Monster paling menyeramkan dalam film horor seringnya punya wajah berbentuk manusia. Gagasan itu sebenarnya sudah cukup kuat untuk membuat cerita kriminal mengganggu psikis penonton, apalagi ketika korbannya anak-anak.
Nah, Film Memburu Pemangsa mencoba membawa ketakutan itu ke wilayah yang lebih luas dengan mencampurkan horor, kriminal, aksi, dan investigasi jurnalistik. Masalahnya, ketika kejahatan manusia kemudian dihubungkan dengan iblis, film ini jadi ada dilema yang sepantasnya dikulik: unsur supranatural memang memperkuat teror, sekaligus berpotensi menggeser sumber ketakutan. Namun, berhasilkah diejawantahkan? Kepoin lebih lanjut, yuk!
Film Memburu Pemangsa diproduksi Sinemaku Pictures, rumah produksi yang didirikan Umay Shahab dan Prilly Latuconsina. Umay kembali duduk sebagai sutradara sekaligus produser, dengan film ini menjadi eksplorasinya pada genre horor, crime, dan action. Film berdurasi sekitar 115 menit ini dibintangi Laura Basuki sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Taskya Namya sebagai Brina, Yasamin Jasem sebagai Anya, Andri Mashadi sebagai Petra, serta Teuku Rifnu Wikana sebagai pemangsa anak. Septian Dwi Cahyo, Norman Akyuwen, Jordan Omar, Shareefa Daanish, dan Ruth Marini turut mengisi jajaran pemain. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.
Ceritanya berawal dari hilangnya anak-anak di sebuah kawasan. Beberapa korban kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi, sementara waktu terus berjalan karena masih ada anak lain yang berada dalam bahaya. Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, awalnya menolak kemampuan supranatural yang dimilikinya sejak kematian putrinya.
Situasi berubah ketika dia menyaksikan penculikan anak secara langsung. Bersama Cia, Brina, dan Anya, Agnes mulai menyelidiki kasus. Petra, polisi sekaligus kakak Brina, ikut membantu membuka akses penyelidikan. Petunjuk demi petunjuk akhirnya membawa mereka pada predator yang bekerja sama dengan iblis dan memiliki kekuatan jauh melampaui manusia biasa.
Menarik, ya? Sayangnya …
Beban Moral Tergerus Supranatural
Pada dasarnya, film mulai punya bahan obrolan yang lebih menarik. Memburu Pemangsa ingin menunjukkan kalau monster paling berbahaya bisa berasal dari manusia. Sosok pemangsa memang dimunculkan dalam bentuk manusia yang melakukan kekejian pada anak-anak. Motifnya bahkan berkaitan dengan keinginannya menghidupkan kembali putrinya dan memperoleh keabadian.
Namun, ketika motif tersebut ditempatkan berdampingan dengan iblis, sebagian beban moral kejahatan manusia ikut tergerus ke wilayah supranatural. Padahal, daya tarik terbesar film ini muncul dari kenyataan bahwa predator anak bisa lahir dari manusia biasa. Iblis memang membuat ancamannya lebih fantastis, tapi jelas jadi jalan pintas untuk menjelaskan kejahatan yang seharusnya lebih mengerikan karena lahir dari pilihan manusia sendiri.
Persoalan lain muncul dari posisi empat jurnalis sebagai penggerak investigasi. Agnes punya kemampuan melihat masa lalu melalui benda tertentu, sehingga proses pencarian petunjuk jadi jauh lebih cepat. Elemen ini seru secara genre, tapi sekaligus membuat kerja jurnalistiknya kehilangan sebagian realistisnya. Investigasi yang seharusnya bertumpu pada data, sumber, verifikasi, keberanian, dan risiko perlahan berbagi ruang dengan kemampuan supranatural.
Film memang tetap ngasih ruang proses pencarian fakta, tapi kekuatan Agnes membuat batas antara jurnalis investigasi dan pahlawan supranatural jadi semakin tipis.
Meski begitu, keberanian film mengangkat kekerasan anak tetap jadi fondasi penting. Empat perempuan sebagai pusat perburuan juga memberi warna berbeda pada film horor-aksi Indonesia.
Persoalannya kembali pada cara korban ditempatkan dalam cerita. Ketika penderitaan anak hanya menjadi pemicu bagi para karakter dewasa untuk bergerak, isu tersebut berubah jadi bahan bakar thriller. Nggak buruk, kok. Malah Film Memburu Pemangsa sangat layak Sobat Yoursay tonton untuk mengingatkan bahwa di luar sana ada hal-hal mengerikan yang berkaitan dengan kejahatan terhadap anak. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
-
Review Istimewa: Ketika Representasi Disabilitas Belum Benar-Benar Setara
-
Review Film Akal Imitasi: Ketika AI Masuk Kelas, Pintar Jadi Kian Mahal?
-
Review I Play Rocky: Kisah Stallone Kalah Besar dari Karakter Fiksinya
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja
Artikel Terkait
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri
-
Review You Will Die in 6 Hours: Saat Kematian Mengajarkan Kita Cara Menjalani Hidup
-
Bikin Penonton Tertawa Ternyata Lebih Sulit, Ini Tantangan Film Sisa Semalam
-
Ghost in The Cell Menang Best Picture di Fantastic Fest 2026, Siap Tayang di Bioskop Amerika Serikat
-
Aming Ingin Warga Rusun 609 Jadi Hiburan di Tengah Situasi Sulit
Ulasan
-
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri
-
Poret Pendidikan di Pinggiran Kuala Mesuji dalam Novel Anak-Anak Kuala
-
3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
Terkini
-
Sinopsis Take Charge of My Heart: Romansa Fantasi, Tayang 9 Oktober
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
4 Brightening Cleanser Buat Remaja Lawan Kusam setelah Beraktivitas Outdoor
-
Sinopsis Seisei no Uzume, Drama Slice of Life Jepang Dibintangi Imoto Ayako
-
Jebakan Gaji Tinggi: Saat Korban Loker Palsu Dipaksa Jadi Sindikat Love Scamming