Pernah lihat satu komentar nyinyir di TikTok, lalu beberapa menit kemudian kolom komentarnya berubah jadi arena ramai-ramai menghujat? Awalnya cuma satu akun yang nyeletuk. Setelah itu, yang lain ikut ketawa, menimpali, bahkan bikin lelucon baru. Si korban? Mungkin sedang membaca semuanya dari depan layar ponselnya.
Di situlah bullying digital terasa berbeda. Seseorang bisa dihantam puluhan komentar tanpa pernah berhadapan langsung dengan pelakunya. Masalahnya bukan sekadar orang yang kelewat bercanda, melainkan kebiasaan digital yang membuat empati gampang kalah oleh keinginan ikut ramai.
Ketika Layar Membuat Korban Terasa Jauh
Ada alasan kenapa orang lebih berani berkata kasar di kolom komentar dibanding saat bertatap muka. Layar menciptakan jarak. Kita tidak melihat ekspresi orang yang sedang membaca komentar kita. Tidak melihat dia diam, menangis, atau mungkin menutup ponselnya karena sudah terlalu malu.
Akibatnya, kalimat seperti cuma bercanda, baper banget, atau namanya juga netizen sering dipakai sebagai tameng. Seolah-olah niat bercanda otomatis menghapus dampak yang ditimbulkan.
Menurut UNICEF, cyberbullying mencakup perilaku berulang melalui teknologi digital yang bertujuan menakuti, membuat marah, atau mempermalukan seseorang. Bentuknya bisa berupa menyebarkan kebohongan, mengirim pesan menyakitkan, menyebarkan foto memalukan, sampai membuat akun palsu untuk mempermalukan orang lain.
Mirisnya, persoalan ini bukan cuma tentang pelaku dan korban. Ada penonton. Ada orang yang memberi emoji tertawa. Ada yang ikut membagikan. Ada pula yang sebenarnya tahu itu keterlaluan, tetapi memilih diam karena takut dianggap sok suci.
Dalam ruang digital, penonton bisa berubah menjadi bagian dari mesin perundungan tanpa merasa sedang melakukan apa-apa.
Satu Komentar Bisa Menjadi Kerumunan
Indonesia punya alasan kuat untuk tidak menganggap persoalan ini sebagai drama kecil di internet. Kajian UNICEF tentang kebiasaan daring anak di Indonesia yang terbit pada 2023 menemukan bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan. Namun, hanya 37,5 persen anak dalam studi tersebut yang pernah menerima informasi tentang cara menjaga keamanan saat online, sementara 42 persen mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring.
Artinya, kita mendorong anak dan remaja masuk ke ruang digital dengan sangat cepat, sementara bekal untuk menghadapi risikonya belum tentu ikut diberikan.
Masalahnya makin rumit karena bullying digital tidak berhenti ketika bel sekolah selesai. Jika perundungan terjadi di sekolah, korban setidaknya punya kemungkinan menjauh dari pelaku ketika pulang. Di dunia digital, komentar, pesan, tangkapan layar, dan unggahan bisa ikut masuk ke kamar tidur.
UNICEF juga menjelaskan bahwa cyberbullying meninggalkan jejak digital. Rekaman tersebut dapat menjadi bukti untuk membantu menghentikan tindakan perundungan.
Dampaknya pun bukan sekadar jadi kepikiran. Sebuah systematic review yang dipublikasikan di Cadernos de Saúde Pública menemukan hubungan antara cyberbullying dan berbagai persoalan pada remaja, termasuk masalah emosional, psikososial, serta gejala depresi. Penelitian tersebut memang tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa setiap korban pasti mengalami gangguan tertentu, tetapi cukup menunjukkan bahwa dampak cyberbullying layak diperlakukan serius.
Jadi, ketika seseorang berkata, Kan cuma komentar, persoalannya justru ada pada kata cuma itu.
Empati Digital Bukan Berarti Harus Selalu Setuju
Melawan bullying digital bukan berarti semua orang harus berhenti mengkritik. Kritik tetap penting. Kreator, pejabat, brand, bahkan teman sendiri boleh dikritik ketika melakukan kesalahan. Yang perlu dibedakan adalah kritik terhadap tindakan dengan serangan terhadap harga diri seseorang.
Mengatakan, Konten ini keliru karena datanya tidak sesuai, berbeda jauh dengan, Dasar bodoh, pantas dihujat.
Perbedaannya sederhana, tetapi sering hilang ketika algoritma memberi hadiah pada sesuatu yang ramai. Konten yang memancing emosi lebih mudah mengundang respons. Ketika keramaian dianggap sebagai hiburan, manusia di balik akun bisa berubah menjadi sekadar bahan konten.
Karena itu, literasi digital seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membedakan hoaks dan fakta. Kita juga perlu mengajarkan literasi sosial: kapan harus berkomentar, kapan harus berhenti, kapan harus melapor, dan kapan seseorang sebenarnya membutuhkan dukungan.
Kalau melihat teman menjadi korban, UNICEF menyarankan untuk memberi dukungan, berbicara kepada orang yang dipercaya, menyimpan bukti, memblokir akun pelaku, serta menggunakan fitur pelaporan di platform.
Namun ada satu hal yang lebih sederhana dan sering dilupakan: jangan ikut menyebarkan.
Kita memang tidak bisa mengontrol semua orang di internet. Kita juga tidak bisa menghapus budaya komentar pedas hanya dengan satu kampanye. Tapi kita bisa mengontrol satu akun yang kita pegang sendiri.
Mungkin empati digital memang sesederhana berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim. Bertanya dalam hati: kalau orang yang saya komentari berdiri tepat di depan saya, apakah saya masih sanggup mengatakan kalimat yang sama?
Jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan pada internet yang terlalu bebas. Bisa jadi, kita yang terlalu mudah lupa bahwa di balik setiap username tetap ada manusia.
Baca Juga
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
-
AI Untuk Bencana: Jalan Pintas Menyelamatkan Nyawa atau Sekadar Tren Tanpa Solusi?
-
Setelah Paru-Paru Dunia Dikepung Asap, Kapan Hutan Pulih?
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
Artikel Terkait
-
Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Krisis Empati Saat Bencana Alam dan Program MBG Terus Berjalan
-
Self-Love atau Egois? Ini Garis Tipis yang Sering Bikin Kita Salah Paham
Kolom
-
Fenomena 'No Viral, No Justice' dalam Kasus Rumah Ibadah: Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Sustainable Lifestyle dan Budaya Konsumtif: Peduli atau Cuma Ikut-ikutan?
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
Dilema Gaji UMR vs Gaya Hidup: Kenapa Bekerja Keras Rasanya Cuma Buat Numpang Lewat?
-
Kenapa Harus Melihat Orang Lain Menderita Dulu untuk Belajar Bersyukur?
Terkini
-
Sinopsis 3mm Love, Film Korea-Jepang Dibintangi Kim Ji An dan Kurokawa Soya
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Melalui Lagu Untuk yang Bersama Nya
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja
-
Ulasan Film Akal Imitasi: Saat Teknologi Canggih Mulai Menggantikan Guru
-
Mengenal Buku Selasa Bersama Morrie, Obrolan tentang Arti Kehidupan