Pagi di pesisir utara Bali punya ritme yang berbeda dari sisi selatannya yang riuh oleh turis. Di Desa Les, Buleleng, matahari terbit pelan-pelan di atas laut yang tenang, disambut oleh warga yang sudah lebih dulu bergerak ke arah palungan-palungan garam dan perahu-perahu nelayan yang bersandar semalaman. Tak ada gemuruh klakson, tak ada gemerlap bar tepi pantai. Yang ada hanyalah suara ombak kecil, angin laut yang membawa aroma garam, dan warga yang menjalani rutinitas yang sudah diwariskan sejak berpuluh tahun lalu.
Desa pesisir semacam ini sebenarnya menyimpan dilema klasik. Laut memberi penghidupan, tapi juga rentan membuat warganya terjebak dalam siklus yang itu-itu saja, hasil tangkapan yang naik turun, harga jual yang ditentukan tengkulak, dan generasi muda yang akhirnya memilih pergi karena merasa kampung halamannya tak punya masa depan. Tak sedikit desa pesisir di Indonesia yang akhirnya kehilangan dua hal sekaligus, kehilangan ekonominya dan kehilangan identitasnya. Namun Desa Les mencoba menulis cerita yang berbeda.
Sejak bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra pada 2024, Desa Les tak sekadar menjadi penerima bantuan yang pasif. Ia bertransformasi menjadi ruang belajar bersama, tempat warga, BUMDes Giri Segara, dan Pemerintah Provinsi Bali duduk satu meja merawat potensi yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, terpisah, dan kurang bertenaga. Potensi itu bukan cuma soal ekonomi. Ia menyangkut bagaimana laut, garam, dan tradisi tetap punya tempat di tengah derasnya arus perubahan zaman, dan bagaimana empat pilar kontribusi sosial Astra, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, dirajut menjadi satu kesatuan yang saling menopang.
Kalau ingin memahami jiwa Desa Les, mulailah dari palungannya. Di sepanjang pesisir desa ini, ada tradisi yang bertahan jauh sebelum kata "sustainability" jadi topik pembicaraan dunia, produksi garam palungan. Prosesnya sederhana namun penuh kesabaran, air laut dialirkan ke palungan-palungan kayu, dijemur di bawah terik matahari, tanpa bahan kimia, tanpa mesin pengolah modern. Yang bekerja di sini bukan pabrik, melainkan waktu, panas, dan tangan warga yang sudah hafal betul kapan air laut siap mengkristal menjadi butiran putih.
Dari proses yang terlihat sederhana itu, setiap panen di musim kemarau bisa menghasilkan dua hingga tiga ton garam. Angka ini mungkin terdengar kecil bila dibandingkan produksi garam industri, tapi bagi warga Desa Les, setiap butir garam itu punya nilai yang jauh lebih besar dari sekadar bumbu dapur. Ia adalah warisan, sekaligus taruhan hidup yang mereka pertahankan di tengah gempuran garam pabrikan yang jauh lebih murah dan mudah didapat.
Titik baliknya datang ketika BUMDes Giri Segara membuka jalan pemasaran yang lebih luas, dan Pemerintah Provinsi Bali mulai rutin membeli sekitar satu ton garam per bulan, senilai kurang lebih Rp25 juta. Angka itu bukan sekadar transaksi jual beli. Ia adalah pengakuan, bahwa cara lama yang selama ini dianggap "kalah zaman" ternyata masih punya tempat, bahkan punya nilai jual yang kompetitif justru karena kealamiannya. Petani garam yang dulu mungkin ragu meneruskan tradisi ini ke anak-anaknya, kini punya alasan lebih kuat untuk bertahan. Garam palungan Desa Les tak lagi hanya berhenti di dapur-dapur rumah tangga tetangga, ia menembus pasar yang lebih luas, membawa nama desa sekaligus membuktikan bahwa tradisi yang dijaga dengan konsisten justru punya nilai yang tak lekang oleh waktu.
Merawat Laut, Menanam Harapan yang Belum Terlihat
Kalau garam adalah wajah Desa Les yang terlihat jelas di permukaan, terumbu karang adalah jiwanya yang tersembunyi di bawah air. Ekosistem ini sering luput dari perhatian karena keindahannya tak kasat mata dari daratan, jauh dari pandangan warga yang sibuk dengan urusan di darat. Padahal dari karang-karang inilah ikan berkembang biak, dari sanalah nelayan menggantungkan masa depan tangkapannya, dan dari sanalah keseimbangan laut Desa Les dijaga.
Warga Desa Les memilih untuk tidak menunggu kerusakan datang lebih dulu baru bertindak. Lewat kegiatan konservasi dan transplantasi terumbu karang, mereka menanam harapan di dasar laut, sebuah investasi yang hasilnya baru bisa dinikmati bertahun-tahun kemudian, bahkan mungkin baru dirasakan penuh oleh generasi setelah mereka. Ini bukan pekerjaan yang instan dan tak akan pernah viral dalam semalam, tapi justru di situlah letak kedewasaan sebuah desa, mau merawat sesuatu yang manfaatnya belum tentu bisa mereka nikmati sendiri secara utuh, melainkan diwariskan untuk anak cucu yang akan datang.
Semangat menjaga lingkungan itu tak berhenti di laut, ia berlanjut ke darat lewat program Les Grow. Sampah daun yang selama ini dianggap sekadar kotoran yang perlu dibakar atau dibuang, kini diolah menjadi pupuk kompos, dikelola langsung oleh TPST desa. Warga diajak memilah sampah dari rumah masing-masing, sebuah kebiasaan kecil yang butuh waktu untuk ditanamkan, namun perlahan mulai menjadi rutinitas baru. Sebagian hasil kompos bahkan dijual kembali dan memberi nilai ekonomi tambahan bagi pengelolanya. Sampah yang dulu dibuang begitu saja kini berputar menjadi berkah, sebuah siklus kecil yang mengajarkan warga bahwa keberlanjutan tidak melulu soal proyek besar dan mahal, tapi bisa dimulai dari halaman rumah sendiri.
Kesehatan, Fondasi yang Sering Terlupakan
Di balik cerita tentang garam dan laut yang mungkin lebih menarik untuk difoto, ada satu pilar yang justru menjadi fondasi paling mendasar bagi keberlangsungan Desa Les, yaitu kesehatan ibu dan anak. Tanpa generasi yang tumbuh sehat, tak akan ada tangan-tangan baru yang meneruskan tradisi menjemur garam atau merawat terumbu karang di masa depan.
Kader kesehatan desa bersama warga aktif menjalankan Posyandu secara rutin, memberikan edukasi kehamilan bagi para calon ibu, hingga memastikan anak-anak dengan risiko stunting dan gizi buruk mendapatkan makanan tambahan secara berkala. Pekerjaan semacam ini jarang mendapat sorotan besar, tak ada panggung meriah atau penghargaan yang berkilau untuknya. Namun justru di sinilah pondasi sebuah desa sesungguhnya dibangun, dari dapur-dapur rumah tangga, dari timbangan bayi di Posyandu, dari perhatian kecil yang diberikan berulang kali tanpa lelah. Desa yang kuat secara ekonomi tapi rapuh kesehatannya hanya akan menjadi kemajuan yang berumur pendek, dan warga Desa Les tampaknya memahami betul prinsip itu.
Generasi Muda, Penjaga Estafet yang Tak Ingin Pergi
Kalau ada satu hal yang paling menentukan nasib sebuah desa pesisir di masa depan, itu adalah keberanian generasi mudanya untuk tetap tinggal, bukan sekadar bertahan karena tak punya pilihan, tapi tinggal karena melihat harapan. Desa Les mencoba menjawab tantangan ini bukan dengan janji manis semata, melainkan dengan bekal yang bisa langsung dipegang dan dipraktikkan.
Kelas bahasa Inggris dan pelatihan kepariwisataan dihadirkan untuk menyiapkan anak-anak muda desa menjadi local guide, pemandu yang kelak menyambut wisatawan yang datang menikmati air terjun Les, pesisir yang tenang, hingga menyaksikan langsung kehidupan nelayan dan petani garam tradisional. Program "kelas alam" yang melibatkan sekitar 15 peserta dari jenjang SD hingga SMA/SMK ini mungkin terdengar sederhana dari sisi jumlah, tapi setiap peserta di dalamnya adalah calon penjaga estafet identitas desanya sendiri.
Anak-anak dan remaja ini tumbuh dengan pemahaman yang berbeda dari generasi sebelumnya, bahwa desanya bukan tempat yang harus ditinggalkan untuk mencari peruntungan di kota besar, melainkan tempat yang bisa memberi penghidupan jika dikelola dengan cermat dan penuh kebanggaan. Mereka belajar bahasa asing bukan untuk melarikan diri dari kampung halaman, tapi untuk membawa dunia luar datang mengenal kampung halamannya. Sebuah pergeseran cara pandang yang kecil, namun bisa menentukan arah desa ini dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.
Homestay, Air Terjun, dan Wajah Baru Pariwisata Desa
Selain garam dan laut, Desa Les juga diam-diam menyimpan magnet lain bagi wisatawan, air terjun Les yang menyegarkan, garis pesisir yang masih asri, serta pengalaman menyaksikan langsung aktivitas nelayan tradisional yang jarang ditemui di destinasi wisata arus utama. Alih-alih membangun resor besar yang mengubah wajah desa secara drastis, warga memilih jalan yang lebih pelan namun lebih tahan lama, mengembangkan homestay berbasis masyarakat.
Pendekatan ini membuat wisatawan tak sekadar datang, memotret, lalu pergi. Mereka menginap di rumah warga, menyantap hasil laut bersama keluarga tuan rumah, mungkin ikut turun ke palungan garam di pagi hari atau menyaksikan proses transplantasi karang di siang harinya. Pariwisata semacam ini memang tak akan menghasilkan lonjakan pengunjung dalam semalam, tapi ia memberi sesuatu yang lebih berharga, keuntungan ekonomi yang berputar langsung ke kantong warga, bukan mengalir ke investor dari luar desa.
Dampak yang Tak Sekadar Angka di Atas Kertas
Dalam kurun waktu tak sampai dua tahun sejak bergabung dengan Desa Sejahtera Astra, perubahan di Desa Les mulai terlihat nyata dan bisa dirasakan langsung oleh warganya. Program ini telah menjangkau lebih dari 800 warga, mendorong kenaikan pendapatan masyarakat hingga 25 persen, membuka lapangan kerja baru bagi puluhan orang, serta membuat produk lokal terserap penuh oleh pasar hingga 100 persen. Angka-angka ini bukan sekadar laporan yang berhenti di atas kertas atau slide presentasi, melainkan cerminan dari dapur yang lebih hangat, anak-anak yang lebih sehat lewat kegiatan Posyandu dan edukasi kehamilan yang konsisten, serta warga yang punya alasan lebih kuat untuk percaya pada masa depan desanya sendiri.
Puncaknya, kerja keras kolektif warga, BUMDes, dan pendamping program ini diganjar penghargaan Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata. Penghargaan ini bukan sekadar trofi yang dipajang di kantor desa, melainkan pengakuan yang menegaskan bahwa Desa Les bukan hanya berhasil menjaga tradisinya di tengah godaan modernisasi, tapi juga berhasil mengemasnya menjadi daya tarik yang diakui secara nasional, tanpa harus mengorbankan jati dirinya sendiri.
Ketika Tradisi dan Kemajuan Berjalan Beriringan
Kisah Desa Les sesungguhnya mengajarkan satu hal yang sederhana namun sering dilupakan banyak desa lain, bahwa menjaga identitas dan mengejar kemajuan bukanlah dua jalan yang harus dipilih salah satu. Petani garam tetap setia pada cara leluhurnya sambil membuka pasar yang lebih luas. Warga menjaga terumbu karang di bawah laut sambil menyambut wisatawan yang datang dari daratan. Kader kesehatan tetap telaten menimbang bayi-bayi di Posyandu sambil generasi mudanya belajar bahasa asing untuk menjadi pemandu wisata. Semuanya berjalan bersamaan, saling menopang, bukan saling meniadakan.
Di tengah desa-desa lain yang mungkin masih bergulat menentukan arah pembangunannya, memilih antara mempertahankan tradisi atau mengejar modernisasi, Desa Les sudah selangkah lebih maju. Ia membuktikan bahwa laut, garam, dan tradisi bukan beban masa lalu yang harus ditinggalkan demi kemajuan, melainkan modal masa depan yang justru harus terus dirawat agar kemajuan itu sendiri punya akar yang kuat.
Namun perubahan sebesar ini tentu tak lahir dari kerja sendirian. Di balik setiap palungan garam yang kini menembus pasar lebih luas, di balik setiap karang yang ditanam kembali, di balik setiap anak muda yang berani bermimpi menjadi pemandu wisata tanpa harus merantau, ada tangan pendamping yang setia berjalan bersama warga, salah satunya lewat program Desa Sejahtera Astra. Astra tidak datang membawa proyek instan yang selesai begitu seremoni dibubarkan, ia hadir dengan pendekatan yang lebih sabar, mendengarkan dulu apa yang sesungguhnya dibutuhkan desa, baru kemudian merajut program kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan menjadi satu ekosistem yang saling menopang.
Pendekatan semacam ini yang membuat bantuan tidak terasa sebagai belas kasihan dari luar, melainkan sebagai ruang bagi warga untuk menemukan kembali kepercayaan diri atas apa yang sudah mereka miliki sejak lama. Astra tidak mengubah Desa Les menjadi desa lain yang asing bagi warganya sendiri, ia justru membantu Desa Les menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, tempat yang lebih sehat, lebih terdidik, lebih lestari, dan lebih sejahtera, tanpa kehilangan wajah aslinya sebagai kampung nelayan dan petani garam di pesisir utara Bali.
Dan dari situlah identitas itu perlahan terbangun kembali, bukan identitas yang dipaksakan dari luar, melainkan identitas yang tumbuh dari akar yang memang sudah lama tertanam, hanya perlu disiram dan dirawat dengan cara yang tepat. Predikat Juara Umum ADWI 2024 hanyalah buah yang terlihat dari luar, sementara akarnya jauh lebih dalam, ada di kesabaran petani garam menjemur air laut, di keberanian warga menanam karang yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian, di kader Posyandu yang tak lelah menimbang bayi setiap bulan, dan di anak-anak muda yang kini punya alasan untuk pulang, bukan sekadar mampir.
Pada akhirnya, kisah Desa Les adalah kisah tentang bagaimana sebuah identitas yang nyaris tenggelam oleh zaman, bisa dibangkitkan kembali lewat kolaborasi yang tulus antara warga dan pendampingnya. Astra menanam benih, warga Desa Les yang merawatnya hingga tumbuh menjadi desa unggulan, desa yang tak hanya dikenal karena garamnya yang murni atau keindahan pesisirnya, tetapi juga karena keberanian warganya menjaga jati diri di tengah dunia yang terus berubah. Dan selama warga Desa Les masih setia menjemur air laut hingga mengkristal di palungan mereka, sesetia mereka menjaga karang di dasar laut dan menuntun anak-anaknya mengenal kampung halaman, identitas desa ini akan terus hidup, mekar menjadi kebanggaan bukan hanya bagi Buleleng, tapi bagi Bali dan Indonesia.
Artikel Terkait
-
Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
-
Kisah Bli Nyoman 'Don Rare': Pulang Kampung Mengubah Garam Desa Les Jadi Emas Pariwisata
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
Kolom
-
Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi
-
Body Shaming Pasca Melahirkan yang Menyamar Jadi Nasihat Sehat
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
Berburu Keripik Belut di Antara Beton Megah Pasar Godean
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
Terkini
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Nelayan Kecil Merugi, Mengapa Penangkapan Ikan Ilegal Terus Merajalela?
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
-
Kisah Bli Nyoman 'Don Rare': Pulang Kampung Mengubah Garam Desa Les Jadi Emas Pariwisata