Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Timnas Indonesia bersama suporter. (pssi.org)
Rana Fayola R.

Dua tahun terakhir bagaikan mimpi buruk yang terus menghantui para suporter Timnas Indonesia. Lantaran beberapa waktu lalu, Pasukan Garuda mulai mengepakkan sayap dan menunjukkan kebolehannya di berbagai panggung bergengsi.

Perlahan, harapan mulai tumbuh. Para suporter pun kembali percaya bahwa Timnas Indonesia sedang berada di jalur yang tepat.

Namun, performa demi performa justru menunjukkan kemunduran. Baik di kelompok umur maupun senior. Dari keberhasilan lolos ke ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, hingga gagal menembus babak semifinal Piala AFF meski menurunkan skuad yang menjanjikan.

Dari yang mampu menumbangkan Korea Selatan lewat pertandingan penuh drama dan mendebarkan, kini Timnas Indonesia hanya mampu menahan imbang Singapura 1-1. Padahal, pada Desember 2021 lalu, Skuad Garuda sukses menekuk The Lions dengan skor telak 4-2.

Baru-baru ini, hasil imbang tersebut memupus langkah Rizky Ridho dan kawan-kawan untuk memperjuangkan gelar juara yang telah lama didambakan. Momen menyakitkan itu terjadi di Stadion Jalan Besar, Singapura, pada Jumat (7/8/2026).

Melalui Sekretaris Jendral Yunus Nusi, PSSI menegaskan bahwa kegagalan tersebut akan dievaluasi menyeluruh. Federasi bakal menggandeng Badan Tim Nasional (BTN), Komite Eksekutif (Exco), serta pelatih.

“Ketua Umum PSSI selalu melakukan evaluasi. Tidak hanya saat menghadapi kegagalan, tetapi juga dalam setiap prestasi, keberhasilan, maupun kemenangan Timnas, seperti saat melawan Mozambik, Oman, atau saat Timnas Wanita meraih juara Piala AFF Putri di Laos,” ujarnya sebagaimana diungkap Antara News, Minggu (9/8/2026).

Dalam fase grup, Indonesia hanya mampu memenangkan laga kontra Timor Leste dengan skor 3-0, sebelum akhirnya dikalahkan Vietnam 0-3 dan ditahan imbang Singapura 1-1.

Piala AFF 2026 bahkan diikuti sederet pemain naturalisasi seperti Jordi Amat, Sandy Walsh, Eliano Reijnders, Ragnar Oratmangoen, hingga Thom Haye. Sayangnya, komposisi skuad yang terbilang menjanjikan tersebut masih belum mampu memberikan hasil yang memuaskan.

Timnas Indonesia Mulai Kehilangan Kepercayaan?

Permintaan maaf memang telah disampaikan, tetapi tentu tak serta-merta mampu mengobati rasa kecewa. Setelah kegagalan di ronde keempat Piala Dunia 2026, rasanya kesetiaan para suporter terus-menerus diuji.

Bahkan, sebagian penggemar setia mulai lost interest, alias tak lagi bersemangat menyaksikan kiprah Pasukan Merah Putih. Saya pribadi sedih melihat para pemain justru menjadi sasaran kekecewaan suporter akibat hasil buruk tersebut.

Belum lagi perdebatan di kolom komentar soal 'percaya proses'.

Memangnya, mau sampai kapan proses ini berlangsung?

Jika setiap benih yang mulai tumbuh menjadi tunas justru dipangkas sebelum sempat berkembang, lantas apa yang sebenarnya sedang kita tunggu?

Sejatinya, bukan kepercayaan terhadap pemain yang hilang, melainkan kepercayaan kepada federasi yang seolah memupus harapan para suporter melalui keputusan-keputusan 'aneh'.

Menariknya, sad ending di Piala AFF 2026 membuat nama Shin Tae-yong kembali menggema. Sesuatu yang sebenarnya sudah bisa ditebak.

Jasa dan kehebatan juru taktik asal Korea Selatan itu lagi-lagi diungkit. Bukan karena gagal move on, melainkan karena capaian para penerusnya sejauh ini masih belum mampu melampaui atau setidaknya menyamai pencapaiannya.

Muncul pula narasi yang membandingkan skuad besutan STY ketika mampu menumbangkan Singapura dengan komposisi pemain yang kala itu didominasi nama-nama lokal. Bisa dibilang, komposisinya tak semewah skuad yang kini ditangani John Herdman.

Keputusan PSSI untuk melengserkan Shin Tae-yong dari kursi kepelatihan Timnas Indonesia pun kembali dipertanyakan. Sebab, hasil dari keputusan tersebut justru membuat Timnas Indonesia harus kembali membangun fondasi dari awal.

Tentu, tidak ada yang bisa mengubah masa lalu. Shin Tae-yong sudah pergi, sementara John Herdman kini dipercaya menangani Skuad Garuda.

Yang tersisa adalah pertanyaan: apakah keputusan tersebut benar-benar membawa Timnas Indonesia ke arah yang lebih baik?

Sebab, suporter tidak selamanya menuntut trofi. Kami hanya ingin melihat bahwa proses yang selama ini digaungkan benar-benar membawa tim ke suatu tempat.

Kami ingin percaya bahwa setiap pengorbanan, dukungan, kritik, bahkan kekecewaan yang diberikan tidak berakhir sia-sia.

Semoga, semoga Skuad Garuda bisa lekas pulih~