M. Reza Sulaiman | Hijjatul Isnaini
Desa Adat Kemiren (Image by Peter Loh)
Hijjatul Isnaini

Jam dua siang adalah jam paling rawan dalam rutinitas saya. Setiap hari, saya menjemput salah satu anak saya pulang sekolah naik motor. Begitu keluar gerbang sekolah, seperti biasa dia langsung mulai bercerita. Ceritanya loncat ke mana-mana, mulai dari temannya yang lupa bawa buku sampai guru yang memberi bintang.

Saya cukup mengangguk sambil fokus lihat jalan, sesekali merespons singkat. Belum sampai lima menit, volume suaranya mulai mengecil.

 Kalau saya melirik lewat kaca spion, kepalanya sudah mulai miring dan helmnya pelan-pelan menyentuh punggung saya. Si kecil tertidur lelap di atas jok motor yang sempit, seolah menemukan tempat paling nyaman di dunia, ah randomnya… pikir saya.

Kebingungan kecil semacam itu mungkin remeh, tapi terkadang justru dari hal-hal yang sederhana kita dibawa merenung lebih jauh. Misalnya, tentang bagaimana sebuah tempat bisa begitu lekat dalam ingatan, membuat siapa saja yang datang merasa betah—bahkan enggan beranjak pulang.

Persis seperti perasaan saya ketika pertama kali "tersesat" dalam cerita tentang Desa Kemiren di Banyuwangi, Jawa Timur.

Menyapa "Living Museum" di Tanah Osing

Seandainya Anda penat dengan hiruk-pikuk kota dan butuh tempat untuk kembali ‘menapak tanah’ dalam hidup, sesekali cobalah melipir ke pedesaan. Datanglah ke Desa Kemiren di Kecamatan Glagah. Di sana, hamparan sawah yang sejuk langsung menyambut, menawarkan ketenangan yang jarang kita temukan di jalanan beraspal kota besar.

Tapi, ada alasan yang jauh lebih kuat mengapa desa seluas 177 hektare dengan sekitar 2.500 jiwa ini begitu istimewa. Kemiren adalah rumah bagi masyarakat Suku Osing, sebuah komunitas yang nama sukunya berarti ‘Bukan’, menandakan bahwa tradisi mereka punya jalurnya sendiri, tidak sama persis dengan orang Jawa maupun Bali.

Di sini, tradisi bukanlah sekadar tontonan museum yang berdebu. Ia hidup. Ia bernapas dalam ritual Tumpeng Sewu, dalam derap magis Barong Ider Bumi, merdunya musik tradisional, hingga arsitektur rumah kayu unik yang berdiri kokoh tanpa sekat modernitas yang berlebihan. Kemiren adalah sebuah living museum yang autentik.

Namun, yang membuat saya paling takjub bukanlah sekadar budayanya yang kuno dan lestari. Pertanyaan terbesarnya adalah: Bagaimana bisa sebuah desa dengan dua ribuan penduduk sanggup melayani lebih dari 3.000 wisatawan setiap tahunnya?

Jawabannya ternyata bermuara pada satu nama: Mohammad Edy Saputro, atau yang akrab disapa Kang Edai.

Kang Edai dan Tangan Dingin Perubahan

Foto tangkapan layar "Mepe Kasur" , doc. IG desa kemiren

Dulu, Kang Edai hanyalah seorang ketua desa wisata yang berjuang mengenalkan budaya Osing dengan caranya sendiri. Beliaulah yang memastikan para pelancong bisa menikmati ritual mepe kasur (merapikan kasur merah-hitam di teras rumah) atau mencicipi kopi khas lokal.

Namun, roda kehidupan berputar cepat. Titik baliknya terjadi pada tahun 2024. Melalui ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), takdir mempertemukan Kang Edai dengan PT Astra International. Desa Kemiren resmi ditunjuk sebagai bagian dari program Desa Sejahtera Astra (DSA).

Bagi Kang Edai, kedatangan Astra bukan sekadar datang membawa bantuan lalu pergi. Ini adalah soal merajut kembali potensi desa secara holistik. 

Masalahnya, adaptasi tentu bukan perkara mudah. Kang Edai harus memutar otak, menyelaraskan laporan, bernegosiasi dengan ruang-ruang privat warga, hingga belajar mengelola ritme tamu-tamu penting. Mulai dari pejabat kementerian, delegasi ASEAN, hingga perwakilan PBB yang sempat melirik langkah maju mereka hingga ke Tiongkok.

Berkat kerja keras nan gigih itu, wajah Kemiren perlahan berubah total.

Ketika Empat Pilar Mengubah Wajah Desa

Desa Kemiren, foto doc. IG @desakemiren_official

Di bawah naungan Desa Sejahtera Astra, pendampingan di Kemiren tidak hanya menyasar sektor pariwisata semata, melainkan merasuk hingga ke jantung kehidupan sehari-hari warganya melalui empat bidang utama: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Kesehatan & Pendidikan yang Tangguh: Posyandu desa kini semakin kuat dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Sementara itu, PAUD setempat diperkaya dengan sarana belajar dan alat permainan edukatif, plus kurikulum dini yang mengenalkan budaya Osing sejak anak-anak masih kecil. Generasi mudanya tidak lupa akar.

Lingkungan yang Sadar Masa Depan: Jangan bayangkan desa wisata yang kotor. Di Kemiren, kelompok sadar lingkungan dibentuk untuk mengelola sampah non-organik secara bijak. Limbah ternak disulap menjadi pupuk organik, bahkan fasilitas biogas mulai dibangun di rumah-rumah warga demi pariwisata yang berkelanjutan.

Kewirausahaan yang Menggerakkan Ekonomi: Di sinilah buah manisnya paling terasa. Kini ada sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola langsung oleh warga. Sebanyak 40 pelaku usaha lokal bergerak di bidang kuliner, kerajinan, hingga meracik Kopi Jaran Goyang yang khas. Belum lagi 40 anggota Pokdarwis yang siaga mengelola alur wisata.

Hebatnya lagi, dampak ekonomi ini nyata dirasakan di tingkat dapur rumah tangga. Rata-rata pendapatan anggota Pokdarwis melonjak sekitar 33%, dari yang mulanya Rp1,5 juta kini menyentuh angka Rp2.000.000 per bulan. Sebuah lompatan berarti bagi ekonomi pedesaan.

Pulang dengan Cerita

Perjalanan Desa Kemiren menyabet berbagai apresiasi, mulai dari penghargaan nasional seperti Wonderful Indonesia Impact, ADWI, ASEAN Tourism Award, hingga pengakuan internasional sebagai bagian dari The Best Tourism Village Upgrade Program, bukanlah kebetulan semata.

 Ia adalah hasil dari gotong royong yang konsisten antara masyarakat, local champion seperti Kang Edai, dan dukungan nyata korporasi lewat Astra.

Sore menjelang saat saya mematikan motor di garasi rumah, si kecil yang tadinya tertidur pulas di jok belakang akhirnya terbangun. Sambil mengucek mata, dia langsung nyengir dan berkata, "Bun, nanti sore main sepeda ke lapangan ya?"

Saya tersenyum. Terkadang, hidup memang tentang siklus rutinitas yang tampak berulang dan melelahkan. Tapi di sudut-sudut negeri, seperti di ujung sawah Desa Kemiren, ada cerita-cerita tentang ketulusan merawat tradisi yang tidak pernah lelah berputar.

Sebuah bukti bahwa ketika budaya dijaga dengan cinta dan digerakkan dengan kolaborasi yang tepat, kesejahteraan bukanlah angan-angan, ia tumbuh subur, menghidupkan desa, dan memeluk setiap warganya dengan hangat.

Baca Juga