Tiap kali mendengar kabar tentang kecerdasan buatan (AI), saya selalu merasa berada di antara dua perasaan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, saya kagum melihat kemampuan AI yang berkembang begitu cepat. Teknologi ini mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, membuat gambar, bahkan menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam. Namun, di sisi lain, saya juga sering bertanya, sampai sejauh mana kemajuan itu harus dibayar?
Ketika Buku Menjadi Korban Kemajuan Teknologi
Pertanyaan itu kembali muncul setelah saya membaca tentang Project Panama, sebuah proyek internal perusahaan AI Anthropic yang baru terungkap melalui dokumen pengadilan. Jujur saja, saya cukup terkejut. Bayangkan, jutaan buku fisik dibeli dalam jumlah besar, dipotong menggunakan mesin, dipindai satu per satu, lalu dihancurkan. Semua itu dilakukan agar isi buku dapat menjadi bahan pelatihan AI.
Kalau dipikir-pikir, ini seperti paradoks yang aneh. Buku yang selama berabad-abad menjadi simbol peradaban manusia justru harus dimusnahkan agar lahir teknologi yang disebut-sebut sebagai masa depan peradaban.
Saya memahami bahwa digitalisasi bukanlah hal baru. Perpustakaan di berbagai negara juga sudah lama mengubah koleksi fisiknya menjadi arsip digital agar lebih mudah diakses masyarakat. Namun, dalam Project Panama, prosesnya terasa berbeda. Buku tidak sekadar dipinjam atau dipindai, melainkan benar-benar dipotong hingga tidak bisa dibaca lagi dalam bentuk fisiknya.
Legal Belum Tentu Bermoral
Memang, menurut putusan hakim federal di Amerika Serikat, tindakan memindai buku yang dibeli secara sah untuk kepentingan tertentu dapat dikategorikan sebagai fair use. Artinya, dari sisi hukum hak cipta, praktik tersebut dinilai memiliki dasar hukum. Akan tetapi, menurut saya, persoalannya tidak berhenti pada aspek legalitas. Namun, di situ ada dimensi etika yang jauh lebih besar.
Buku bukan sekadar kumpulan kertas berisi tulisan. Di balik setiap halaman, ada proses berpikir, pengalaman hidup, penelitian, bahkan pengorbanan seorang penulis. Ada editor yang mengoreksi naskah, penerbit yang mempertaruhkan modal, percetakan yang menghidupkan teks menjadi benda nyata, hingga pembaca yang memberi kehidupan pada sebuah karya.
Ketika jutaan buku diperlakukan layaknya bahan baku industri, saya merasa ada sesuatu yang perlahan hilang. Buku berubah fungsi dari media pengetahuan menjadi sekadar "makanan" bagi mesin.
Mengapa AI Memburu Buku-Buku Lama?
Yang juga menarik perhatian saya adalah alasan mengapa perusahaan-perusahaan AI begitu memburu buku cetak lama. Jawabannya cukup sederhana. Buku-buku itu ditulis oleh manusia sebelum internet dipenuhi oleh konten yang dihasilkan AI. Dengan kata lain, kualitas tulisan manusia dianggap lebih murni dan lebih kaya untuk melatih kecerdasan buatan. Ironis, bukan?
Di satu sisi, AI belajar dari karya manusia. Namun, di sisi lain, semakin banyak konten yang kini dihasilkan AI sendiri. Lama-kelamaan, AI bisa saja belajar dari hasil AI lainnya. Jika itu terjadi terus-menerus, kualitas informasi bisa mengalami penurunan karena mesin hanya mengulang pola yang pernah dibuat mesin sebelumnya.
Karena itulah buku-buku lama memiliki nilai yang semakin tinggi. Mereka menjadi semacam "mata air" yang masih jernih di tengah derasnya banjir informasi digital.
Nilai Sebuah Buku di Era Ledakan Data
Saya juga sempat membaca bahwa para penjual buku bekas mulai merasakan lonjakan pembelian dalam jumlah yang tidak biasa. Ribuan hingga puluhan ribu buku dibeli sekaligus tanpa penjelasan yang jelas mengenai tujuan akhirnya. Konon, beberapa distributor buku bekas besar ikut menyuplai kebutuhan proyek tersebut.
Sampai hari ini memang belum ada bukti bahwa buku-buku yang benar-benar langka atau satu-satunya di dunia ikut dimusnahkan. Namun tetap saja, fakta bahwa jutaan buku fisik kini telah berubah menjadi sekadar data digital menimbulkan rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Pengalaman Membaca yang Tak Bisa Didigitalisasi
Sebagai orang yang senang membaca, saya percaya bahwa pengalaman membaca buku cetak tidak akan pernah benar-benar tergantikan. Aroma kertas, catatan kecil di pinggir halaman, lipatan yang sengaja dibuat sebagai penanda, hingga sensasi membalik halaman adalah pengalaman emosional yang tidak bisa disalin menjadi kumpulan piksel.
AI boleh saja mampu membaca jutaan buku dalam waktu singkat. Tetapi AI tidak pernah benar-benar merasakan pengalaman menjadi pembaca.
Kasus ini juga mengingatkan saya bahwa perkembangan teknologi selalu menghadirkan dilema. Kita tentu ingin AI semakin pintar karena manfaatnya sangat besar bagi pendidikan, kesehatan, penelitian, hingga produktivitas. Namun, kemajuan tersebut semestinya dibangun dengan tetap menghormati karya intelektual manusia.
Anthropic sendiri sempat menghadapi gugatan lain terkait penggunaan ebook bajakan sebagai data pelatihan AI. Perusahaan itu kemudian menyepakati pembayaran sekitar 1,5 miliar dolar AS untuk menyelesaikan perkara tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak boleh berjalan dengan mengabaikan hak para pencipta karya.
Masa Depan AI dan Masa Depan Peradaban
Menurut saya, Project Panama bukan sekadar cerita tentang jutaan buku yang dihancurkan. Ini adalah gambaran bagaimana dunia sedang memasuki babak baru ketika data menjadi aset paling berharga. Persoalannya bukan lagi apakah AI akan berkembang atau tidak, melainkan bagaimana kita memastikan perkembangan itu tetap menghargai nilai-nilai yang selama ini membangun peradaban.
Saya percaya teknologi seharusnya menjadi jembatan yang memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, bukan alasan untuk mengurangi penghargaan terhadap sumber ilmu itu sendiri. Sebab secanggih apa pun AI di masa depan, ide-ide besar tetap lahir dari manusia yang berpikir, menulis, dan menciptakan. Buku adalah salah satu warisan terpenting dari proses itu, sehingga sudah selayaknya diperlakukan lebih dari sekadar bahan baku bagi mesin.
Baca Juga
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
-
Jangan Asal Cas! Ketahui 9 Tips Jitu Bikin Baterai Android Awet Seharian
-
Membaca Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Bahasa yang Mencerminkan Pikiran
Artikel Terkait
-
Novel Menuju Titik Nol: Ketika Pembunuhan Menjadi Akhir Bukan Awal Cerita
-
Mengenal Fenomena 'Deskilling': Benarkah AI Perlahan Menurunkan Keterampilan Berpikir Manusia?
-
Ulasan Novel Supernova Akar, Petualangan Bodhi Mencari Jati Diri
-
Review More Than a Tree, Kisah Pohon yang Mengajarkan Arti Kehilangan
-
Bayi Terapung yang Menjadi Wali: Menyelami Kisah Sunan Giri Lewat Saga dari Samudra
Kolom
-
IPK Tinggi Bukan Jaminan: Mengapa Anak Pintar Sering Tertinggal dari yang Biasa Saja?
-
Berani Tampil Beda: Haruskah Penampilan Menentukan Kepercayaan Diri?
-
Rahasia Garam Desa Les: Mineral Alami dari Tanah Beda dari Garam Biasa
-
Sampah Tak Pernah Hilang, Ia Hanya Berpindah ke Masa Depan Kita
-
Menjaga Amanah Wakaf Hijau: Niat Mulia Jangan Mangkrak di Atap Masjid
Terkini
-
5 Pilihan Body Scrub Ekstrak Green Tea untuk Merawat Kulit Cerah dan Halus
-
Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon
-
Ulasan Novel Supernova Akar, Petualangan Bodhi Mencari Jati Diri
-
Review You and Everything Else: Saat Persahabatan Jadi Sumber Luka Dalam
-
Review More Than a Tree, Kisah Pohon yang Mengajarkan Arti Kehilangan