Juru parkir liar memang selalu jadi masalah. Tapi Juru parkir yang ditentukan dishub juga tidak lepas dari masalah pula. Tarif resmi parkir kendaraan roda empat di kawasan Masjid Sheikh Zayed pernah ditetapkan Rp5 ribu. Pemkot Solo juga sudah mengingatkan masyarakat agar tidak membayar tarif di luar ketentuan dan menyediakan kanal pengaduan.
Pada 2023, bahkan empat orang terkait parkir liar di sekitar masjid disebut diproses BAP, sementara Dishub menyatakan tarif yang ditarik jukir liar mencapai Rp10 ribu per mobil.
Dua tahun kemudian, pola serupa muncul lagi.
Pada September 2025, seorang jukir di kawasan Masjid Sheikh Zayed kedapatan meminta Rp30 ribu. Dishub menyatakan kejadian itu terekam CCTV dan tarif resmi mobil adalah Rp5 ribu. Jukir tersebut kemudian dinonaktifkan. Bahkan laporan lain menyebut Pemkot Solo memecat jukir tersebut.
Artinya, persoalannya sudah lebih dari sekadar oknum nakal.
Perjudian Murah Bernama Pungutan Liar
Kalau satu orang melakukan pelanggaran lalu dihukum, kita bisa menyebutnya sebagai ulah individu. Tetapi kalau pola yang sama muncul berulang, di lokasi yang sama atau lokasi berbeda, setelah berkali-kali viral, apakah sistem pengawasannya memang bekerja?
Sebab pola yang terlihat dari luar sangat sederhana. Viral, diklarifikasi, minta maaf, dibina atau dinonaktifkan, situasi mereda, kemudian kejadian serupa muncul lagi.
Kalau konsekuensi dari meminta Rp30 ribu ketika tarif resminya Rp5 ribu hanya berupa permintaan maaf dan pembinaan, maka secara ekonomi pelanggaran tersebut bisa menjadi perjudian yang sangat murah.
Kalau ketahuan, minta maaf.
Kalau tidak ketahuan, uang masuk kantong.
Ini bukan tuduhan bahwa semua jukir berpikir demikian. Tetapi sebuah sistem harus dirancang berdasarkan insentif dan risiko. Aturan akan sulit dihormati jika keuntungan melanggar jauh lebih besar daripada risiko ketika tertangkap.
Dan masalah parkir bukan sekadar soal Rp10 ribu, Rp20 ribu, atau Rp30 ribu.
Ia menyangkut reputasi kota.
Solo sedang membangun dirinya sebagai kota wisata, kota budaya, dan kota yang ramah bagi pengunjung. Wisatawan datang membawa uang, waktu, dan ekspektasi. Mereka seharusnya pulang membawa cerita tentang kuliner, keramahan, budaya, dan pengalaman menyenangkan. Bukan cerita bahwa baru turun dari mobil sudah dikerjai tarif parkir.
Apalagi keluhan semacam ini tidak hanya muncul di Masjid Sheikh Zayed. Dalam berbagai momentum keramaian, praktik tarif parkir tinggi juga menjadi keluhan warga. Seorang teman saya, misalnya, mengaku diminta Rp100 ribu setelah memarkir mobil sekitar tujuh jam saat menghadiri Haul Solo. Video pengalamannya yang diunggah ke media sosial bahkan mencapai jutaan penonton.
Mengapa sistem terus memberikan kesempatan kepada praktik yang sama untuk berulang?
Pembinaan tentu perlu. Tetapi pembinaan tanpa evaluasi dan sanksi yang efektif bisa berubah menjadi ritual administratif. Ada pelanggaran, ada klarifikasi, ada permintaan maaf, selesai.
Padahal publik membutuhkan kepastian.
Kalau tarif resmi Rp5 ribu, tampilkan tarifnya besar-besar. Gunakan karcis resmi. Pasang identitas jukir. Sediakan kanal pengaduan yang benar-benar responsif. Awasi titik-titik rawan, terutama ketika ada acara besar. Dan jika seseorang terbukti berulang kali melakukan pelanggaran, jangan hanya mengganti kata “dibina” dengan “dibina lagi”.
Karena yang perlu dibina bukan hanya manusianya.
Sistemnya juga harus diperbaiki.
Media akan terus memberitakan selama masyarakat terus mengalami. Viral bukan penyebab buruknya pengelolaan parkir. Viral hanyalah alarm yang membuat persoalan yang sebelumnya tersembunyi menjadi terlihat.
Dan kalau alarm sudah berbunyi berkali-kali tetapi masalah yang sama terus muncul, mungkin persoalannya bukan lagi siapa yang tidak mendengar.
Mungkin sistemnya memang belum sungguh-sungguh memperbaiki sumber masalah.
Baca Juga
-
The Story of Body Language: Bisakah Kita Membaca Orang dari Gerak Tubuh?
-
Indonesia Butuh Industri Alat Kesehatan, Bukan Sekadar Pasar Impor
-
Bukan Selalu Tone Deaf, Bisa Jadi Standar Kita yang Sudah Berbeda
-
Dikurung sebab Berbahaya, Dicintai sebab Berbeda: Juliette dalam Shatter Me
-
Kontradiksi Simbolik: Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Masih Feodal
Artikel Terkait
-
Jelang HUT RI dan 5 Abad Jakarta, Pemkot Jaksel Sikat PKL hinga Parkir Liar di Kalibata City
-
10 Nakes Kena Sanksi Usai Bully Pasien BPJS di Threads, Karier Hancur Seketika
-
Picu Spekulasi, Tulisan Season 3 di Trailer Film Solo Leveling Kini Dihapus
-
Viral Eksekusi Rumah Lansia 82 Tahun di Jakbar, Ini Klarifikasi Pihak Koperasi
-
Sebelum Ikut Tren, Ketahui 5 Cara Mengolah Kimpul agar Aman Dikonsumsi
Kolom
-
Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian
-
Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng
-
Budaya Jadi Kunci: Bagaimana Kang Edai Bawa Desa Kemiren Bertumbuh?
-
Dilema Mengecek HP Anak: Antara Melindungi dari Bahaya Digital atau Merusak Kepercayaan
Terkini
-
Praktis Tinggal Usap, Ini 5 Micellar Wipes Pilihan untuk Kulit Berjerawat
-
The Story of Body Language: Bisakah Kita Membaca Orang dari Gerak Tubuh?
-
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
-
Kala Hati Mengajak Pulang: Perjalanan Nyoman Nadiana Membangun Desa Les