Media sosial kembali ramai membicarakan gaya hidup mewah seorang influencer setelah Hanum Mega menggelar pesta ulang tahun ke-26 di MOJA Museum, Jakarta, pada Minggu (20/9/2026).
Perayaan tersebut mengusung tema Y2K Gyaru dan dihadiri sejumlah nama dari kalangan artis serta influencer. Berbagai dokumentasi suasana pesta yang beredar di media sosial kemudian memancing respons beragam dari warganet.
Sebagian warganet mempertanyakan kemeriahan acara tersebut dengan situasi ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat. Istilah “in this economy” bahkan muncul dalam kritik terhadap pesta itu, dengan anggapan bahwa figur publik seharusnya lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya.
Namun, ada pula sudut pandang yang berbeda. Hanum menyoroti lebih dari 50 vendor yang terlibat dalam acara tersebut dan menyebut mereka turut mendapatkan pekerjaan dari pesta yang digelar.
Lantas, di tengah dua pandangan tersebut, bagaimana seharusnya kita melihat kebiasaan influencer mempertontonkan kemewahan di media sosial?
Kaya Boleh, tapi Perlukah Dipamerkan?
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras sendiri. Kalau punya uang dan ingin mengadakan pesta besar, membeli barang mahal, atau berlibur ke tempat mewah, itu tentu hak masing-masing. Namun, ceritanya bisa berbeda ketika semua kemewahan tersebut sengaja dibawa ke media sosial dan dijadikan tontonan publik.
Influencer hidup dari perhatian. Mereka membangun audiens dengan membagikan sebagian kehidupan pribadi, termasuk gaya hidup yang mereka jalani. Dalam hal ini, konten kemewahan memiliki unsur pertunjukan di sana.
Di sinilah kritik terhadap budaya pamer menjadi masuk akal. Bukan karena orang kaya harus berpura-pura miskin, tetapi karena tidak semua hal yang bisa dilakukan perlu dipertontonkan. Apalagi, kemewahan yang terus-menerus ditampilkan bisa membuat gaya hidup konsumtif terlihat seperti sesuatu yang normal, bahkan ideal untuk dikejar.
Influencer Juga Punya Tanggung Jawab Sosial
Menjadi influencer memang tidak otomatis membuat seseorang harus menjadi aktivis sosial. Mereka tetap punya ruang untuk menjalani kehidupan pribadi dan membagikan hal-hal yang mereka sukai.
Namun, posisi sebagai influencer membuat apa yang mereka tampilkan mendapat perhatian lebih besar. Ada audiens yang mengikuti, memperhatikan, bahkan menjadikan gaya hidup mereka sebagai acuan.
Dari sana, konten tentang barang mahal, pesta mewah, atau kehidupan serba berlebihan bisa ikut membentuk gambaran tentang seperti apa kehidupan yang dianggap sukses dan menarik.
Di sinilah tanggung jawab sosial seorang influencer layak dibahas. Bukan berarti mereka harus menyembunyikan kekayaan atau berhenti menunjukkan kehidupan mewah. Namun, ada baiknya tetap menyadari bahwa setiap konten hadir di tengah kondisi sosial tertentu. Apa yang terlihat sebagai hiburan bagi satu orang bisa saja terasa berbeda bagi orang lain yang sedang menghadapi keadaan ekonomi yang jauh lebih sulit.
Apalagi, menyebut diri sebagai influencer berarti mengakui bahwa ada orang yang terpengaruh oleh apa yang dilakukan. Rasanya agak janggal kalau status sebagai “influencer” dipakai untuk membangun karier dan mendapatkan keuntungan, tetapi seolah tidak berlaku lagi ketika publik mulai mengkritik konten yang dibuat.
Penonton Juga Punya Peran
Di sisi lain, budaya pamer juga tidak akan berkembang sebesar ini tanpa orang yang terus menontonnya. Rasa penasaran, kagum, bahkan kesal sama-sama bisa membuat sebuah konten ramai. Di media sosial, perhatian tetap dihitung sebagai engagement, apa pun alasan orang melihatnya.
Oleh karena itu, publik sebenarnya punya pilihan untuk menghentikan konten serupa beredar di media sosial. Tidak harus ikut mencaci atau memperpanjang perdebatan. Berhenti mengikuti, tidak membagikan, atau sekadar melewati kontennya juga bisa menjadi bentuk pilihan sebagai penonton.
Kalau konten kemewahan terus mendapat banyak perhatian, tidak heran kalau konten seperti itu terus dibuat. Influencer memang bebas menentukan apa yang ingin dibagikan, tetapi penonton juga punya peran dalam menentukan konten mana yang terus mendapat tempat di media sosial.
Baca Juga
-
Kerja Keras Tak Menjamin Naik Kelas, tapi Si Miskin Dianggap Kurang Berusaha
-
Rakyat Didorong Berwirausaha, Pungli Menghadang di Depan Mata
-
Ulasan Lie After Lie: Saat Kebohongan Menjadi Satu-satunya Jalan Keluar
-
Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
Artikel Terkait
-
Seberapa Kaya Hanum Mega? Viral Gelar Pesta Ulang Tahun di Kawasan GBK
-
Influencer Promosikan Investasi Ilegal Dipanggil OJK, Kode Referral Berhadiah Jadi Sorotan
-
Aisar Khaled Dipolisikan terkait Penipuan hingga Pencucian Uang
-
Sentuh Hati Jutaan Orang, Kreator Asal Aceh Zia Maulidin Raih 2,2 Miliar Likes Lewat Konten Healing
-
Viral Tanpa Rencana, Aksi Dermawan Ni Kadek Indrayoni Tembus 6 Juta Penonton!
Kolom
-
Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?
-
Relationship di Era Gen Z: Ketika Love Language Bukan Satu-satunya Ukuran
-
Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Mulai Melihat Kemiskinan secara Sistemik?
-
Bukan Tak Tahu Diri, Ini Alasan Lulusan Kabupaten Berhak Ajukan Gaji Tinggi
-
Terjebak Situationship yang Melelahkan? Ini Alasan Sikap 'Si Paling Cuek' Tak Lagi Keren
Terkini
-
Review Gundam Hathaway 2: Intrik Cinta Segitiga dan Bayang Trauma Masa Lalu
-
5 Rahasia Tetap Bahagia di Tempat Kerja Meski Rutinitas Sedang Membosankan
-
Oh My Guard Tayang Oktober, Intip Poster Jung Yong Hwa dan Hong Seung Hee!
-
Intermittent Fasting Makin Booming, Baik atau Sekedar Gimik?
-
Sinopsis The Winner, Dracin Terbaru Tian Xi Wei dan Wei Da Xun di Youku