M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi parade sound horeg (Dokumentasi Suara.com)
Tika Maya Sari

Menjelang momentum peringatan kemerdekaan RI, kita bakal disapa dengan serangkaian aktivitas menyenangkan bertajuk Agustusan. Beberapa di antaranya adalah lomba antar kampung, pagelaran parade sebagaimana Dhoho Night Carnival yang bakal digelar di Kota Kediri, sampai parade sound horeg yang tentu sudah familiar.

Mengutip Suara.com, horeg sendiri bermakna ‘bergetar’ dalam bahasa Jawa. Sound horeg sendiri telah mengukirkan beragam kritik, opini, dan pro kontra yang selalu menghiasi setiap pagelarannya. Namun, apakah betul-betul nggak ada hal yang bisa dipetik dari fenomena sound horeg ini?

Berikut ini opini pribadi saya, mengenai pagelaran sound horeg.

Perubahan Esensi Karnaval dan Parade

Di satu sisi saya sendiri sebetulnya kontra dengan sound horeg karena kurang suka kebisingan. Dan sound horeg terkenal memiliki frekuensi suara tinggi, dengan permainan bass yang bikin jantung kewalahan. Asli, saya nggak kuat kalau harus menonton pagelaran cek sound maupun paradenya.

Di sisi lain, parade sound horeg telah menggeser esensi karnaval era Agustusan dengan membabi buta. Pada era lampau, yang namanya karnaval ya tentu menampilkan hal-hal yang bersifat hiburan mutlak. Seperti fashion show dengan tema kostum tertentu, adat dan budaya, sepeda hias, komedi horor dari oknum pocong yang menakuti tapi lucu, sampai pameran hasil bumi yang unik. Namun, semua itu kini musnah dan bertukar dengan parade sound yang menurutku monoton. Warna-warni khas karnavalnya menghilang.

Jangkauan Frekuensi Suara Panjang, Panci di Rumah Pada Berdentang

Dari pengalaman pribadi di mana tempo waktu ada pagelaran cek sound di kecamatan sebelah, jangkauan frekuensi suaranya terdengar sampai radius kurang lebih 10 km. Padahal jaraknya sangat jauh, tetapi saya masih bisa mendengar dari rumah. Walau memang tidak sekencang di lokasi ya, jatuhnya sudah tidak membuat jantung ambrol tapi juga bukan yang sayup-sayup.

Justru penjual sayur langganan di desa sebelah menuturkan, bahwa pagelaran sound horeg tersebut sukses membuat panci aluminium di rumahnya berdentang.

Panen Omzet dan Cuan dari Riuhnya Penonton

Kendati menguarkan frekuensi bunya yang lantang nan panjang, pagelaran sound horeg selalu ramai pengunjung. Paradenya selalu dipenuhi oleh masyarakat yang menonton maupun berjualan makanan sampai minuman.

Saya memang tidak datang ke lokasi mengingat tidak kuat, dan hanya memantau dari beberapa postingan orang di media sosial. Parade sound horeg terlampau ramai, riuh, dan padat. Dari situlah, para penjual panen omzet besar. Terlebih kalau cuacanya panas, bisa dipastikan penjual minuman dan es bakal bercuan gacor.

Aksi Kriminalitas dalam Keramaian

Yang namanya suasana ramai nan riuh, sudah pasti mata kriminal ada di mana-mana. Bahkan ada satu informasi dari media sosial yang menuturkan, bahwa ada satu kasus pencurian sepeda motor yang menimpa seorang penjual makanan. Kendati begitu, kasus tersebut terselesaikan atas sinergi masyarakat, siaran radio lokal, dan pihak polisi.

Hal ini tentunya harus diambil pelajaran, bahwa kriminalitas selalu ada dan mengintai di setiap momentum. Apalagi pada situasi ramai begini.

Manipulasi Psikologi dalam Parade Sound Horeg

Aku nggak akan menampik bahwa ada banyak kasus mengiringi parade sound horeg. Kawan-kawan bisa googling sendiri lah apa saja kasusnya. Pun aku sendiri kontra dengan sound horeg karena nggak kuat mendengarkan frekuensi suaranya.

Kendati begitu, bagiku sound horeg adalah brainwash dan manipulasi psikologi yang ekstrem. Alih-alih melakukan eksekusi lewat media sosial seperti beberapa kesenian, sound horeg justru memanfaatkan massa.

Massa akan dimanipulasi dengan pertunjukan deret dan tumpukan sound system menjulang, besar, dilengkapi ornamen cahaya lampu, dan jangkauan suara yang panjang. Massa yang umumnya diisi oleh kaum Adam dibikin terpukau dengan sound system raksasa tersebut, kemudian dibuat betah menonton dengan kehadiran penari latar yang diisi oleh kaum Hawa.

Perkembangan tren dan algoritma media sosial juga turut memanipulasi. Apalagi adanya adu gengsi dengan menyewa sound horeg terkemuka dengan nominal ratusan juta.

Jujurly, saya sangat menyukai parade dan karnaval yang kreatif alih-alih parade sound horeg. Sudahlah banyak kasus berseliweran di jagad maya, pun fenomenanya sukses memanipulasi masyarakat dengan mencoba menciptakan variasi sound sendiri.

Memang sih, sound system itu turut menyumbang nyawa dalam pertunjukan, parade, maupun hajatan. Tapi jangan yang sampai horeg atau bergetar lah.

Saya kira, pagelaran sound horeg bukan hanya suatu hal yang sengaja dijadikan tren semata, melainkan permainan manipulasi psikologis yang nyata. Mereka terbukti berhasil mengumpulkan massa, pendukung, hingga pengaruh sehingga kehadirannya tetap disokong. Bahkan menciptakan stigma kebanggaan tersendiri apabila mampu menyewa maupun sound horeg seharga ratusan juta.

Seandainya saja manipulasi psikologis tersebut diaplikasikan terhadap budaya lokal, dibantu dengan sokongan pemerintah, bukankah seharusnya sukses membius atensi dunia? So, gimana menurut kawan-kawan sekalian?