Kabut asap kembali menjadi kabar yang terlalu akrab dari Kalimantan. Ketika langit berubah kelabu, mata perih, napas sesak, dan jarak pandang menyusut, kita kembali bertanya ini karena kemarau? El Nino? Lahan gambut? Atau ada manusia yang sengaja membakar?
Jawabannya tidak sesederhana satu penyebab.
Kemarau memang membuat vegetasi kehilangan kelembapan. Ketika curah hujan menurun dan suhu meningkat, daun, ranting, semak, serta permukaan tanah menjadi jauh lebih mudah terbakar. Fenomena El Nino dapat memperparah kondisi tersebut dengan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, kemarau seharusnya tidak otomatis berubah menjadi kebakaran hutan dan lahan dalam skala luas.
Persoalannya adalah ketika alam yang sedang kering bertemu dengan bentang lahan yang sudah rapuh akibat eksploitasi.
Kalimantan memiliki kawasan hutan hujan tropis, lahan gambut, sekaligus sumber daya mineral dan batu bara yang sangat besar. Aktivitas pertambangan, pembukaan perkebunan, pembangunan infrastruktur, dan perubahan tutupan lahan tidak selalu menjadi penyebab langsung setiap titik api. Tetapi ketika dilakukan tanpa pengelolaan yang bertanggung jawab, dampaknya dapat mengubah kemampuan suatu kawasan dalam menyimpan air dan mempertahankan kelembapan.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Kanopi pohon bekerja seperti payung raksasa. Ia mengurangi paparan langsung matahari ke permukaan tanah, membantu menjaga kelembapan, dan menciptakan mikroklimat yang lebih teduh. Ketika tutupan hutan berkurang, tanah dan vegetasi di bawahnya menerima panas lebih banyak. Dalam kondisi kemarau panjang, daun-daun kering dan material organik menjadi bahan bakar alami.
Lalu datanglah angin.
Satu titik api yang awalnya kecil dapat menyebar dengan cepat ketika bara, ranting, atau serpihan daun terbawa angin ke area lain yang sama-sama kering. Karena itu, tidak tepat pula jika setiap kebakaran langsung disimpulkan sebagai pembakaran yang disengaja. Ada kebakaran yang muncul akibat kelalaian, ada yang dipicu kondisi alam, dan memang ada pula pembukaan lahan dengan cara membakar yang kemudian menjadi tidak terkendali.
Masalah terbesar justru terletak pada bagaimana kita mengelola risiko tersebut. Jika sebuah kawasan sudah diketahui rentan terhadap kebakaran, mengapa pengawasan baru terasa serius setelah asap memenuhi udara? Jika pembukaan lahan dilakukan, apakah ada jeda yang cukup untuk memulihkan ekosistem?
Apakah kawasan yang dibabat dipetakan dengan jelas? Apakah reklamasi dan penanaman kembali benar-benar dilakukan dan dipelihara, bukan sekadar menjadi angka dalam laporan?
Begitu pula dengan lahan gambut. Gambut menyimpan karbon dan air dalam jumlah besar. Ketika kondisi hidrologinya terganggu dan gambut mengering, kebakaran dapat menjadi jauh lebih sulit dikendalikan. Api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan dan menyulitkan proses pemadaman. Karena itu, membicarakan kebakaran Kalimantan hanya dengan kalimat “ini karena kemarau” adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Kemarau mungkin menyalakan alarm. Tetapi kerentanan ekologis menentukan seberapa besar alarm itu berubah menjadi bencana.
Kalimantan tidak membutuhkan belas kasihan yang muncul setiap kali kabut asap datang. Kalimantan membutuhkan tata kelola yang konsisten. Perlindungan kawasan hutan, pengawasan pembukaan lahan, pengelolaan gambut berbasis hidrologi, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta kewajiban pemulihan yang benar-benar diawasi.
Teman saya lahir dan besar di Kalimantan Barat. Bagi orang seperti dia, hutan bukan sekadar gambar hijau di buku pelajaran atau latar belakang peta Indonesia. Di sanalah kehidupan tumbuh, udara dihirup, dan rumah dibangun.
Maka ketika kita mengatakan “Pray for Kalimantan”, doa seharusnya tidak berhenti di langit. Sebab setelah doa, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang akan kita lakukan agar Kalimantan tidak perlu terus-menerus didoakan karena bencana yang seharusnya bisa dicegah?
Kalimantan bukan anak tiri negeri ini. Ia adalah salah satu penyangga kehidupan Indonesia. Jika hutannya terus kehilangan pelindung, suatu hari yang terbakar bukan hanya hutan, melainkan juga masa depan yang selama ini kita kira masih aman.
Baca Juga
-
Membaca Citizen 4.0: Manusia yang Menyetir atau Kita yang Diatur Teknologi?
-
Membaca Orang Tuaku Hobi Menghukum: Seni Mendidik Tanpa Melukai
-
Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam
-
Suara Rakyat Lima Tahun Sekali, setelah Itu Siapa yang Berkuasa?
-
Jika Aku Mereka: Melihat Dunia dari Sudut Pandang Penyandang Disabilitas
Artikel Terkait
Kolom
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
Dari Tazos hingga Tamiya: Mengenang Indahnya Bermain Tanpa Koneksi Internet
-
Perempuan dan Tren Solo Traveling yang Semakin Populer, Apa yang Dicari?
-
Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam
-
Budaya Romantisasi Kemiskinan: Toxic Positivity yang Mengabaikan Realita
Terkini
-
Ungkap Pesona & UMKM, KKN-T 129 Undip Hadirkan Video Profil Desa Gogik
-
HONOR Pad 20 Pro Rilis: Tablet Tipis dengan Snapdragon 8s Gen 4 dan Baterai 10.100 mAh
-
Dari Gita Wirjawan hingga Malaka Project: 5 Podcast Wajib Dengar Biar Wawasanmu Makin Terbuka
-
Breasts and Eggs: Perempuan yang Melawan Standar Tubuh dan Norma Sosial
-
Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?