Kedutaan Besar Ukraina untuk Indonesia menyebut sekitar 1,6 juta anak Ukraina saat ini masih berada di bawah kendali Rusia, hampir empat setengah tahun setelah invasi skala penuh dimulai.
Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Yevhenia Shynkarenko menyampaikan hal tersebut saat membuka pameran Living the War: Children di World Trade Centre 2, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Menurut Shynkarenko, Ukraina telah mendokumentasikan lebih dari 20 ribu laporan mengenai deportasi ilegal dan pemindahan paksa anak. Namun, baru 2.470 anak yang berhasil dipulangkan ke Ukraina.
Artinya, ribuan anak lainnya masih terpisah dari keluarga dan tempat asal mereka.
“Data ini bukan hanya angka. Di balik setiap kasus ada seorang anak dan keluarga yang masih menunggu kepulangan mereka,” kata Shynkarenko.
Perang juga terus menimbulkan korban anak. Shynkarenko mengatakan sedikitnya 17 anak Ukraina tewas dan 166 lainnya terluka akibat serangan sepanjang Juli 2026.
Dampak perang terhadap anak, menurutnya, tidak hanya terlihat dari jumlah korban. Konflik yang berlangsung bertahun-tahun turut mengubah cara anak-anak memahami lingkungan di sekitar mereka.
Suara guntur dapat mengingatkan mereka pada ledakan. Kembang api dapat terdengar seperti serangan rudal. Sementara ruang bawah tanah yang seharusnya menjadi bagian dari bangunan justru berubah menjadi tempat berlindung ketika sirene serangan udara berbunyi.
Perwakilan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengatakan pengalaman tersebut sangat berbeda dengan keseharian anak-anak di Indonesia.
“Untuk anak-anak di Indonesia, mendengar sirene berarti ada ambulans atau polisi yang lewat. Di Ukraina, mereka hanya berlari mencari keselamatan,” ujarnya.
Ia mengatakan panjangnya konflik memiliki konsekuensi besar terhadap tumbuh kembang anak.
“Empat setengah tahun dalam masa kanak-kanak itu sangat besar artinya,” kata Chaibi.
Sebagian anak Ukraina bahkan lahir setelah invasi skala penuh pada 2022 dan belum pernah mengalami kehidupan dalam kondisi damai. Sementara anak-anak yang masih kecil ketika konflik di Krimea dan Donbas meningkat pada 2015 kini telah tumbuh menjadi remaja.
Bagi Ukraina, penghentian perang menjadi langkah utama untuk mengakhiri dampak tersebut.
“Satu-satunya langkah yang kami minta dari komunitas internasional adalah menekan Rusia untuk menghentikan perang,” kata Shynkarenko.
Pameran Living the War: Children merupakan bagian dari inisiatif Bring Kids Back UA, yang berada di bawah Koalisi untuk Kepulangan Anak-Anak Ukraina. Acara tersebut juga memperkenalkan kampanye People Are Key, yang pada 2025 telah melibatkan komunitas di 43 kota di 23 negara.
Baca Juga
-
Dari Akihabara ke Jakarta: Mengintip Uniknya Budaya Maid Cafe yang Lagi Naik Daun
-
Dari Nongkrong di Warnet Sampai Punya Event Maid Cafe: Ini Cerita di Balik AniEvo ID
-
Nekat ke Maid Cafe Meski Bukan Wibu, Ternyata Begini Rasanya Dilayani Bak 'Tuan'
-
Anak-anak di Ukraina dan Bagaimana Perang Merenggut Masa Kecil Mereka
-
Saatnya Ganti Provider: Ketika Lini Masa Ramai-ramai Pindah ke XL
Artikel Terkait
News
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
Terkini
-
Green Mothers' Club: Obsesi pada Anak Berprestasi dalam Standar Parenting
-
Manga Even a Replica Can Fall in Love Siap Akhiri Kisah Nao di Volume 7
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Ulasan Drakor Head Over Heels: Melawan Takdir Berbalut Romansa Remaja Supernatural
-
The Atala: Ketika Sejarah Nusantara Sera Membawa Menembus Waktu