Ada yang berubah dari pemandangan di sekitar kita. Setidaknya itu yang saya rasakan beberapa tahun terakhir. Jalan yang dulu hanya dilewati kendaraan sekarang dipenuhi gerobak makanan, lahan kosong berubah menjadi kedai kecil, bahkan teras rumah menjadi tempat berjualan.
Saat sebuah kedai makanan baru belum sempat kita coba, sudah muncul usaha lain tidak jauh dari sana. Kalau sedang berjalan-jalan, rasanya semakin sulit menemukan jalan yang benar-benar sepi dari aktivitas jual-beli.
Menjamurnya usaha kecil tentu bukan sesuatu yang buruk. Dari situ terlihat bagaimana orang berusaha mendapatkan penghasilan dengan apa yang mereka punya. Ada yang memasak, berdagang, menawarkan jasa, atau memanfaatkan media sosial untuk mencari pembeli. Semua bergerak, semua mencoba, dan semua punya cara sendiri untuk bertahan.
Tetapi karena jumlahnya semakin banyak, saya mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Jangan-jangan, menjamurnya usaha kecil ini tidak lahir dari orang-orang yang memang ingin menjadi pengusaha. Bisa jadi, sebagian orang hanya sedang mencari cara untuk tetap punya penghasilan.
Lantas, mungkinkah ramainya usaha kecil di berbagai sudut kota justru menyimpan cerita tentang lapangan kerja yang belum cukup memadai?
Semua Mau Jadi Bos, Karyawan Dianggap Budak
Ada kalimat yang sering saya dengar tentang ajakan untuk membuka usaha, yaitu “Sekecil apa pun usahanya, kita bosnya.” Kalimat seperti ini terdengar memotivasi. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa menjadi bos harus selalu dianggap lebih keren daripada menjadi karyawan?
Di media sosial, pekerjaan sebagai karyawan juga sering digambarkan dengan nada merendahkan. Karyawan dianggap hanya menjalankan perintah, terikat jam kerja, tidak punya kebebasan, bahkan tidak jarang disebut sebagai “budak korporat”.
Sebaliknya, orang yang berjualan sendiri atau punya usaha kecil diposisikan sebagai sosok yang sudah berhasil mengambil kendali atas hidupnya.
Saya jadi bertanya-tanya, sejak kapan status sebagai bos menjadi ukuran kesuksesan seseorang? Padahal, seorang karyawan juga bisa punya keahlian, penghasilan, jenjang karier, dan kehidupan yang tidak kalah layak. Tidak semua orang bercita-cita mengurus usaha.
Menariknya, di Indonesia, obsesi menjadi bos ini terasa seperti sesuatu yang sudah ditanamkan sehingag banyak orang memiliki mindset serupa. Kita dibuat percaya bahwa menjadi karyawan berarti kalah, sedangkan menjadi pengusaha berarti menang. Kalau ingin kaya, jadilah pengusaha. Kalau ingin bebas, jangan jadi karyawan.
Padahal, tidak semua orang yang membuka usaha sedang mengejar kebebasan. Bisa jadi mereka hanya sedang mencari penghasilan karena pilihan pekerjaan yang tersedia memang terbatas. Jadi, jangan-jangan kita terlalu cepat menyebut semua orang sebagai calon pengusaha, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah pekerjaan yang layak.
Negara Ikut-ikutan Menyuruh Kita Jadi Bos
Masalahnya, narasi semacam itu tidak hanya digaungkan di media sosial. Pemerintah juga punya kecenderungan mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku usaha, seolah-olah berwirausaha bisa menjadi jawaban praktis untuk masalah ekonomi yang dihadapi.
Kita sering mendengar ajakan untuk memulai usaha, mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), meningkatkan kapasitas pelaku usaha, sampai berbagai program bantuan dan pelatihan kewirausahaan.
Namun, kalau semua orang didorong menjadi pengusaha, siapa yang bertugas menyediakan pekerjaan bagi orang-orang yang sebenarnya ingin menjadi pekerja?
Di Indonesia bahkan ada kementerian yang secara khusus mengurusi UMKM. Ini menunjukkan betapa besar perhatian negara terhadap sektor tersebut.
Padahal, negara juga perlu memikirkan bagaimana menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menghasilkan lebih banyak pekerjaan produktif, dengan penghasilan yang layak dan kesempatan berkembang.
Kita terus disuruh punya mental pengusaha, seolah-olah semua orang lahir untuk berjualan. Padahal, mungkin sebagian orang hanya ingin bekerja, menerima gaji dengan layak, lalu pulang tanpa harus memikirkan cara mendapatkan pelanggan esok hari.
Baca Juga
-
Miskonsepsi Frugal Living: Romantisasi Kemiskinan di Balik Nasihat Hemat
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
BPS Catat Ekonomi Tumbuh 5,47%: Mengapa Dapur Rakyat Justru Makin Tercekik?
Artikel Terkait
Kolom
-
Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?
-
Mitos Kerja Keras: Saat Meritokrasi Menyalahkan Rakyat Kecil
-
Miskonsepsi Frugal Living: Romantisasi Kemiskinan di Balik Nasihat Hemat
-
Jokowi Beberkan Ijazah Asli di Sidang, Roy Suryo Malah Tertawa: Bisa Dipidana Jika Tudingan Meleset?
-
Fenomena Blind Box: Antara Sensasi Kejutan hingga Risiko Perilaku Konsumtif
Terkini
-
Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS
-
Webtoon Ayah, Aku Tidak Mau Menikah: Ketika Salah Paham Jadi Komedi Terbaik
-
Mundur ke Era 1950-an, Netflix Garap Prekuel Stranger Things: Other Worlds
-
Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4
-
Review Merry Berry Love: Kisah Cinta Desainer Korea dan Petani Stroberi