Di era belanja online yang serba mudah, membeli sesuatu hanya butuh beberapa klik. Tidak perlu keluar rumah, antre, atau mengeluarkan uang jika ada fitur paylater. Semua terasa praktis dan menyenangkan.
Saya pernah berada di fase itu. Setiap kali merasa lelah, stres, atau sekadar ingin memberi hadiah untuk diri sendiri, membuka aplikasi belanja terasa seperti solusi paling cepat.
Ada sensasi bahagia saat melihat tulisan “pesanan berhasil dibuat”. Rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang layak setelah menjalani hari yang berat dan melelahkan.
Namun, perasaan itu tidak selalu bertahan lama. Karena beberapa minggu kemudian, tagihan datang. Dan di situlah saya mulai menyadari kalau kebahagiaan checkout ternyata memiliki harga yang lebih besar dari yang saya bayangkan.
Checkout dan Sensasi Bahagia Instan
Jujur saja, ada perasaan puas yang sulit dijelaskan saat berhasil membeli barang yang sudah lama diincar. Apalagi barang tersebut sedang diskon, mendapat gratis ongkir, atau berhasil dibeli saat flash sale.
Saat itu saya merasa seperti sedang berhemat sekaligus memanjakan diri. Padahal kalau dipikir-pikir, saya tetap mengeluarkan uang.
Yang menarik, rasa senang saat checkout muncul begitu cepat, bahkan terkadang sebelum barangnya sampai. Mungkin karena ada perasaan berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Masalahnya, kebahagiaan instan seperti ini sering membuat saya lupa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Dan sering kali malah menambah beban finansial di akhir bulan.
Ketika Belanja Menjadi Pelarian Emosi
Lama-kelamaan saya menyadari kalau tidak semua barang yang saya beli benar-benar saya butuhkan. Ada kalanya saya berbelanja karena sedang stres. Ada saatnya saya checkout karena merasa bosan.
Kadang saya membeli sesuatu hanya karena hari itu terasa berat dan saya ingin mencari sedikit hiburan. Tanpa sadar, belanja berubah menjadi pelarian emosional.
Setiap kali suasana hati memburuk, aplikasi belanja menjadi tempat yang terasa nyaman. Melihat barang-barang menarik lalu memasukkannya ke keranjang memberi sensasi "lupa" pada masalah.
Tagihan Datang, Realita Menyusul
Bagian yang paling tidak menyenangkan biasanya datang beberapa minggu kemudian. Saat tagihan muncul, saya mulai melihat daftar transaksi yang sebelumnya terasa kecil dan tidak berarti.
Setiap barang terlihat murah saat dibeli. Namun ketika digabungkan, jumlahnya ternyata cukup besar. Di situlah saya baru bertanya pada diri sendiri: "Apakah semua ini benar-benar perlu?"
Pertanyaan yang seharusnya muncul sebelum checkout justru baru datang setelah uang terpakai. Dan jujur saja, rasa menyesal sering kali lebih besar dari rasa bahagia yang saya rasakan saat membeli barang tersebut.
Budaya Konsumtif yang Terasa Normal
Menurut saya, salah satu alasan mengapa banyak anak muda mengalami hal serupa adalah budaya konsumtif saat ini terasa sangat normal.
Media sosial penuh dengan konten racun belanja. Promo muncul hampir setiap hari. Tanggal kembar seperti 6.6, 7.7, atau 12.12 seolah menjadi perayaan yang harus diikuti.
Akhirnya belanja tidak lagi dianggap sebagai aktivitas sesekali, tapi bagian dari rutinitas. Bahkan sering kali kita merasa tidak sedang boros karena semua orang melakukan hal yang sama.
Bahagia Tidak Selalu Harus Lewat Checkout
Salah satu pelajaran yang saya dapatkan adalah menyadari bahwa tidak semua bentuk kebahagiaan harus dibeli. Apalagi saat dikaitkan dengan tren self-reward lewat belanja.
Jika berhasil melewati minggu yang berat, saya merasa perlu membeli sesuatu sebagai penghargaan untuk diri sendiri. Sekarang saya mulai belajar bahwa bentuk self-reward bisa jauh lebih sederhana.
Istirahat yang cukup. Menonton film favorit. Menghabiskan waktu dengan keluarga. Berjalan santai tanpa tujuan. Ternyata banyak hal yang bisa membuat saya merasa lebih baik tanpa harus mengeluarkan uang berlebihan.
Belajar Bertanya Sebelum Checkout
Saat ini saya mencoba membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum membeli sesuatu. Saya bertanya alasan belanja, bahkan mempertanyakan berulang kali pada diri sendiri sebelum checkout.
Langkah ini tidak selalu membuat saya batal belanja, tapi setidaknya membantu saya lebih sadar. Karena sering kali yang kita cari bukan barangnya, melainkan perasaan yang kita harapkan muncul setelah membeli.
Bahagia Sesungguhnya dari Dalam Diri
Saya pernah merasa sangat bahagia saat checkout. Sensasinya cepat, menyenangkan, dan membuat hari terasa lebih baik.
Namun, saya juga pernah merasakan sisi lain ketika tagihan datang dan menyadarkan kalau kebahagiaan tersebut hanya sementara.
Dari pengalaman itu, saya mulai belajar jika belanja bukanlah musuh. Membeli sesuatu untuk diri sendiri sesekali juga bukan kesalahan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika checkout mulai menjadi cara utama untuk menghadapi stres, kesepian, atau rasa tidak puas terhadap hidup.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang paling menenangkan bukan yang datang dari keranjang belanja. Justru dari kemampuan mengendalikan keinginan dan menjalani hidup tanpa terus mengejar kepuasan sesaat.
Baca Juga
-
Beban Pajak Mencekik, Daya Beli Sekarat: Di Mana Batas Lelah Kelas Menengah?
-
Gaji Pas-pasan, Pajak Macam-macam: Menghitung Sisa Napas Finansial Pekerja
-
Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Artikel Terkait
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Suahasil Akui APBN Habis RP 60 T buat Banjir Sumatra & Karhutla, Belanja Negara Naik ke Rp 3.942 T
-
5 Zodiak yang Jago Menawar Harga saat Belanja, Bukan Pelit tapi Cerdik
-
Viral Jajan di Wisata Cibodas, Beli Mie Rebus dan Nasi Goreng Bayar Hampir Seperempat Juta
Kolom
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Berkaca dari Isu Raffi Ahmad, Kenapa Kita Susah Menegur Orang Baik?
Terkini
-
Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari
-
Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat
-
Sukses Gelar Konser Solo di Seoul, Onew SHINee Umumkan Comeback Album Baru
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
-
Mengupas Status Anime Boruto: Cerita Canon atau Sekadar Garapan Ikemoto?