Awalnya, liputan saya ke Pasar Godean bermula dari niat mencari cerita tentang keripik belut, kuliner yang selama ini melekat dengan identitas Godean.
Saya membayangkan akan menemukan cerita tentang makanan khas, pedagang yang bertahan puluhan tahun, dan sajian keripik belut yang sudah menjadi oleh-oleh bagi orang yang datang ke kawasan ini.
Namun, percakapan saya dengan seorang pedagang keripik belut bernama Ibu Parnah justru membawa cerita ke arah yang berbeda.
Perempuan yang telah berjualan sejak 1990 itu mengatakan bahwa dirinya justru lebih senang ketika berjualan di lokasi lama, di pinggir jalan. Menurutnya, dahulu pembeli bisa berhenti sebentar, membeli keripik seharga Rp5.000, lalu melanjutkan perjalanan. Kini, setelah berpindah ke gedung baru, ia merasa akses pembeli menjadi jauh lebih sulit.
Cerita tersebut membuat saya melihat kembali persoalan revitalisasi pasar dari sudut yang berbeda. Ibu Parnah tidak mengatakan bahwa gedung Pasar Godean buruk. Sebaliknya, ia mengakui bahwa pasarnya sekarang bagus.
Masalahnya justru terletak pada hubungan antara bangunan tersebut dengan aktivitas ekonomi di dalamnya. Ia mengaku dahulu bisa membawa pulang sekitar Rp1 juta sehari, sedangkan setelah pindah, dagangannya terkadang tidak laku sama sekali.
Ia juga mengatakan lapak keripik belut kini berada di bagian belakang sehingga menurutnya identitas keripik belut sebagai salah satu ikon Pasar Godean ikut kehilangan visibilitas.
Revitalisasi Tidak Berhenti pada Bangunan
ripik belut Pasar Godean Baru, Kamis (13/8/2026). Tampak gerobak etalase 'Keripik Belut VIA' berdiri tanpa hiruk-pikuk pengunjung di tengah lorong pasar yang dihiasi pernak-pernik Merah Putih. (Dok. Istimewa/Yoursay)
Persoalan yang disampaikan Ibu Parnah sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Penelitian UGM mengenai relokasi pedagang keripik belut Godean pada periode sebelumnya menemukan bahwa pemindahan pedagang ke lokasi baru diikuti perubahan penataan, fasilitas, jumlah pengunjung, dan omzet.
Penelitian tersebut mencatat bahwa omzet serta jumlah pengunjung mengalami penurunan terutama pada masa awal relokasi, sehingga pedagang kemudian melakukan berbagai bentuk penyesuaian.
Artinya, pengalaman Ibu Parnah hari ini menarik di samping memang ia datang sebagai keluhan dari seorang pedagang, juga karena ia memperlihatkan kembali persoalan lama dalam bentuk yang baru, yakni memindahkan pedagang secara fisik tidak sama dengan memindahkan keramaian ekonomi.
Hal serupa juga terlihat dalam penelitian mengenai revitalisasi Pasar Sentul di Yogyakarta. Penelitian tersebut menemukan bahwa revitalisasi memang memperbaiki fasilitas fisik dan kenyamanan lingkungan pasar, tetapi pada saat yang sama sebagian pedagang mengalami penurunan jumlah pembeli dan perubahan interaksi sosial.
Studi mengenai Pasar Prawirotaman juga menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan pembeli setelah revitalisasi tidak otomatis diikuti peningkatan kesejahteraan penjual.
Temuan-temuan ini memberi satu pelajaran bahwa keberhasilan revitalisasi seharusnya di samping memang dinilai dari seberapa bagus gedung yang berhasil dibangun, ia juga dapat dinilai dari apakah aktivitas ekonomi dan sosial di dalamnya ikut hidup.
Pasar adalah Ekosistem, Bukan Sekadar Gedung
Di sinilah konsep place-making menjadi relevan. Sebuah ruang tidak otomatis menjadi tempat yang hidup hanya karena memiliki bangunan yang bagus.
Sebuah pasar menjadi hidup karena terdapat pertemuan antara pedagang, pembeli, akses, kebiasaan, komoditas, dan interaksi sosial yang berlangsung berulang-ulang.
Karena itu, ketika pedagang dipindahkan dari tempat yang mudah terlihat ke ruang yang lebih tertutup, ketika pelanggan harus mencari kembali posisi pedagang langganannya, atau ketika pembeli membutuhkan usaha lebih besar untuk sekadar berhenti dan bertransaksi, perubahan kecil tersebut dapat memengaruhi pengalaman pasar secara keseluruhan.
Ini pula yang membuat persoalan Pasar Godean tidak sesederhana pertentangan antara pasar lama dan pasar baru. Bangunan baru tetap penting.
Fasilitas yang lebih bersih, tertata, dan nyaman tentu merupakan kemajuan yang layak diapresiasi. Namun, pasar rakyat memiliki logika yang berbeda dari sekadar proyek pembangunan fisik.
Ia membutuhkan arus manusia. Ia membutuhkan pembeli yang datang, pedagang yang bertemu pelanggan, serta komoditas yang mudah ditemukan. Dengan kata lain, infrastruktur menyediakan panggung, tetapi manusia dan aktivitas ekonomilah yang membuat pertunjukan berlangsung.
Setelah Gedung Selesai, Pekerjaan Tidak Lantas Usai Juga
Karena itu, revitalisasi Pasar Godean sebaiknya tidak dianggap selesai ketika pedagang sudah menempati gedung baru. Tahap berikutnya justru adalah memastikan bagaimana pasar tersebut kembali menemukan ritmenya.
Cerita Ibu Parnah tentang akses parkir, posisi lapak, dan sulitnya pembeli berhenti sebentar seharusnya dapat dibaca sebagai masukan mengenai pengalaman pengguna pasar, bukan semata-mata sebagai keluhan individu. Apalagi keripik belut memiliki posisi kultural sebagai salah satu identitas kuliner Godean.
Jika komoditas yang selama puluhan tahun menjadi daya tarik justru semakin sulit ditemukan, maka persoalannya bukan melulu tentang satu pedagang yang kehilangan pembeli, tetapi juga tentang bagaimana identitas sebuah pasar dipertahankan di dalam ruang yang baru.
Pada akhirnya, pasar yang berhasil direvitalisasi adalah pasar dengan lantai yang bersih, bangunan yang megah, lapak yang tertata, dan juga pasar yang membuat pedagang merasa memiliki ruangnya, membuat pembeli mudah datang, dan membuat aktivitas ekonomi kembali berputar.
Revitalisasi seharusnya tidak berhenti ketika gedung selesai dibangun. Justru pada saat itulah pekerjaan yang lebih sulit dimulai, yaitu menghidupkan kembali pasar sebagai sebuah ruang ekonomi dan sosial.
Tag
Baca Juga
-
Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi
-
Lomba Menghias Pasar Godean HUT ke-81 RI, Jadi Wujud Syukur Pedagang
-
Rahasia Sukses Horor Indonesia: Mengapa Formula Mitos Lokal Selalu Laris?
-
Kang Edai dan Upaya Menjaga Budaya Osing Tetap Hidup di Kemiren
-
Etika Pakai Smart Glasses di Ruang Publik, Ini Kata Komdigi
Artikel Terkait
Kolom
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Membaca Daya Beli dari Antrean SPBU: Potret Ekonomi di Balik Pilihan BBM
-
Serahkan Gadget ke Anak demi WFH: Dosa Seorang Ibu atau Cela Sistem?
-
Rahasia Sukses Horor Indonesia: Mengapa Formula Mitos Lokal Selalu Laris?
Terkini
-
Kisah Bli Nyoman 'Don Rare': Pulang Kampung Mengubah Garam Desa Les Jadi Emas Pariwisata
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
-
Intens Tapi Groovy, NCT 127 Ungkap Pesan dan Energi Positif di Album BLINGY
-
Sukses Besar! Tim Produksi Ungkap Keinginan Buat Sekuel The Breakfast Club
-
4 Rekomendasi HP Samsung RAM 12 GB Terbaik Agustus 2026, Performa Ngebut untuk Multitasking