Sobat Yoursay, ada nggak sih di antara kalian yang suka menyimpan foto hasil screenshot atau download konten random yang kerasa relate?
Jujur, itu bisa dibilang saya banget. Jadi dulu saya punya satu kebiasaan screenshot quotes dari media sosial. Tapi bukan hanya itu, saat ada notifikasi penyimpanan penuh beberapa waktu lalu, yang memenuhi HP saya ternyata ada foto-foto makanan, video random, unduhan konten motivasi, berbagai dokumen lama semasa kuliah, hingga voice note dan chat grup di WhatsApp yang tidak pernah dibuka lagi.
Pertanyaannya: mengapa rasanya kita begitu sulit menghapusnya? Saya pribadi sampai sekarang masih kerap terjebak di kalimat “kayaknya nanti aku butuh”. Kekhawatiran itu akhirnya membuat saya memilih membiarkan file-file lama tersebut tetap menumpuk di penyimpanan, meskipun notifikasi memori penuh sudah berulang kali menyapa. Selain itu, ada beberapa juga yang masih terikat kenangan. Rasanya banyak sekali momen yang nggak bisa terulang dan hanya tersimpan di galeri saja.
Alasan selanjutnya mungkin bakal relate dengan kreator konten. Banyak draft video yang hanya menumpuk di galeri dan sayang untuk dihapus karena menghabiskan banyak waktu dan energi saat membuatnya, meskipun sudah diunggah di media sosial. Saya pun demikian, draft tulisan tetap saya simpan meskipun sudah terpublikasi.
Akan tetapi, ada pula orang-orang yang menyimpan file lama tanpa alasan yang jelas. Lantas apa yang mereka harapkan dari menyimpan semua itu? Salah satu jawabannya mungkin adalah rasa tenang. Dengan menyimpan dan merasa masih memilikinya membuat hati mereka tenang karena semua terasa masih berada dalam genggaman tangannya.
Padahal perasaan tenang itu bisa menjadi semacam ilusi. Kita merasa semakin banyak yang tersimpan, semakin banyak pula hal yang berhasil kita "amankan". Sebab, sebagian besar file tersebut pada akhirnya sudah tidak lagi memiliki nilai guna dalam kehidupan sehari-hari. Screenshot yang dulu terasa penting akhirnya terlupakan, video yang pernah ingin ditonton ulang tidak pernah benar-benar diputar kembali, begitu pula dokumen atau foto-foto lama yang hanya terselip di antara ribuan file lainnya. Tanpa disadari, kita lebih sering menyimpan kemungkinan daripada kebutuhan yang benar-benar nyata. Yang akhirnya, semua itu hanya menjadi "sampah digital" yang memenuhi penyimpanan.
Memang, nggak ada yang salah dengan semua itu. Setiap orang juga punya hak untuk tetap menyimpan atau pun menghapus file-file lama yang mereka miliki. Namun, kedua pilihan tersebut tentu bukan tanpa konsekuensi sama sekali. Sebagai seseorang yang juga masih melakukan hal ini, notifikasi penyimpanan penuh sudah terasa seperti makanan sehari-hari. Pada saat yang sama, saya masih membutuhkan ruang untuk menyimpan file baru. Mau tak mau harus ada salah satu yang dikorbankan dari semua yang tersimpan. Bukan hanya file, terkadang aplikasi-aplikasi yang sebenarnya masih saya butuhkan pun harus jadi korbannya.
Ironisnya lagi, dengan menyimpan semua data lama, kita mungkin merasa masih bisa mengendalikannya dengan mudah. Namun, faktanya ternyata tidak semudah itu. Semakin banyak data yang kita simpan, semakin sulit pula menemukan data yang benar-benar penting dan masih relevan dengan kebutuhan. Sebab yang tersisa di pikiran kita hanya kata-kata "mungkin nanti butuh". Padahal, setelah itu kita tidak pernah membukanya lagi, bahkan bisa saja sudah melupakannya begitu saja.
Mungkin kebiasaan ini juga menjadi gambaran kecil tentang cara kita menghadapi kehidupan. Tidak hanya file di ponsel, kita sering kesulitan melepaskan banyak hal karena takut suatu saat akan menyesal. Akibatnya, kita memilih menyimpan semuanya, meski tidak lagi memberi manfaat. Yang bertambah bukan hanya isi penyimpanan, tetapi juga beban untuk mengelola dan memilahnya ketika benar-benar dibutuhkan.
Kemudian, ketika penyimpanan penuh, yang sering kali disalahkan pertama kali adalah kapasitasnya yang terbatas. Saya pun dulu pernah merasa seperti ini, lalu setelah upgrade ke penyimpanan yang lebih besar, hal yang sama terjadi lagi. Artinya, persoalan yang kita hadapi mungkin bukan semata kapasitas penyimpanan, melainkan ketidakmampuan kita melepaskan hal-hal yang masih dianggap berharga, meski sebenarnya sudah tidak lagi kita butuhkan.
Baca Juga
-
Gaji vs Kemapanan: Nominal Lebih Besar Ternyata Belum Memberi Rasa Tenang?
-
Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
-
Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z
-
Review Way Back Love: Romansa Fantasi yang Bikin Penonton Banjir Air Mata
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
Artikel Terkait
-
10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
-
Bukan Cuma Latihan, 6 Kebiasaan Sederhana Ini Jadi Rahasia Performa Atlet Profesional
-
5 HP Murah RAM 8 GB dan Memori 256 GB yang Sudah Support NFC, Mulai Rp1 Jutaan
-
Apple Uji Coba RAM dari China, Strategi Baru Hadapi Lonjakan Harga Memori
-
Sudah Hapus Ribuan Foto tapi Memori WhatsApp Tetap Penuh? Ini 3 Cara Mengatasinya
Kolom
-
Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?
-
Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Sudah Saatnya Mengubah Cara Pandang
-
Magang Berkepanjangan: Bekal Karier atau Bentuk Eksploitasi Anak Muda?
-
'Binatang Jalang', Noda Chairul Anwar dalam Skema Korupsi Pakan Binatang
-
Gaji Naik, Korupsi Turun? Sebuah Asumsi yang Perlu Diuji
Terkini
-
The House That Floated, Kisah Tanpa Dialog yang Membuat Pembaca Terharu
-
Surga Tersembunyi di Jalur Pantura Situbondo:Catatan Perjalanan ke Utama Raya Beach
-
Naik Transportasi Umum, Langkah Sederhana yang Bisa Bikin Kota Lebih Nyaman
-
Review How to Say You're Sorry, Buku Anak tentang Arti Permintaan Maaf
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya