Sebagai seorang anak yang besar beriringan dengan perkembangan transportasi, tentunya saya sudah terbiasa dimanjakan dengan kemudahan mobilitas sehari-hari. Setiap hari berangkat sekolah, sejak saat saya mulai bisa mengingat ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), saya sudah diantar menggunakan sepeda motor.
Sampai saya lulus Sekolah Dasar (SD), saya selalu diantar jemput menggunakan motor oleh orang tua. Memang jarak rumah saya ke sekolah lumayan jauh, walaupun sebenarnya tidak sejauh itu. Terkadang saya merasa iri dengan teman-teman yang berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki beramai-ramai. Pikir saya waktu itu, pasti asyik pulang jalan kaki sambil ngobrol dan bercanda.
Rasa iri itu hanya bisa saya simpan dalam hati karena saya adalah tipe anak yang penurut. Memasuki usia SMP dan SMA, saya memutuskan untuk bersekolah di kota Kabupaten yang jarak tempuhnya lumayan dari rumah, kurang lebih 30 menit. Saya dan beberapa teman lainnya pulang-pergi ke sekolah menggunakan taksi langganan.
SMP saya terletak di pinggir jalan utama, sehingga tidak ada kesempatan untuk jalan kaki barang sejenak. Akhirnya ketika SMA, keinginan saya untuk jalan kaki terwujud. Saya memang pulang-pergi dari rumah ke sekolah menggunakan taksi langganan, tapi SMA saya terletak di dalam gang, sehingga perlu berjalan kaki sekitar 200 meter dari mulut gang.
Romantisme Jalan Kaki Semasa SMA
Saya pun sangat bahagia saat mengetahui akhirnya bisa jalan kaki, walaupun hanya beberapa ratus meter. Jalan yang saya lalui itu bernama Jl. SMA. Entah kenapa, saat mengingat lagi masa-masa itu, saya merasa nostalgia. Nostalgia yang bahagia.
Apalagi masa-masa SMA saya berbarengan dengan hype film Dilan. Pikiran anak SMA saya yang masih polos itupun ikut membayangkan ada 'Dilan' yang turut menghampiri saya yang sedang berjalan kaki sambil menodongkan pernyataan seputar ramalan. Tentunya hal itu hanya terjadi di khayalan masa SMA saya. Sayangnya kisah SMA saya tidak seindah lagu 'Kisah Kasih di Sekolah'.
Memasuki masa kuliah, saya baru bisa merasakan lika-liku kehidupan anak kos saat semester tiga. Semester satu dan dua saya habiskan di dalam kamar di rumah, terjebak dan berjibaku dengan tugas-tugas di tengah kepungan virus COVID-19 yang merajalela di luar sana. Semester tiga itu saya memilih kos yang dekat dengan kampus. Saya pun tidak sabar untuk segera memulai kehidupan kampus yang sesungguhnya.
Pandangan Orang Tentang Pejalan Kaki
Jarak kos ke gedung tempat perkuliahan berlangsung hanya sekitar 1,1 km, hanya perlu waktu kurang dari 5 menit jika naik motor. Suatu hari, saya memutuskan untuk jalan kaki berangkat ke kampus. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin mencoba hal baru saja. Estimasi waktunya adalah sekitar 13 menit.
Saya membayangkan perjalanan yang tenang, damai, dan syahdu sambil mendengarkan musik favorit melalui headset. Sayangnya bayangan saya itu berakhir hanya di khayalan semata. Realitanya, jalur untuk pejalan kaki yang sempit, bahkan tidak ada, sangat menyulitkan saya. Jalan gang yang sempit ditambah parit di kedua sisi jalan, membuat pengalaman jalan kaki jadi menantang.
Belum lagi lalu lalang kendaraan bermotor mahasiswa lain yang tiada habisnya semakin membuat saya was-was, padahal saya sudah berusaha berjalan di pinggir mepet parit. Hal lain yang membuat saya terkejut adalah pandangan orang lain tentang orang yang jalan kaki. Beberapa kali teman satu angkatan saya yang kebetulan lewat menawarkan tumpangan untuk saya.
Niat mereka memang baik, mengajak saya untuk ikut mereka saja daripada jalan kaki. Bahkan ada yang mengira motor saya mogok, padahal tidak. Saya hanya ingin berjalan kaki saja. Pada titik itu saya sadar dan bertanya-tanya, apakah seasing itu jalan kaki dijadikan opsi. Sampai-sampai orang yang memilih berjalan kaki dianggap tidak memiliki motor atau motornya sedang bermasalah.
Fasilitas Pejalan Kaki yang Kurang Didukung
Jujur, saya cukup sedih melihat realita fasilitas umum untuk pejalan kaki di Indonesia, terutama di wilayah tempat tinggal saya. Trotoar yang ada sudah tidak layak pakai, berlubang di sana-sini, diinvasi para pedagang kaki lima yang mangkal menjajakan jualannya hingga ke bibir jalan, sampai pengendara motor yang dengan muka datar seenaknya memakai trotoar untuk menghindari macet.
Padahal, salah satu olahraga paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan adalah jalan kaki. Bahkan kita tidak perlu meluangkan waktu khusus. Sembari berangkat kuliah, ke tempat kerja, atau ke tujuan manapun, selama bisa ditempuh dengan jalan kaki, kita bisa sekalian olahraga. Sayangnya fasilitas untuk pejalan kaki masih tidak diprioritaskan.
Baca Juga
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng
-
Ulasan 'Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni?' : Jodoh Ada di Tangan Ibu dan Camer
-
Anak Bebas Main di Luar Seharian, Ini 5 Sunscreen yang Siap Melindungi!
-
Gak Nyangka! 5 HP Samsung Harga 3 Jutaan Ini Sudah Dapat RAM 8GB dan Memori 256GB
-
5 HP RAM 12 GB Terbaik, Multitasking Anti-Lemot Cocok untuk Content Creator
Artikel Terkait
-
6 Sepatu Jalan dengan Desain Unik yang Tidak Pasaran, Nyaman Dipakai Seharian
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
-
Donald Trump Gereget Mau Rudal Fasilitas Nuklir Iran: Sampai Mereka Bilang Tak Tahan Lagi
-
5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
-
JPO Tendean Belum Diganti, Pelican Crossing Jadi Solusi Sementara untuk Pejalan Kaki
Kolom
-
Viral Tanpa Menelanjangi Privasi: Berhenti Menjadikan Korban Perempuan sebagai Tontonan
-
Tak Punya Pantai, Kemiren Punya Budaya: Edy Menggerakkan Ekonomi Desa
-
Matinya Era RPUL: Kenapa Hafalan Nama Pejabat Sudah Tidak Relevan Lagi?
-
Gema Lesung Kemiren: Menenun Asa dan Wirausaha di Jantung Suku Osing
-
Eksploitasi Rasa Iba: Kenali Sadfishing sebagai Modus Baru Penipuan Digital
Terkini
-
Review Drama The Guest, Sisi Kelam Jiwa Manusia dan Teror Supranatural
-
Ulasan The First Responders Season 1: Kerja Sama Polisi dan Damkar di Tengah Situasi Darurat
-
5 Physical Sunscreen Buat Kulit Berjerawat: Non-Comedogenic dan Bebas Gerah
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Review Dust Bunny: Sajikan Horor Gothic dan Aksi Menegangkan yang Sempurna!