Belakangan ini kita mengenal istilah cancel culture di berbagai media sosial. Cancel Culture dapat diartikan sebagai sebuah budaya memblokir orang yang sedang mengalami masalah di tengah masyarakat luas. Bukan masalah biasa, tetapi masalah cukup serius.
Mengapa cancel culture perlu diterapkan? Sebab bila tidak diblokir atau diboikot, maka dapat menimbulkan dampak buruk yang lebih luas bagi masyarakat.
Misalnya, ketika seorang publik figur terjerat kasus korupsi, narkoba, perselingkuhan bahkan video porno. Selain mendapat jerat hukuman sesuatu aturan yangberlaku, ia juga harus mendapat sanksi cancel culture oleh khalayak luas. Jangan sampai ia diberi panggung untuk tampil di televisi, podcast, atau menjadi bintang iklan dari berbagai brand.
Penerapan cancel culture terhadap publik figur merupakan hukuman yang pantas, dengan harapan agar mereka merasa jera dan tak mengulangi kesalahannya lagi. Mestinya, sebagai publik figur mereka berusaha untuk selalu menjaga diri, agar jangan melakukan hal-hal yang tak pantas.
Karena seorang publik figur segala tingkah lakunya akan menjadi sorotan dan percontohan bagi masyarakat luas. Artinya, bila cancel culture tak diterapkan, tentu sangat dikhawatirkan generasi muda bangsa ini akan terpengaruh dan meniru dengan hal buruk yang pernah mereka lakukan.
Sulitnya Menerapkan Cancel Culture
Sayangnya, cancel culture sepertinya masih sulit diterapkan di negeri ini. Buktinya, selama ini para publik figur seperti artis dan selebgram yang mengalami persoalan seperti kasus video porno atau yang terjerat kasus perselingkuhan, masih wara-wiri tampil di berbagai program televisi atau podcast-podcast. Bahkan mereka masih mendapat job iklan, main sinetron atau membintangi film, hingga manggung di acara konser musik.
Mereka, para pemilik brand atau podcast seolah hanya memanfaatkan situasi yang sedang viral. Dengan cara meminta publik figur yang sedang tersandung kasus asusila, misalnya, untuk menjadi bintang iklan brand mereka, atau memerankan tokoh utama dalam sebuah sinetron.
Jelas sekali mereka hanya mencari rating dan keuntungan pribadi. Tak peduli apakah yang dilakukan itu menimbulkan pengaruh buruk kepada generasi muda kita ataukah tidak.
Ironisnya lagi ketika sebagian publik figur yang pernah tersandung kasus memalukan tersebut malah mendapat panggung yang megah di pemerintahan. Misalnya, tiba-tiba mereka diangkat menjadi anggota DPR, atau menjadi orang penting seperti menjadi istrinya bupati. Bahkan para koruptor yang pernah di penjara pun tiba-tiba bisa kembali terjun di dunia perpolitikan dan kembali menempati posisi bergengsi di negeri ini. Ini merupakan realitas yang begitu miris, memilukan, dan sangat memalukan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Sebagai masyarakat yang cerdas, ada sederat langkah yang bisa dilakukan untuk menerapkan cancel culture pada para publik figur yang bermasalah tersebut. Salah satunya ialah dengan tidak mem-follow akun-akun media sosial mereka. Bahkan kalau perlu blokir akun-akun tersebut, agar tayangan-tayangan yang mereka tampilkan tidak lewat di beranda akun media sosial kita.
Langkah selanjutnya adalah mengabaikan mereka. Tak perlu ikut memberikan like dan komentar pada postingan mereka. Demikian juga dengan barang-barang yang mereka iklankan. Jangan membeli produk yang diiklankan oleh mereka. Ketika produk tersebut tak laku, maka para pemilik brand tentu akan merasa rugi dan akhirnya memilih untuk memutuskan kontrak kerjasama dengan para publik yang bermasalah tersebut.
Ketika mereka diundang di podcast atau program di televisi, biar ratingnya turun, maka jangan pernah menontonnya. Nanti dengan sendirinya pamor mereka akan pudar dan ini akan membuat mereka mengalami kerugian. Kerugian yang pada dasarnya disebabkan oleh mereka sendiri.
Baca Juga
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
Artikel Terkait
-
Cancel Culture Era Medsos: Kritik Membangun atau Penghakiman Massal?
-
Bukan Atas Nama Cinta, MUI Tegaskan Penganiaya YTR di Bandung Tak Boleh Lolos dari Hukuman Berat
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Ucapan HUT ke-12 Suara.com dari Sejumlah Tokoh, Politisi hingga Publik Figur
Kolom
-
Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan
-
Rekening Donasi Dibekukan: Penegakan Hukum atau Pembatasan Demokrasi?
-
Karhutla Melanda di Berbagai Wilayah, Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Warga Negara?
-
Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
-
Bekantan Terdesak Api: Hutan Kalimantan Terbakar, Mereka Kehilangan Rumah
Terkini
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Ulasan Buku Atomic Habits: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Hidupmu
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
-
Gak Sabar! 5 Hal yang Bikin Film Laut Bercerita Sangat Dinanti Tayangnya
-
Putih di Atas Salju