Resident Evil versi Zach Cregger rilis sebagai film horor terbaru yang mencoba membawa kembali waralaba populer ini ke layar lebar dengan pendekatan yang lebih berani.
Film produksi TriStar Pictures, Constantin Film, dan Davis Films ini skripnya ditulis oleh Zach Cregger bersama Shay Hatten. Austin Abrams menjadi pemeran utama sebagai Bryan (kurir medis), bersama Zach Cherry, Kali Reis, Paul Walter Hauser, dan Johnno Wilson.
Di Indonesia, Resident Evil tayang di bioskop sejak 16 September 2026 dengan durasi kurang lebih 95 menit dan klasifikasi D17 menurut Lembaga Sensor Film.
Ceritanya terkait Bryan yang mendapat tugas mengantarkan paket medis ke rumah sakit di Raccoon City. Dalam perjalanan melewati pegunungan bersalju, dia secara tidak sengaja menabrak perempuan. Bryan berusaha menolong dan membawanya ke rumah sakit, lalu perlahan menemukan kenyataan bahwa kota tersebut sedang berada dalam kekacauan akibat wabah biologis.
Kebocoran dari laboratorium eksperimental Umbrella Corporation memicu munculnya berbagai makhluk yang mengalami mutasi. Bryan kemudian terjebak di tengah situasi yang sama sekali berada di luar kemampuannya. Dia harus terus bergerak, mencari jalan keluar, menghemat amunisi, menghadapi zombie dan monster, sekaligus berusaha menyelesaikan tugas pengiriman yang sejak awal membawanya ke Raccoon City.
Resident Evil memang punya banyak cara untuk mengingatkan penonton bahwa mereka sedang berada di dunia Resident Evil. Zombie muncul, Umbrella Corporation kembali menjadi bagian penting, laboratorium jadi lokasi berbahaya, amunisi terasa berharga, pintu terkunci menghambat perjalanan, sementara kamera sesekali berpindah ke perspektif yang mengingatkan pada Game Resident Evil.
Ada pula berbagai desain monster yang membawa film semakin jauh ke wilayah body horror. Semua elemen tersebut seperti potongan-potongan pengalaman bermain game yang sengaja dipindahkan ke layar lebar. Keren, deh!
Di satu sisi, pendekatan ini menyenangkan. Penonton yang mengenal game-nya akan menemukan banyak hal yang familier tanpa harus bertemu Leon, Claire, atau karakter ikonik lain sebagai pusat cerita.
Pemilihan karakter Bryan, kurir medis yang sama sekali belum siap menghadapi dunia penuh zombie, membuat pengalaman Resident Evil terasa seperti permainan baru yang dimulai dari karakter biasa. Kita mengikuti seseorang yang belum memahami aturan dunia tempat dia berada, lalu perlahan belajar bahwa setiap lorong, pintu, suara, dan ruangan bisa menyimpan ancaman.
Masalahnya, Resident Evil seolah-olah sangat sibuk memastikan identitas waralabanya. Amunisi terbatas, pintu terkunci, perspektif kamera, Umbrella, makhluk mutasi, semua mengingatkan pada game-nya. Bahkan struktur perjalanan Bryan terasa seperti rangkaian level yang harus dilewati. Persoalannya, fan service paling efektif ketika tumbuh secara alami dari kebutuhan cerita.
Beruntung, film ini memilih untuk tidak bergantung pada karakter game yang sudah dikenal. Bryan merupakan wajah baru, sementara dunia yang dia masuki sudah dikenal banyak fans. Pendekatan ini sebenarnya memberi ruang besar untuk membuat Resident Evil memiliki identitas sinematik sendiri. Beberapa bagian berhasil memanfaatkan kesempatan itu melalui makhluk yang aneh, lingkungan yang mengerikan, humor, dan situasi survival yang terasa spontan.
Cuma ya gitu, semakin mendekati akhir, perjalanan Bryan harus terhenti begitu datar. Perjalanan bertahan hidupnya memang seru, visualnya penuh kejutan, dan wujud makhluk-makhluk yang mengancamnya punya kreativitas tersendiri. Namun, pengalaman nonton film akhirnya kurang memuaskan terlepas ini film jauh lebih bagus dari seri Resident Evil sebelumnya.
Pokoknya Resident Evil tetap punya daya tarik karena Cregger memahami survival horror membutuhkan ruang, ketidakpastian, sumber daya terbatas, dan ancaman yang bisa muncul dari tempat yang sederhana.
Akhir kata, film ini punya zombie, Umbrella, amunisi, pintu terkunci, monster, laboratorium, first-person, third-person, dan berbagai set piece yang terasa seperti level permainan. Semua bahan tersebut membuat Resident Evil sangat mudah dikenali penonton, tapi terbagi-bagi kepuasannya terkait ekspektasi terhadap film ini.
Sobat Yoursay sudah nonton?
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
Review Film Apocalypse Z: New World, Sajikan Teror Zombie di Tanah Spanyol!
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
Ulasan
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
-
Mengulik Makna Kedukaan: Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
-
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau: Tentang Rasa Sakit yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
-
Tragedi Cinta di Tengah Revolusi Prancis dalam Novel Kisah Dua Kota
-
Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan
Terkini
-
Sadar Finansial vs FOMO Kuliner: Refleksi Realita Ekonomi Anak Muda
-
Krisis Sampah Perkotaan, Mengapa Perempuan Jadi yang Paling Terdampak?
-
Mahalnya Validasi Visual: Jebakan Beauty Standard yang Menguras Mental
-
Ketika Feodalisme Berhadapan dengan Hak Rakyat, Jogja Istimewa untuk Siapa?
-
Kulit Tetap Kencang, Ini 5 Sunscreen Lokal SPF 50 Anti-Aging