Memilih jurusan kuliah sering dianggap sebagai langkah pertama menuju masa depan. Dari pilihan itu, seseorang diharapkan punya tujuan karier dan kehidupan yang ingin dijalani. Masalahnya, pilihan tersebut dibuat ketika seseorang belum matang dan belum tentu benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Tak sedikit anak muda yang baru menyadari ketertarikan pada bidang lain setelah bertahun-tahun menjalani kuliah atau bekerja. Ada yang merasa salah jurusan, ingin kuliah lagi, atau sekadar bertanya-tanya apakah jalan yang dipilih dulu memang sesuai dengan dirinya. Sayangnya, perubahan arah semacam itu kerap dipandang sebagai bukti bahwa seseorang telah salah mengambil keputusan.
Padahal, salah jurusan bukan dosa. Pilihan yang dibuat di usia muda bisa saja berubah seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman tentang diri sendiri. Lantas, mengapa kita menuntut anak muda sudah tahu arah hidupnya sebelum mereka sempat mengenal dirinya sendiri?
Salah Jurusan Bisa Jadi Konsekuensi Pilihan yang Terlalu Cepat
Keputusan memilih jurusan sering kali datang sebelum seseorang punya informasi atau pengetahuan yang cukup tentang dunia yang akan dimasukinya.
Makanya, saya agak heran dengan tuntutan yang mengharuskan anak SMA harus sudah punya pandangan mau jadi apa. Di usia itu, jangankan menentukan karier, mengenali diri sendiri saja masih dalam proses. Hari ini bisa merasa suka ekonomi, besok tertarik fisika, lusa ingin mencoba hal lain.
Bukan karena mereka tidak punya pendirian, tetapi memang belum banyak hal yang dicoba. Lalu dari fase yang masih serba mencari itu, mereka diminta memilih satu jurusan kuliah yang nantinya seolah harus dibawa sampai ke dunia kerja.
Tidak heran kalau beberapa tahun kemudian ada yang merasa salah jurusan. Pilihan yang dulu terasa paling masuk akal bisa saja ternyata tidak cocok setelah benar-benar dijalani.
Ada yang baru sadar dirinya lebih tertarik pada bidang lain, ada yang menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, ada juga yang baru tahu seperti apa dunia kerja setelah lulus. Rasanya aneh kalau semua itu kemudian dianggap sebagai kesalahan memilih.
Namun, setelah menyadari bahwa salah jurusan, keinginan untuk mencoba lagi sering terbentur anggapan bahwa umur tertentu sudah terlalu tua untuk memulai sesuatu dari nol. Seolah-olah hidup punya jadwal yang harus diikuti dan salah mengambil belokan sedikit saja berarti sudah terlambat.
Mengubah Arah Bukan Berarti Gagal Menata Hidup
Satu hal yang sering luput dari pembahasan soal salah jurusan adalah kenyataan bahwa orang bisa berubah pikiran. Kita gampang kagum pada orang yang sejak awal sudah tahu mau kuliah apa, bekerja di bidang apa, lalu konsisten sampai bertahun-tahun.
Sebaliknya, orang yang ingin pindah bidang justru sering dipertanyakan, kuliah lagi dianggap buang waktu, gap year dianggap ketinggalan, dan switch career dianggap tanda seseorang tidak punya rencana yang matang.
Padahal, bukankah pengalaman memang bisa mengubah pilihan? Setelah menjalani satu jurusan, seseorang justru bisa lebih mengenal dirinya. Jadi, salah jurusan bukan berarti salah mengambil keputusan. Bisa jadi, pilihan itu memang dibutuhkan untuk sampai pada pilihan berikutnya.
Kita juga terlalu terbiasa melihat hidup lewat jalur yang lurus. Pilih jurusan, lulus, dapat kerja, lalu bertahan di bidang yang sama sampai pensiun. Begitu ada yang keluar jalur, kita buru-buru menganggapnya tertinggal. Padahal, hidup tidak harus punya urutan yang seragam.
Barangkali sudah waktunya kita berhenti menganggap salah jurusan sebagai tanda seseorang gagal merencanakan hidup. Kadang seseorang cuma salah pilih. Sesederhana itu. Tidak semua kesalahan harus berubah menjadi vonis atas masa depan seseorang.
Baca Juga
-
Negara Ternyata Bisa Gercep: Rekening Sigap Diblokir, Proyek Kilat Dikebut
-
Gagasan Ubi Bombing Atasi Karhutla: Inovasi atau Salah Prioritas?
-
Ulasan Doom at Your Service: Romansa Fantasi tentang Upaya Menentang Takdir
-
Nasib Karier Working Mom: Mengapa Dunia Kerja Belum Beri Ruang yang Setara?
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
Artikel Terkait
-
Tren Job Hugging di Kalangan Gen Z: Saat Bertahan Jadi Pilihan Paling Aman
-
KIP Kuliah dan Masalah Desil, Ketika Data Tak Selalu Tepat Sasaran
-
Kehidupan Setelah Wisuda, Mengapa Dunia Tiba-Tiba Terasa Sepi?
-
Nasib Karier Working Mom: Mengapa Dunia Kerja Belum Beri Ruang yang Setara?
-
Dekonstruksi Loyalitas: Mengapa Gen Z Tak Takut Resign Demi Work-Life Balance
Kolom
-
Jebakan Repost di Instagram: Saat Kepedulian Sosial Berakhir Menjadi Validasi Digital
-
Hukum Kok Butuh FYP? Ketika Viralitas Jadi Syarat Menindak Turis Nakal
-
Tren Job Hugging di Kalangan Gen Z: Saat Bertahan Jadi Pilihan Paling Aman
-
KIP Kuliah dan Masalah Desil, Ketika Data Tak Selalu Tepat Sasaran
-
Negara Ternyata Bisa Gercep: Rekening Sigap Diblokir, Proyek Kilat Dikebut
Terkini
-
Kembali Ungkit STY, Mantan Mertua Pratama Arhan Kritik John Herdman!
-
Perang Belum Usai, 1,6 Juta Anak Ukraina Disebut Masih Terpisah dari Keluarga
-
Lebih dari Sekadar Remake: Ayah, Aku Mau Cerita Buktikan Sinema Bisa Memanipulasi Realita
-
Demi Putranya yang Autisme, Ibu ini Membuat Tato Keyboard di Tangannya
-
Kasus Rekening Botok, Bisakah Bank Memblokir Rekening Nasabah?