Desa sering kali dibicarakan sebagai ruang yang membutuhkan pembangunan. Ketika fasilitas terbatas, ekonomi belum berkembang, atau potensi lokal belum tergarap maksimal, program pemberdayaan hadir membawa harapan perubahan. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan Desa Kemiren.
Kemiren bukanlah desa tanpa modal. Justru kekuatan utamanya telah tumbuh dari masyarakat sendiri. Desa ini dikenal sebagai ruang hidup budaya Osing melalui Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner lokal, musik tradisional, hingga arsitektur khas Osing.
Budaya tersebut tidak sekadar dipertontonkan kepada wisatawan, tetapi masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Karena itu, Kemiren memiliki daya tarik yang berbeda dari destinasi wisata yang dibangun semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar. Keaslian inilah yang menjadi salah satu kekuatan Kemiren dalam menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kang Edai, salah satu penggerak Desa Kemiren, menjelaskan bahwa kekuatan utama desa dalam mengundang wisatawan justru terletak pada upaya mempertahankan keaslian budaya.
Semakin banyak media dan perguruan tinggi yang tertarik mengenal Kemiren, semakin besar pula perhatian terhadap kehidupan budaya yang masih dipertahankan masyarakat.
Pengalaman Kang Edai menerima tamu dari Chile selama empat hari menjadi salah satu gambaran bagaimana ketertarikan terhadap budaya lokal dapat berkembang menjadi pengalaman belajar.
Tamu tersebut merupakan seorang guru dari Amerika Serikat yang sebelumnya datang ke Solo untuk mempelajari gamelan, kemudian diarahkan ke Kemiren untuk mengenal musik Banyuwangi.
Menariknya, daya tarik Kemiren tidak hanya muncul melalui promosi formal.
Menurut Kang Edai, banyak akademisi menjadikan Kemiren sebagai subjek penelitian. Bahkan, terdapat wisatawan asing yang mendapatkan nomor kontak Kang Edai melalui ChatGPT.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di tengah berkembangnya teknologi digital, daya tarik utama Kemiren bukan semata-mata strategi pemasaran.
Keaslian pengalaman dan budaya yang ditawarkan masyarakat justru menjadi modal penting dalam membangun daya tarik desa wisata.
DSA Memperluas Ekosistem Pemberdayaan Desa
Keaslian budaya menjadi modal penting, tetapi keaslian saja tidak cukup untuk membangun ekosistem desa wisata yang berkelanjutan. Sebelum bergabung dengan program Desa Sejahtera Astra (DSA), Kemiren menurut Kang Edai lebih banyak berfokus pada pengembangan kewirausahaan dan desa wisata.
Setelah masuk dalam program DSA, pendekatan pembangunan menjadi lebih luas karena mencakup empat bidang, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Dari sinilah muncul sejumlah inisiatif baru, seperti pembuatan pupuk organik dan pemilahan sampah. DSA juga menggandeng PAUD, sekolah dasar, serta Posyandu di Desa Kemiren.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa program pemberdayaan dapat memperluas cakupan pembangunan desa. Jika sebelumnya energi masyarakat lebih banyak diarahkan pada pengembangan wisata dan usaha, kini persoalan lingkungan, pendidikan, dan kesehatan ikut mendapat perhatian.
Dengan kata lain, desa wisata tidak lagi dilihat hanya sebagai mesin ekonomi, tetapi sebagai sebuah ekosistem sosial. Pembangunan tidak berhenti pada peningkatan jumlah wisatawan atau pertumbuhan UMKM, melainkan mulai menyentuh kualitas kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Dari sisi kewirausahaan, Kang Edai menilai aspek desa wisata berbasis budaya merupakan bagian yang paling terasa dampaknya. Pokdarwis menjadi pengelola utama desa wisata, tetapi mereka memiliki keterbatasan sarana.
Dukungan DSA membantu Kemiren mengikuti berbagai ajang pariwisata hingga tingkat internasional, termasuk dukungan untuk mengirim perwakilan ke ajang di Tiongkok dan Kuala Lumpur.
Menurut Kang Edai, kesempatan tersebut cukup jarang dimiliki desa wisata karena Kemiren dapat berkompetisi dan tampil dalam ruang internasional.
Capaian tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, keberhasilan pemberdayaan tidak seharusnya hanya diukur melalui penghargaan, jumlah kegiatan, atau seberapa jauh sebuah desa mampu tampil di panggung internasional.
Yang lebih penting adalah apakah dukungan tersebut mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi mereka sendiri.
Ketika Budaya Bertemu Pasar: Siapa yang Menentukan Arah Kemiren?
Di titik inilah kritik terhadap program pemberdayaan perlu dimunculkan. Program yang baik tidak selalu berarti proses penerapannya berjalan tanpa persoalan. Kang Edai mengakui adanya proses penyesuaian ketika DSA mulai diterapkan di Kemiren.
Sebagai penggerak, ia harus menyesuaikan diri dengan sistem pelaporan, koordinasi, serta berbagai hal administratif yang sebelumnya belum menjadi bagian utama dari aktivitasnya. Ia bahkan sempat mengalami kebingungan dalam memahami laporan DSA dan membangun koordinasi dengan bidang selain kewirausahaan.
Pengalaman tersebut penting karena menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan proses satu arah. Ketika sebuah program membawa sistem baru ke desa, masyarakat juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Keberhasilan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak fasilitas yang diberikan, tetapi juga pada seberapa cocok mekanisme program dengan ritme, struktur, dan kebutuhan lokal.
Bahkan persoalan lahan pribadi menjadi salah satu pertimbangan dalam menyesuaikan program.
Artinya, desain pembangunan yang terlihat ideal di atas kertas belum tentu selalu sederhana ketika bertemu dengan realitas kepemilikan dan kondisi sosial masyarakat.
Kemiren memberikan pelajaran bahwa kemajuan desa tidak seharusnya ditentukan oleh warga, pasar, atau program pemberdayaan secara terpisah.
Warga harus menjadi pemilik arah, program menjadi alat penguat, sedangkan pasar harus ditempatkan sebagai peluang yang dikelola, bukan sebagai pihak yang menentukan seluruh keputusan.
Tantangan terbesar Kemiren bukan sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Tantangannya adalah memastikan bahwa semakin terkenal Kemiren, semakin kuat pula posisi masyarakat dalam menentukan apa yang boleh dijual, apa yang harus dijaga, dan bagaimana budaya diwariskan.
Jika budaya Osing tetap hidup karena masyarakat memang memilih untuk menjaganya, maka pariwisata dapat menjadi alat pemberdayaan.
Namun, jika budaya hanya dipertahankan karena tuntutan pasar, Kemiren berisiko kehilangan sesuatu yang sejak awal membuatnya berharga, keaslian yang lahir dari kehidupan masyarakat sendiri.
Baca Juga
-
Review Dream To You: Romansa Hangat Cinta Pertama, Luka dan Impian
-
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
-
Alur Gila 'The Scarecrow': Trauma Lama, Pembunuh Berantai dan Misteri Gelap
-
Ijazah Makin Tinggi, Kerja Layak Makin Langka: Siapa yang Gagal?
-
Jorge Messi Wafat, Sosok Penting di Balik Karier Lionel Messi
Artikel Terkait
-
From Zero to Hero, Kisah Kang Edai Bawa Budaya Osing Mendunia
-
Saat Budaya Osing dan Senyum Astra Menggerakkan Desa di Ujung Sawah Kemiren
-
Menemukan Makna Pulang di Les: Belajar dari Nyoman Nadiana dan Desa Sejahtera Astra
-
Tour de Les dan Perjuangan Bli Nyoman Mengubah Sepinya Bali Utara
-
Evolusi Kemiren: Dialektika Kepemimpinan Kang Edai dan Ekosistem DSA
Kolom
-
Polemik Hafalan Al-Qur'an dan Hadiah Miras: Ketika Gimik Marketing Menabrak Sakralitas Agama
-
Merdeka dari Ekspektasi Orang Lain: Perjalanan Temukan Versi Diri Sendiri
-
Menggali Ketakutan Kolektif di Balik Larisnya Film Mistik Kita
-
Sarjana Beban Industri: Sampai Kapan Lulusan Diminta "Langsung Jadi"?
-
Saat Budaya Osing dan Senyum Astra Menggerakkan Desa di Ujung Sawah Kemiren
Terkini
-
Melamban Bukan Hal yang Tabu, Ini Pelajaran dari Lagu 33x Perunggu
-
Iko Uwais Terpilih Jadi Juri Jackie Chan International Action Film Week
-
4 Facial Foam Lokal Glutathione Atasi Wajah Kusam Akibat Aktivitas Outdoor
-
V BTS Ungkap Alami Gangguan Pendengaran, Makin Buruk saat Jalani Wamil
-
Ulasan Kapan Nanti: Delapan Kisah Surealis tentang Trauma dan Kepahitan Hidup