Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Bek karya Mahfud Ikhwan (DIVA Press)
Fathorrozi 🖊️

Terkadang sepak bola bukan sekadar permainan. Namun, ia adalah teman sepulang sekolah, alasan anak-anak kampung berkumpul menjelang sore, bahan obrolan di pos ronda, bahkan menjadi dunia kecil tempat kita belajar tentang kalah, menang, kecewa, berani, dan bertahan. Bagi sebagian orang, sepak bola mungkin akhirnya ditinggalkan karena hidup membawa kita ke jalan yang berbeda. Tetapi kenangannya sering kali tetap tinggal.

Perasaan semacam itulah yang saya rasakan setelah membaca novel Bek. Buku setebal 362 halaman ini bukan sekadar novel tentang sepak bola. Di tangan Mahfud Ikhwan, sepak bola menjelma menjadi pintu masuk untuk bercerita tentang keluarga, kampung halaman, perantauan, kemiskinan, perubahan sosial, masa kanak-kanak, cita-cita, sekaligus tentang seseorang yang memilih menjadi penjaga ketika orang-orang di sekelilingnya pergi mengejar kehidupan.

Saya menyukai cara bercerita Cak Mahfud. Itu fakta yang sulit saya bantah. Bahasanya sederhana, tetapi hasilnya megah. Ia tidak perlu menggunakan kalimat yang berbunga-bunga untuk membuat sebuah adegan terasa dalam. Justru karena dituturkan dengan tenang, beberapa bagian dalam Bek terasa semakin menghunjam.

Tokoh utama novel ini adalah Isnan, seorang anak dari Lerok, sebuah desa kecil di Jawa Timur. Isnan adalah adik Ulid, tokoh yang sebelumnya sudah dikenal pembaca melalui Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Oleh karena itu, bagi pembaca yang sudah menyelesaikan Ulid, membaca Bek seperti kembali memasuki rumah lama dan bertemu dengan orang-orang yang pernah kita kenal.

Namun, Bek memiliki suara yang berbeda. Kali ini Isnan bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama. Ia membawa kita masuk ke dalam ingatan masa kecilnya, terutama tentang kecintaannya kepada sepak bola dan posisinya sebagai bek.

Menariknya, Isnan tidak memilih menjadi striker yang mencetak banyak gol. Ia justru jatuh cinta kepada pemain belakang. Salah satu idolanya adalah Trifon Ivanov, bek tim nasional Bulgaria. Dari sinilah judul Bek memperoleh makna yang jauh lebih luas.

Bek memang bukan posisi yang paling sering mendapatkan sorotan. Striker mencetak gol, playmaker menciptakan peluang, pemain sayap berlari dengan kecepatan, kiper melakukan penyelamatan. Sementara bek lebih sering bekerja dalam diam. Ketika berhasil, orang mungkin tidak terlalu ingat. Ketika gagal, ia bisa menjadi orang pertama yang disalahkan. Tetapi bagi Isnan, menjadi bek bukan sekadar posisi dalam permainan. Bek adalah cara menjalani hidup.

Isnan tumbuh dalam keluarga yang penuh keterbatasan. Ayahnya merantau ke Malaysia. Kemudian ibunya juga pergi. Kakaknya, Ulid, pun meninggalkan rumah. Dalam keadaan seperti itu, Isnan perlahan mengambil peran sebagai penjaga rumah dan adik-adiknya. Ia seperti bek yang berdiri di depan gawang keluarganya.

“Sepakbola adalah orangtua yang menjaga dan merawatku ketika orangtuaku yang sebenarnya terlalu jauh untuk bisa melakukannya.” (hal. 221).

Kalimat tersebut bagi saya bukan sekadar ungkapan kecintaan terhadap sepak bola. Ada kesepian seorang anak di sana. Ada kebutuhan untuk menemukan sesuatu yang bisa menjadi tempat berlindung ketika keluarga tidak sepenuhnya hadir. Di titik inilah Bek terasa lebih dari sekadar novel sepak bola.

Mahfud juga berhasil menggambarkan perubahan sosial di desa Lerok. Masuknya listrik, jalan desa yang semakin baik, televisi yang mulai menjamur, perubahan pekerjaan masyarakat, hingga menghilangnya tanaman bengkuang menjadi penanda bahwa kampung tidak pernah benar-benar diam. Modernitas datang perlahan, tetapi mengubah banyak hal.

Perantauan masyarakat ke Malaysia menjadi bagian penting dalam perubahan itu. Ada yang pulang membawa uang dan harapan. Ada pula yang justru membawa persoalan. Ada yang berhasil memperbaiki kehidupan keluarga, tetapi ada pula yang pulang dalam keadaan terpuruk.

Di tengah perubahan tersebut, Isnan tumbuh sebagai anak kampung yang mencintai sepak bola. Perserok, kesebelasan kampungnya, bukan hanya tim sepak bola. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Lerok.

Saya menikmati bagian-bagian ketika sepak bola menjadi percakapan sehari-hari. Ada pertandingan tarkam, pemain-pemain yang menjadi idola, kabar sepak bola dari televisi, radio, koran, dan tabloid. Semua terasa seperti potongan kehidupan anak-anak tahun 1990-an. Di sinilah kekuatan nostalgia Bek bekerja.

Bagi saya yang pernah mengalami masa ketika sepak bola begitu dekat dengan kehidupan anak-anak kampung, beberapa bagian novel ini terasa seperti membuka kembali album lama. Ada suasana menonton televisi bersama, membicarakan pemain, bermain bola sampai menjelang magrib, atau sekadar duduk di cakruk sambil membahas pertandingan yang baru saja berlangsung. Mahfud tidak hanya menulis sepak bola. Ia menulis ingatan tentang sepak bola.

Saya juga tersenyum ketika menemukan adegan Isnan dan Muslim mencuri dan meminum air kelapa muda. Adegan sederhana semacam itu justru terasa sangat hidup. Hanya anak-anak kampung yang pernah melakukan kenakalan kecil semacam itu yang mungkin bisa merasakan lucunya secara utuh.

Bahkan saya teringat pada adegan Rasus makan pepaya di Ronggeng Dukuh Paruk. Bukan karena kedua adegan itu sama persis, tetapi karena keduanya mampu menghadirkan sesuatu yang sangat sederhana menjadi begitu membekas bagi pembaca yang memiliki pengalaman hidup serupa.

Mahfud juga pintar memainkan tempo emosi. Ada bagian yang membuat saya tersenyum, tetapi tidak lama kemudian saya dibuat diam. Ada adegan yang terasa lucu, lalu beberapa halaman berikutnya menghadirkan kesedihan tanpa perlu dipaksa.

Bagi saya, halaman 236-237 termasuk salah satu bagian yang perlu dibaca perlahan. Adegan tersebut terasa seperti klimaks sebuah film. Saya sampai ingin menahan napas karena cara Mahfud menyusun peristiwanya begitu kuat. Namun, Bek bukan novel yang sempurna tanpa catatan.

Bagi pembaca yang tidak terlalu akrab dengan sepak bola, beberapa bagian mungkin terasa cukup panjang. Nama pemain, pertandingan, istilah, sejarah klub, dan berbagai detail sepak bola memenuhi banyak bagian novel. Tetapi bagi pembaca yang pernah mengalami masa “gila bola”, semua itu justru bisa menjadi kenikmatan tersendiri.

Saya sendiri merasa ada bagian-bagian yang seperti sengaja menguji ingatan masa lalu, mulai nama pemain, pertandingan, acara olahraga di televisi, hingga budaya sepak bola pada masa ketika internet belum menjadi sumber utama informasi.

Ada pula bagian yang terasa cukup padat. Hal ini mungkin tidak terlalu mengherankan karena Bek pada awalnya hadir sebagai cerita bersambung. Ketika kemudian menjadi manuskrip utuh, kepadatan cerita tersebut masih terasa di beberapa bagian.

Namun, bagi saya, kekurangan tersebut tidak menghilangkan kekuatan utama novel ini, yaitu cara Mahfud menghidupkan sebuah dunia yang sangat akrab sekaligus sudah banyak berubah.

Yang paling saya sukai justru gagasan sederhana di balik posisi bek. Kita hidup dalam dunia yang sering memuja orang-orang yang berada di depan. Yang mencetak gol mendapat sorakan. Yang menjadi pusat perhatian mendapatkan tepuk tangan. Yang berhasil mencapai sesuatu sering dianggap paling penting.

Padahal, kehidupan membutuhkan orang-orang yang bertahan. Orang yang menjaga rumah ketika yang lain pergi. Orang yang merawat keluarga ketika yang lain sedang mengejar penghidupan. Orang yang bekerja dalam diam tanpa banyak dipuji. Oleh karena itulah, Bek terasa relevan bagi generasi muda hari ini.

Anak-anak muda sekarang hidup dalam zaman yang serba cepat. Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat setiap hari. Kesuksesan sering diukur dari popularitas, pekerjaan, penghasilan, penampilan, atau seberapa banyak orang mengetahui kita.

Novel ini seperti mengingatkan bahwa tidak semua orang harus menjadi striker. Tidak semua orang harus berada di depan. Tidak semua keberhasilan harus menghasilkan sorak-sorai.

Ada orang yang memang ditakdirkan menjadi bek, yakni menjaga keluarga, merawat orang tua, membantu saudara, bertahan ketika keadaan sulit, dan tetap menjalani hidup meskipun tidak selalu mendapatkan tepuk tangan.

Dalam salah satu bagian, Isnan mengatakan, “Jika hidup harus terus dilanjutkan, sepak bola harus terus dimainkan, bukan? Di mana pun!” (hal. 29).

Bagi saya, kalimat ini adalah salah satu kunci membaca Bek. Sepak bola pada akhirnya hanyalah metafora. Yang sedang dibicarakan Mahfud sesungguhnya adalah kehidupan. Hidup harus terus dimainkan meskipun lapangannya berubah.

Kita mungkin pernah menjadi anak yang berlari mengejar bola. Kemudian menjadi orang dewasa yang mengejar pekerjaan. Kita mungkin pernah memiliki cita-cita menjadi pesepak bola, penulis, guru, pengusaha, atau apa pun. Tetapi hidup sering membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan. Di situlah kita belajar menjadi bek.

“Orang-orang selalu bicara tentang cita-cita besar, tentang mimpi-mimpi tinggi. Yang tak pernah mereka bicarakan ketika bicara tentang mimpi adalah kita sebenarnya tak pernah bisa memilih mimpi kita...” (hal. 272).

Kemudian Isnan melanjutkan, “Jika menjadi bek atau bahkan pesepakbola profesional adalah sebuah mimpi, final yang tak pernah menjadi milik kami itu adalah tendangan di pantat yang melemparkanku dari dipan dan membangunkanku ketika keadaan belum menjadi terlalu buruk ….” (hal. 272).

Bagi saya, bagian tersebut sangat dekat dengan kehidupan anak muda. Banyak orang memiliki mimpi besar, tetapi tidak semuanya bisa mewujudkan mimpi itu. Ada yang terhenti karena keadaan ekonomi, keluarga, kesempatan, atau karena kehidupan memang membawa kita ke arah yang lain. Dan itu tidak selalu berarti kegagalan. Mungkin kita hanya sedang dipindahkan ke posisi yang berbeda.

Intinya, Bek adalah novel tentang sepak bola yang ternyata tidak berhenti pada sepak bola. Ia adalah cerita tentang kampung halaman, keluarga, perantauan, masa kecil, perubahan zaman, cita-cita, kehilangan, dan keberanian untuk tetap bertahan.

Saya menikmati novel ini bukan hanya karena sepak bolanya, tetapi karena saya merasa sedang diajak pulang ke sebuah masa yang sudah lama berlalu.

Cara Cak Mahfud bercerita membuat saya percaya bahwa nostalgia tidak selalu harus ditulis dengan kalimat yang sendu. Kadang cukup dengan cerita tentang anak-anak kampung, lapangan tanah, televisi tetangga, radio, pemain bola idola, air kelapa yang dicuri, dan sebuah kesebelasan desa bernama Perserok. Semuanya sederhana.

Identitas Buku

  • Judul: Bek
  • Penulis: Mahfud Ikhwan
  • Penerbit: DIVA Press
  • Cetakan: I, Juni 2024
  • Tebal: 364 Halaman
  • ISBN: 978-623-189-365-9
  • Genre: Fiksi / Novel