Bimo Aria Fundrika | Inesia Dian
Ilustrasi Chatgpt (Pexels/Matheus Bertelli)
Inesia Dian

Ketika sedang menghadapi masalah, seseorang biasanya mencari teman, keluarga, atau orang lain untuk diajak berbicara. Kini, ada pilihan lain yang semakin mudah dijangkau yakni, membuka aplikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Chatbot seperti ChatGPT dan layanan AI percakapan lainnya tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu menyelesaikan pekerjaan. Sebagian pengguna mulai memanfaatkannya untuk menceritakan masalah pribadi, meminta saran hubungan, mengelola stres, hingga sekadar mencari teman berbicara.

AI Tak Lagi Sekadar Menjawab Pertanyaan

Fenomena tersebut turut dicatat dalam penelitian Journal of Medical Internet Research yang diterbitkan pada 2025. Penelitian yang melibatkan 270 pengguna ChatGPT dari 29 negara itu meneliti pengalaman orang yang secara rutin menggunakan AI generatif untuk mendapatkan dukungan emosional dan kesehatan mental.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak terbatas pada kebutuhan yang berkaitan dengan informasi kesehatan mental.

Peserta juga menggunakan chatbot untuk mencari teman berbicara, meminta panduan mengenai hubungan, mengambil keputusan, hingga membantu mengelola kesejahteraan sehari-hari. Hampir seluruh peserta menilai penggunaan tersebut setidaknya cukup membantu, meski sebagian juga melaporkan pengalaman yang kurang memuaskan, seperti respons yang terasa dangkal atau kurang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Mengapa Curhat ke AI Terasa Lebih Mudah?

Salah satu alasan AI dapat menjadi tempat berbicara adalah kemampuannya merespons percakapan kapan saja. Berbeda dengan teman atau keluarga yang memiliki waktu dan kesibukan masing-masing, chatbot dapat diakses selama pengguna memiliki perangkat dan koneksi internet.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Annals of the New York Academy of Sciences pada Juni 2025 juga menemukan bahwa chatbot AI berpotensi memberikan bentuk dukungan sosial virtual. Dalam studi tersebut, respons AI yang lebih berpusat pada kebutuhan pengguna dikaitkan dengan meningkatnya perasaan tervalidasi secara emosional. Kualitas dukungan sosial dan kehangatan dalam percakapan turut memengaruhi pengalaman tersebut.

Namun, percakapan yang terasa personal tidak berarti AI memiliki pemahaman atau pengalaman emosional seperti manusia.

Ketika Dukungan Virtual Memiliki Batas

Journal of Medical Internet Research pada 2025 mengingatkan adanya sejumlah risiko dalam penggunaan chatbot sebagai alat pendukung kesehatan mental. Para ahli dalam penelitian tersebut menyoroti kemungkinan respons yang terlalu umum, risiko ketergantungan pengguna, serta persoalan kepercayaan ketika chatbot digunakan dalam percakapan yang berkaitan dengan kondisi psikologis.

Temuan serupa oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) muncul dalam penelitian eksperimental yang melibatkan 981 peserta dan lebih dari 300.000 pesan percakapan. Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan chatbot yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat kesepian, ketergantungan emosional pada AI, dan penggunaan bermasalah yang lebih tinggi, serta tingkat interaksi sosial dengan manusia yang lebih rendah.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa dampak chatbot dapat berbeda bergantung pada cara AI digunakan dan jenis percakapan yang dilakukan.

Di tengah perkembangan teknologi percakapan yang semakin menyerupai interaksi manusia, batas antara AI sebagai alat bantu dan AI sebagai tempat mencari dukungan emosional pun menjadi semakin menarik untuk diperhatikan.

Sejauh ini, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa chatbot dapat memberi ruang bagi pengguna untuk mengekspresikan pikiran atau mencari informasi dan dukungan awal.

Namun, temuan para peneliti juga menegaskan pentingnya memahami keterbatasan teknologi tersebut, terutama ketika percakapan berkaitan dengan persoalan kesehatan mental atau ketika penggunaan AI mulai menggantikan hubungan dan dukungan dari manusia.