidak selalu punya tempat bersandar, saya akhirnya belajar menjadi tempat aman untuk diri sendiri. Saya mulai mencoba mendengarkan diri sendiri lebih baik. Memberi ruang untuk istirahat tanpa merasa bersalah.

Saya juga belajar mengakui kalau saya bisa merasa lelah, tanpa harus selalu terlihat baik-baik saja. Awalnya terasa asing, tapi pelan-pelan, saya sadar bahwa self-support juga penting.

Bukan berarti saya tidak butuh orang lain. Saya tetap butuh, semua orang juga butuh. Tapi setidaknya, saya belajar untuk tidak sepenuhnya merasa sendirian ketika masih bisa memahami diri sendiri.

Tidak Punya Support System Bukan Berarti Lemah

Salah satu hal yang paling penting saya pelajari adalah tidak punya support system bukan berarti seseorang lemah atau gagal dalam hidup sosial. Kadang, itu hanya hasil dari keadaan, pengalaman hidup, atau lingkungan yang memang tidak selalu mendukung.

Dan orang-orang seperti ini sering kali tetap berjalan, tetap bertahan, meskipun tanpa banyak bantuan. Menurut saya, itu justru menunjukkan kekuatan yang jarang terlihat.

Semoga Kita Bisa Menjadi Tempat Aman, Setidaknya untuk Satu Sama Lain

Sekarang, saya tidak lagi menganggap semua orang punya privilege emosional yang sama. Ada orang yang bisa langsung menelepon seseorang saat hidupnya berat. Ada juga yang hanya bisa duduk sendiri sambil mencoba menenangkan pikirannya pelan-pelan.

Dan keduanya nyata. Karena itu, saya mulai belajar untuk lebih peka agar tidak mudah menghakimi seseorang yang terlihat tertutup atau terlalu mandiri. Sebab mungkin mereka hanya terlalu lama terbiasa menghadapi semuanya sendiri.

Dan kalaupun kita belum punya support system yang ideal, semoga suatu hari nanti kita bisa menemukan. Atau bahkan kita bisa menjadi tempat aman, setidaknya untuk satu sama lain.