Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
Ilustrasi Gen Z (pexels/Andrea Piacquadio)
Sherly Azizah

Siapa yang tidak tergiur dengan ide pensiun di usia 35 tahun, bebas dari rutinitas jam kerja kantor yang menguras energi, lalu menghabiskan sisa hidup dengan berlibur atau mengejar hobi yang selama ini tertunda?

Gerakan Financial Independence, Retire Early (FIRE) sedang menjadi tren yang luar biasa hangat di kalangan pekerja muda Generasi Z. Di berbagai media sosial, konten-konten tentang strategi memangkas pengeluaran secara ekstrem dan mengalokasikan hingga 50–70% gaji bulanan ke instrumen investasi bertebaran saban hari. Tampaknya indah, sangat keren, dan terlihat logis di atas kertas simulasi kalkulator finansial.

Namun, ketika hitung-hitungan teori yang mulus itu dibawa ke arena dunia nyata, para pekerja muda ini langsung dihadapkan pada satu pertanyaan yang sangat menohok: apakah gaya hidup FIRE benar-benar realistis untuk dijalaninya hari ini?

Mimpi indah untuk pensiun dini sering kali harus menghantam dinding realita yang amat keras. Laporan riset dari TIAA Institute–GFLEC Personal Finance Index pada tahun 2021 bertajuk "Financial literacy and well-being in a five generation America" mengungkapkan bahwa meskipun Gen Z menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi terhadap pengelolaan uang, kelompok ini menghadapi tantangan finansial riil yang cukup berat.

Laporan tersebut mencatat bahwa Gen Z memiliki porsi pendapatan harian yang terserap untuk kebutuhan pokok jauh lebih besar dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Kondisi struktur ekonomi ini membuat alokasi anggaran untuk tabungan dan investasi jangka panjang menjadi sangat terbatas dan penuh dengan ruang kompromi yang menyulitkan.

Masalah utamanya bermula dari ketimpangan antara struktur pendapatan dan laju pengeluaran harian. Mayoritas Gen Z yang baru meniti karier memulainya dengan gaji entry-level yang berada di kisaran upah minimum regional (UMR) atau sedikit di atasnya.

Di sisi lain, laju inflasi biaya hidup di kota-kota besar, mulai dari harga sewa tempat tinggal, tarif transportasi harian, hingga bahan pangan pokok—melonjak jauh lebih cepat daripada persentase kenaikan upah tahunan. Memangkas biaya hidup hingga ke titik paling hemat demi menabung separuh gaji bukanlah hal yang mudah dilakukan ketika biaya makan dan sewa kamar kost saja sudah menguras lebih dari separuh isi dompet.

Selain faktor inflasi yang agresif, ada pula beban sosial-ekonomi yang cukup berat membayangi sebagian besar pekerja muda di Indonesia, yaitu status sebagai sandwich generation. Banyak dari mereka tidak hanya bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya sendiri, tetapi juga memiliki kewajiban moral dan finansial untuk menyisihkan sebagian penghasilan guna membantu ekonomi orang tua atau membiayai sekolah adik-adiknya. Dalam kondisi struktural seperti ini, memaksakan diri mengikuti alur ekstrem gerakan FIRE justru bisa berujung pada rasa bersalah yang mendalam, stres finansial yang destruktif, dan pemangkasan kualitas hidup yang sangat tidak sehat secara fisik maupun mental.

Bukannya berhasil meraih kebebasan finansial yang diimpikan, menerapkan gaya hidup kelewat hemat secara mendadak sering kali memicu kekecewaan besar di tengah jalan. Keinginan wajar untuk menikmati masa muda terenggut oleh rasa bersalah setiap kali membeli makanan kesukaan, sementara target angka tabungan tak kunjung tercapai karena terus tergerus kebutuhan darurat keluarga yang tak terduga.

Lantas, apakah Gen Z harus sama sekali melupakan gagasan Financial Independence dan pasrah pada keadaan? Jawabannya tentu saja tidak perlu.

Kuncinya ada pada redefinisi dan kompromi yang rasional atas konsep kebebasan finansial itu sendiri. Konsep FIRE tidak harus selalu diartikan secara kaku sebagai aksi pensiun total dari pekerjaan di usia 30-an dengan menahan lapar dan menolak kehidupan sosial setiap hari. Gen Z bisa mengadopsi semangat dasarnya, yaitu kemandirian finansial yang sehat, gaya hidup tidak konsumtif, dan disiplin berinvestasi tanpa harus mengorbankan kelayakan hidup serta kesehatan mental di masa kini.

Daripada memfokuskan seluruh energi untuk memotong konsumsi harian sampai ke tingkat yang menyiksa, langkah yang jauh lebih berkelanjutan adalah meningkatkan nilai jual diri demi menaikkan pendapatan (up-skilling), membangun dana darurat yang kokoh, dan berinvestasi secara konsisten sesuai kapasitas riil.

Pensiun dengan tenang dan sejahtera adalah impian semua orang tanpa kecuali. Namun, menikmati proses tumbuh, belajar, dan bernapas dengan layak hari ini juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya bagi seorang manusia. Karier dan keuangan adalah sebuah maraton panjang yang membutuhkan ketahanan jangka panjang, bukan lari cepat (sprint) yang memeras habis seluruh tenaga di awal perjalanan.

Jadi, tidak perlu tergesa-gesa mengejar garis finis semu di internet jika kamu harus mengorbankan ketenangan pikiran di sepanjang jalan.