Ada sesuatu yang agak lucu dari internet belum lama ini. Kita menggunakan TikTok untuk merindukan masa ketika TikTok belum ada. Kita membuka Instagram untuk mengingat trend yang dulu. Kita bahkan memakai algoritma untuk mencari kembali masa ketika hidup di internet terasa jauh lebih sederhana.
Fenomena itu belakangan muncul lewat tren “2026 is the new 2016”. Pengguna media sosial kembali mengunggah foto lama, musik, meme, gaya berpakaian, hingga filter Snapchat yang populer satu dekade lalu.
Tren tersebut mulai ramai pada akhir 2025 dan menyebar luas di TikTok serta Instagram pada awal 2026. Fast Company bahkan melihat 2016 sebagai salah satu tahun yang paling dirindukan Gen Z karena bertepatan dengan masa remaja atau awal kehidupan digital mereka.
Tetapi saya kira persoalannya bukan sesederhana “Gen Z kangen 2016”. Sebab, kalau kita benar-benar kembali ke 2016, belum tentu kita betah juga. Internet saat itu juga memiliki drama, hoaks, polarisasi, dan berbagai persoalannya sendiri. Yang kita rindukan mungkin bukan tahunnya, melainkan perasaan yang melekat pada tahun tersebut.
Psikologi nostalgia membantu menjelaskan hal itu. Penelitian Jeong-woo Jang, dkk. yang diterbitkan pada 2026 dalam Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking meneliti bagaimana orang menggunakan media sosial untuk kembali melihat pengalaman masa lalu.
Dalam dua eksperimen dengan masing-masing 451 dan 431 peserta, peneliti menemukan bahwa melihat kembali unggahan yang bersifat nostalgia dapat membuat seseorang mengalami mental transportation, seolah-olah secara mental dibawa kembali ke pengalaman tersebut. Pada kondisi tertentu, proses ini berkaitan dengan peningkatan emosi positif, penghargaan terhadap diri sendiri, dan perasaan bahwa hidup memiliki makna.
Dengan kata lain, ketika seseorang mengunggah foto dirinya pada 2016, bisa jadi yang sedang dicari bukan sekadar foto dengan kualitas kamera yang buruk. Ia sedang mencari kembali dirinya yang dulu.
Penelitian sebelumnya tentang nostalgic social media use bahkan menemukan hubungan antara nostalgia di media sosial, self-continuity, dan kesejahteraan emosional. Dalam penelitian terhadap 485 responden Amerika Serikat dan 1.510 responden Korea Selatan, penggunaan media sosial untuk mengenang masa lalu berkaitan dengan rasa kesinambungan antara diri masa lalu dan diri sekarang.
Lalu mengapa nostalgia itu terasa seperti kerinduan terhadap "media sosial tanpa filter"?
Sebenarnya istilah tersebut tidak sepenuhnya tepat. Media sosial 2016 juga penuh filter. Snapchat bahkan terkenal dengan filter anjing dan mahkota bunga. Yang berubah adalah hubungan kita dengan media sosial, bukan keberadaan filternya.
Dulu, sebuah foto jelek bersama teman mungkin cukup diunggah karena memang ingin dibagikan. Sekarang, sebelum mengunggah sesuatu, kita bisa memikirkan kualitas foto, jumlah likes, algoritma, personal branding, bahkan bagaimana orang lain akan menilai diri kita. Forbes mencatat bahwa nostalgia 2016 juga muncul sebagai reaksi terhadap internet yang kini dianggap semakin dipenuhi engagement bait, konten AI, dan budaya digital yang terasa lebih melelahkan. Maka mungkin inilah yang sebenarnya dirindukan yakni kehidupan yang terasa belum terlalu dikurasi.
Pada 2016, kita mungkin belum terlalu sibuk bertanya apakah diri kita cukup menarik untuk dipertontonkan. Kita hanya hidup, mengambil foto, mengunggahnya, lalu kembali bermain bersama teman.
Masalahnya, nostalgia juga bisa menipu. Washington Post menunjukkan bagaimana tren 2016 dibaca secara berbeda. Sebagian orang melihatnya sebagai masa yang lebih optimistis, sementara yang lain mengingat 2016 sebagai awal dari polarisasi politik, media yang semakin berisik, dan manipulasi media sosial.
Karena itu, saya tidak percaya bahwa 2016 benar-benar lebih baik daripada 2026. Yang kita rindukan adalah 2016 sebagaimana ia tersimpan dalam ingatan kita. Barangkali Gen Z tidak sedang ingin kembali ke masa lalu. Mereka hanya sedang mencari kembali perasaan yang pernah mereka miliki ketika hidup belum terasa seperti sebuah konten yang harus terus-menerus dipertontonkan.
Ironisnya, pencarian itu dilakukan melalui media sosial yang sama. Mungkin "2026 is the new 2016" adalah tentang cara anak muda hari ini mengatakan bahwa mereka lelah hidup di internet yang terlalu sempurna.
Baca Juga
-
Pramuka Masa Kini, Masih Relevankah Morse ketika Semua Ada di Google?
-
Jangan Habiskan Long Weekend di Rumah Saja, 8 Film Indonesia Ini Siap Temani Liburanmu!
-
Bukan Hanya di Lapangan, Ini Cara Komunitas Digital Rayakan 17-an
-
Berburu Keripik Belut di Antara Beton Megah Pasar Godean
-
Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi
Artikel Terkait
Kolom
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?
-
Pramuka Masa Kini, Masih Relevankah Morse ketika Semua Ada di Google?
-
Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
-
HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
-
Rakyat sebagai Tameng Kebijakan: Menutupi Cacat Program Lewat Narasi Mulia
Terkini
-
Ayah, Aku Hanya Ingin Didengar
-
Perjuangan Kang Edai di Kemiren, Merajut Asa Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Lebih dari Sekadar Kopi dan Hujan: Membedah Makna Spiritual Lirik Bersenja Gurau
-
Bukan Sekadar Dayang: Genduk Duku dan Perempuan yang Melawan Kuasa
-
Vivo X500 Pro Max Siap Bikin Fotografi Ponsel Makin Gila, Bawa Kamera 200MP