Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian pemerintah seiring meluasnya titik kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Penanganan karhutla pun kembali dibahas dalam rapat di Palembang, Sumatera Selatan, pada Senin (24/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mendapat laporan mengenai sebuah inovasi pemadaman menggunakan bahan berbasis tepung ubi dan singkong. Gagasan itu kemudian menarik perhatian Prabowo dan disebut sebagai alternatif dari metode water bombing.
Prabowo meminta inovasi tersebut diuji, termasuk kemungkinan penggunaannya dalam jumlah besar melalui pesawat MI-17.
"Menarik sekali itu bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Wah coba diproduksi dalam skala besar ya. Ajukan biaya untuk produksinya ya, kita usahakan semua upaya," kata Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla, dikutip Rabu (26/8/2026).
Gagasan ubi bombing di tengah karhutla lantas memunculkan perdebatan di media sosial. Di tengah situasi yang membutuhkan penanganan cepat, apakah mencari metode baru merupakan langkah inovatif, atau justru menunjukkan salah fokus dalam menentukan prioritas?
Karhutla Bukan Masalah yang Baru Muncul Kemarin Sore
Di Indonesia, Karhutla bukan hal baru. Setiap tahun, karhutla berulang dan tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga berpotensi mengganggu permukiman, kualitas udara, hingga aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan kata lain, pengalaman menangani karhutla seharusnya membuat negara semakin siap, bukan terus terlihat mencari cara dari nol.
Menemukan metode baru untuk memadamkan api tentu sah-sah saja. Bahkan, jika benar-benar efektif, ubi bombing bisa menjadi tambahan pilihan yang berguna di masa depan. Masalahnya, kebutuhan dalam situasi darurat tidak sama dengan kebutuhan untuk mengembangkan teknologi baru.
Karhutla membutuhkan respons yang bisa bekerja sekarang karena apinya menyala sekarang. Kalau solusi yang ditawarkan masih harus melewati serangkaian riset dan uji coba, yang dipertaruhkan bukan sekadar waktu, tetapi luas kebakaran yang bisa terus bertambah.
Belum Teruji, Kenapa Sudah Bicara Produksi?
Respons publik terhadap ubi bombing sebenarnya menunjukkan keresahan yang cukup masuk akal. Sebagian netizen mempertanyakan mengapa pemerintah perlu mencari metode baru untuk kebakaran yang sudah berkali-kali terjadi. Ada pula yang mengingatkan bahwa teknologi pemadam kebakaran dan fire retardant bukan sesuatu yang baru dikenal dunia.
Perdebatan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa ubi bombing adalah gagasan buruk. Bisa saja bahan berbasis singkong itu memiliki keunggulan tertentu yang selama ini belum dimanfaatkan untuk penanganan kebakaran. Masalahnya, kita belum sampai pada tahap mengetahui apakah metode tersebut benar-benar mampu bekerja untuk karhutla berskala besar.
Dalam hal ini, yang lebih mengganjal justru respons Prabowo. Metodenya belum teruji, tetapi pembahasan soal produksi dalam skala besar dan pengajuan biaya sudah muncul lebih dulu. Bukankah semestinya riset dan uji efektivitas dilakukan sebelum bicara produksi massal?
Kekhawatiran publik soal anggaran pun wajar muncul. Setiap produksi massal membutuhkan biaya, pengadaan, dan pihak yang mengerjakan.
Jangan sampai gagasan yang belum terbukti efektif malah lebih dulu membuka pintu bagi proyek baru yang rawan disalahgunakan. Kalau memang serius ingin mencari solusi, buktikan dulu bahwa ubi bombing benar-benar layak digunakan.
Jangan Sampai Solusi Baru Jadi Masalah Baru
Wacana ubi bombing sebenarnya bukan hanya soal mampu atau tidaknya tepung singkong memadamkan api. Respons netizen yang langsung menyinggung pengadaan dan anggaran menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang begitu besar terhadap pemerintah.
Pemerintah memang berhak menguji gagasan baru, mengembangkan teknologi, dan mengalokasikan dana untuk riset. Namun, begitu uang negara mulai terlibat, prosesnya juga perlu terbuka.
Kecurigaan masyarakat juga tidak muncul begitu saja. Setiap gagasan baru yang berujung pada produksi massal dan pengadaan memang akan memancing pertanyaan tentang penggunaan anggaran.
Apalagi publik sudah berulang kali melihat bagaimana anggaran negara bisa habis untuk program yang hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, bahkan membuka celah penyalahgunaan.
Kalau ubi bombing memang terbukti efektif, silakan dikembangkan. Namun, jangan sampai yang lebih cepat diproduksi justru anggarannya, sementara efektivitasnya masih tanda tanya. Karhutla harus dipadamkan, bukan dijadikan alasan untuk menyalakan proyek baru.
Baca Juga
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Green Mothers' Club: Obsesi pada Anak Berprestasi dalam Standar Parenting
-
Ulasan Drakor Head Over Heels: Melawan Takdir Berbalut Romansa Remaja Supernatural
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
Artikel Terkait
-
Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!
-
MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla
-
Karhutla Melanda 7 Gunung di Jatim, Kemenhut Duga Ada Faktor Manusia
-
Asap Karhutla Disebut Meluas hingga ke Vietnam, Kemenhut Cek Asal Sumbernya
-
Habitat Terdampak Karhutla, Gajah Sumatra Makin Menderita dan Terancam Punah!
Kolom
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
Terkini
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Pertama! Film Korea Possible Love Bawa Pulang Piala Silver Lion di Venice