Coba cek dompetmu sekarang, apakah masih ada uang tunai (cash) di dalamnya, atau justru isinya lebih banyak kartu dan struk belanja? Bagi sebagian orang, pergi tanpa membawa uang tunai sekarang bukan lagi masalah besar. Selama ada HP dan internet, membeli makanan, membayar minuman, hingga berbelanja bisa dilakukan tanpa mengeluarkan uang fisik.
Kebiasaan seperti ini mungkin terasa sederhana. Namun, kalau dipikir-pikir, cara kita bertransaksi memang sudah banyak berubah. Dulu, sebelum keluar rumah, kita mungkin memastikan uang di dompet cukup. Sekarang, yang lebih sering diperiksa justru baterai HP dan koneksi internet.
Salah satu pembayaran yang paling kita gunakan adalah QRIS, QR code (QRIS) merupakan pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia untuk melakukan pembayaran agar lebih cepat, mudah, dan aman. Cukup membuka aplikasi pembayaran, memindai kode, memasukkan nominal, lalu transaksi selesai.
Perkembangan tersebut juga terlihat dari data Bank Indonesia. Pada triwulan II 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 100,12 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memang semakin terbiasa dengan transaksi digital. Tapi, dari sini muncul pertanyaan yang menurut saya menarik, apakah kita benar-benar sudah siap menjadi masyarakat cashless?.
Membayar Jadi Lebih Mudah, tapi Ada Ketergantungan
Tidak bisa dimungkiri, pembayaran digital membuat banyak hal menjadi lebih praktis. Kita tidak perlu membawa banyak uang, mencari pecahan yang pas, atau menunggu kembalian.
Bahkan, sekarang kita bisa menemukan QRIS di berbagai tempat yang sebelumnya mungkin hanya menerima uang tunai. Mulai dari kedai kecil, tempat makan, hingga pedagang kaki lima.
Bank Indonesia sendiri menjelaskan bahwa QRIS dibuat sebagai standar pembayaran menggunakan QR code sehingga transaksi dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS.
Bagi anak muda yang sudah terbiasa menggunakan smartphone, hal ini tentu sangat membantu. Tidak heran jika uang tunai mulai jarang menjadi pilihan utama, ada satu hal yang kadang kita lupakan. Semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital, semakin besar pula ketergantungan kita terhadap teknologi.
Coba bayangkan ketika sedang ingin membayar makanan, tetapi internet tiba-tiba bermasalah atau baterai smartphone habis ketika kita tidak membawa power bank. Belum lagi jika aplikasi perbankan sedang mengalami gangguan. Dalam kondisi seperti itu, uang tunai yang selama ini jarang digunakan justru bisa menjadi penyelamat.
Tidak Semua Orang Bisa Mengikuti Perubahan dengan Kecepatan yang Sama
Membicarakan masyarakat cashless juga tidak bisa hanya dilihat dari kebiasaan anak muda. Ada masyarakat yang sudah sangat terbiasa menggunakan pembayaran digital, tetapi ada juga yang masih merasa lebih nyaman menggunakan uang tunai.
Perbedaan ini bisa terjadi karena banyak hal. Tidak semua orang memiliki akses dan kemampuan digital yang sama. Ada yang belum terbiasa menggunakan aplikasi perbankan, ada yang khawatir salah melakukan transaksi, dan ada pula yang belum memahami cara menjaga keamanan akun digital.
Karena itu, menurut saya, kesiapan menuju masyarakat cashless tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan untuk menggunakannya.
Literasi digital menjadi penting agar kemudahan pembayaran digital tidak justru membawa masalah baru. Masyarakat perlu tahu cara menjaga PIN dan OTP, mengenali modus penipuan, serta memastikan transaksi dilakukan melalui layanan yang aman.
Cashless Bukan Berarti Harus Meninggalkan Uang Tunai
Menurut saya, menjadi masyarakat cashless bukan berarti kita harus benar-benar berhenti menggunakan uang tunai. Pembayaran digital memang menawarkan banyak kemudahan. Tetapi, uang tunai tetap memiliki fungsi, terutama ketika kita berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan menggunakan teknologi.
Hal ini terlihat dari kebutuhan uang tunai yang masih tetap diperhatikan. Pada Ramadhan dan Idul Fitri 2026, misalnya, Bank Indonesia bersama perbankan menyiapkan uang tunai layak edar sebesar Rp185,6 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi, meskipun transaksi digital berkembang pesat, bukan berarti uang fisik sudah kehilangan tempat.
Menurut saya, justru tidak ada salahnya jika kita tetap membawa sedikit uang tunai. Bukan karena kita menolak perkembangan teknologi, tetapi sebagai bentuk kesiapan jika sewaktu-waktu pembayaran digital mengalami kendala.
Pada akhirnya menjadi masyarakat cashless bukan tentang siapa yang paling jarang membawa uang tunai. Bukan pula tentang menganggap pembayaran digital selalu lebih baik daripada pembayaran secara langsung. Yang lebih penting adalah kemampuan kita beradaptasi.
Kita boleh menikmati kemudahan QRIS, mobile banking, dan dompet digital. Namun, kita juga perlu memahami bahwa teknologi bukan sesuatu yang selalu berjalan sempurna.
Kalau suatu hari isi dompet kita hanya tinggal beberapa lembar uang tunai, mungkin itu bukan masalah. Asalkan kita tidak sampai lupa bahwa uang tunai masih bisa menjadi pilihan ketika teknologi sedang tidak berpihak kepada kita.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Kenapa Gen Z Rela Boros buat Kopi Tapi Menyerah Duluan soal Rumah?
-
Polemik Biaya Makan Pejabat: MBG untuk Rakyat, Jamuan Mewah untuk Pejabat?
-
Ruang Healing Versi Perempuan Modern: Saat Olahraga Bukan Cuma Soal Fisik
-
Dari Desa Wisata Menuju Lestari, Cara Kemiren Belajar Mencintai Lingkungan
-
Negara Agraris Tanpa Regenerasi Petani, Sampai Kapan?
Terkini
-
Kim Woo Bin Didapuk jadi Pelatih Tim Bisbol dalam Drama Baru Berjudul Gift
-
3 Peeling Gel untuk Cerahkan Wajah Kusam: Formula Lembut, Minim Iritasi!
-
Usai Michael, Jaafar Jackson Bakal Main Film Supermax Bareng Will Smith
-
Ulasan Dan Hujan Pun Berhenti: Kisah Kelam tentang Luka, Depresi, dan Harapan
-
From Cat Stevens to Yusuf Islam: Saat Ketenaran Tak Lagi Cukup Mengisi Jiwa