Sebenarnya, tulisan ini awalnya hanya ingin mengulas film Dilan ITB 1997 yang baru tayang di Netflix. Film ini menarik perhatian karena Dilan diperankan oleh Ariel NOAH, sementara Milea diperankan oleh Raline Shah.
Jujur saja, bagi saya, Ariel dan Raline sama-sama awet muda. Akan tetapi, saya agak kurang yakin keduanya cocok memerankan Dilan dan Milea dalam fase cerita tersebut. Kalau berdasarkan alur ceritanya, Dilan pada tahun 1997 baru berumur sekitar 23 tahun. Sementara Ariel yang lahir pada 1981 kini telah berumur sekitar 45 tahun, sedangkan Raline Shah yang lahir pada 1984 kira-kira telah berumur 42 tahun.
Mungkin kalau 20 tahun yang lalu, Ariel dan Raline masih cocok memerankan Dilan dan Milea. Apalagi dalam film ini, keduanya sebenarnya sudah menemukan jalan hidup masing-masing dan tidak lagi bersama.
Tetapi persoalannya, bagi saya, bukan semata-mata soal usia.
Ariel memang terlihat awet muda. Raline juga demikian. Masalahnya, ketika melihat Ariel sebagai Dilan, saya merasa seperti sedang melihat Ariel yang sedang bermain sebagai Dilan. Saya tidak sepenuhnya melihat Dilan.
Vibe Ariel terasa berbeda dengan karakter Dilan yang selama ini kita kenal, baik dalam trilogi Dilan maupun Ancika, Dia yang Bersamaku Tahun 1995. Ada sesuatu dalam karakter Dilan yang diperankan Iqbaal Ramadhan dan kemudian Arbani Yasiz yang, menurut saya, sulit ditemukan dalam Ariel.
Setelah menonton Dilan ITB 1997, saya kemudian mencoba melakukan semacam riset kecil-kecilan. Saya ingin tahu bagaimana perbandingan jumlah penonton film-film Dilan sebelumnya dengan film ini.
Ternyata hasilnya lumayan jomplang.
Dilan 1990 ditonton sekitar enam jutaan orang. Sekuel berikutnya, Dilan 1991 dan Milea: Suara dari Dilan, masing-masing ditonton sekitar lima jutaan dan tiga jutaan orang. Bahkan Ancika, yang dirilis pada pertengahan dekade 2020-an, masih mampu menarik sekitar 1,3 juta penonton.
Bagaimana dengan Dilan ITB 1997?
Setelah saya googling, jumlah penontonnya bahkan tidak sampai 10 persen dari jumlah penonton Dilan 1990. Hanya sekitar 500 ribuan orang.
Hal ini membuat saya semakin penasaran. Terus terang, saya memang tidak menonton trilogi Dilan pada masa film-film itu sedang booming. Jadi, saya bertanya-tanya: apa sebenarnya yang membedakan?
Akhirnya, saya maraton menonton trilogi Dilan dan Ancika.
Barulah saya mulai memahami.
Seperti yang saya tuliskan di awal, vibe Dilan yang orisinal bisa kita temukan dalam karakter Dilan di trilogi Dilan, yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Dilan adalah sosok pemberani, mentalnya kuat, tidak takut malu, blak-blakan, dan sangat penyayang kepada kekasihnya.
Karakter seperti itu, menurut saya, masih bisa kita temukan pada Dilan dalam Ancika, yang diperankan oleh Arbani Yasiz.
Dilan boleh berganti wajah, tetapi masih ada sesuatu yang membuat kita berkata: ya, ini memang Dilan.
Sementara Ariel, menurut saya, belum sepenuhnya berhasil memainkan karakter utama Dilan seperti yang dilakukan Iqbaal Ramadhan dan Arbani Yasiz.
Entahlah.
Mungkin karena saya sudah terlalu mengenal persona Ariel selama puluhan tahun sebagai seorang musisi. Atau mungkin karena Ariel terlalu kalem untuk menjadi Dilan. Dilan yang saya kenal dari film-film sebelumnya lebih blak-blakan, lebih berani, dan kadang tidak peduli terlihat konyol atau memalukan.
Ariel memiliki karismanya sendiri. Tidak diragukan lagi. Tetapi kharisma itu berbeda dengan energi seorang Dilan.
Walaupun demikian, ada satu hal yang justru membuat saya suka dengan Dilan ITB 1997: alur ceritanya.
Film ini diawali dengan kepulangan Dilan setelah menjalani studi di Kuba selama enam bulan. Terus terang, saya sempat bingung juga. Studi apaan ini? Studi banding atau pertukaran pelajar?
Kemudian kita melihat kamar Dilan dihiasi poster-poster Che Guevara dan berbagai poster kiri lainnya. Dilan juga mengenakan kaus bertuliskan “Solidarnos”, sebuah kata yang mengingatkan saya pada istilah-istilah yang dulu, kalau tidak salah, cukup akrab dengan kawan-kawan pergerakan Timor Leste.
Di sinilah saya mulai tertarik.
Saya justru menyukai Dilan ketika ia digambarkan sebagai seorang aktivis mahasiswa.
Setelah maraton film-film Dilan, saya juga baru memahami bagaimana pada Pilpres 2019 kubu Jokowi memanfaatkan citra Dilan. Salah satunya melalui kegemaran Jokowi menaiki motor modifikasi. Ada pula permainan kata yang meminjam kalimat terkenal Dilan: “Rindu itu berat, biar aku saja”, kemudian diplesetkan menjadi, “Jadi presiden itu berat, biar Jokowi saja.”
Citra Dilan ternyata pernah begitu kuat sehingga karakter fiksi ini dapat masuk ke dalam ruang politik dan pencitraan politik.
Lucunya, setelah segala pencitraan itu, Pilpres 2019 tetap berlangsung sangat ketat.
Dilan sendiri adalah karakter yang penuh paradoks.
Dalam trilogi Dilan, ia digambarkan sebagai bagian dari geng motor, bahkan sebagai panglima tempur. Ia anak jalanan, berkelahi, dan hidup dekat dengan dunia kekerasan remaja. Padahal, ia berasal dari keluarga yang, setidaknya dalam film, terlihat cukup harmonis. Ayahnya, Ical, adalah seorang perwira tentara, sedangkan ibunya, Bundahara, merupakan kepala sekolah.
Hal itu membuat saya memiliki satu pertanyaan besar: mengapa Dilan bisa bergabung dengan geng motor jika ia berasal dari keluarga seperti itu?
Bukankah selama ini kita sering memiliki bayangan sederhana bahwa anak yang terlibat dalam dunia geng, kekerasan, atau kenakalan pasti berasal dari keluarga bermasalah?
Dilan membantah cara berpikir sesederhana itu.
Ia berasal dari keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi memilih jalan hidup yang tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan kita tentang anak seorang perwira dan kepala sekolah.
Namun, Dilan juga tidak sesederhana preman geng motor.
Di balik keberaniannya, kita menemukan sisi rapuhnya. Di balik sikap kerasnya, ada sisi lembut. Di balik kelakuannya yang kadang brutal, ada seseorang yang bisa mencintai dengan sangat dalam.
Di situlah, bagi saya, daya tarik Dilan.
Saya menyukai karakter Dilan dalam trilogi Dilan dan Ancika. Akan tetapi, saya juga menyukai perkembangan alur cerita ketika Dilan digambarkan sebagai aktivis mahasiswa dalam Dilan ITB 1997.
Begitu pula dengan Ancika.
Ancika adalah pacar Dilan setelah Milea, seorang perempuan yang usianya lebih muda beberapa tahun daripada Dilan. Karakternya juga berbeda jauh dengan Milea. Milea cenderung lembut, sementara Ancika lebih galak dan tidak mudah ditaklukkan, bahkan oleh Dilan sekalipun.
Dan justru karena itulah, kisah Dilan menjadi semakin menarik.
Dilan tidak berhenti sebagai laki-laki yang jatuh cinta kepada Milea. Milea bukan satu-satunya perempuan dalam hidupnya. Setelah cinta itu berakhir, Dilan tetap menjalani hidup, berubah, bertemu orang baru, dan menemukan bentuk dirinya yang lain.
Lucunya, Dilan ITB 1997, film yang menurut saya Ariel kurang cocok menjadi Dilan, justru menjadi film yang menggerakkan saya untuk menonton sebagian besar film-film Dilan.
Dari situlah kemudian muncul pertanyaan lain dalam kepala saya.
Apa sebenarnya filsafat tersembunyi dari karakter Dilan, jika kita melihat seluruh kisahnya?
Bagi saya, jawabannya sederhana: segala sesuatu yang terlihat belum tentu sesuai dengan penilaian awal kita terhadapnya.
Atau, kalau menggunakan istilah filsafat, belum tentu sesuai dengan apa yang sudah lebih dahulu kita pikirkan secara a priori.
Seorang panglima geng motor belum tentu hanya seorang preman. Seorang aktivis mahasiswa belum tentu sekadar mahasiswa yang sibuk berdiskusi politik. Seorang anak dari keluarga yang harmonis belum tentu tumbuh sesuai dengan semua harapan sosial terhadap keluarganya.
Sebaliknya, di dalam setiap karakter Dilan, kita selalu menemukan paradoks.
Dilan yang keras ternyata rapuh.
Dilan yang pemberani ternyata bisa sangat terluka.
Dilan yang terlihat urakan ternyata mampu mencintai dengan sungguh-sungguh.
Dan sebuah kisah cinta yang terlihat begitu indah belum tentu berlangsung lama. Kisah Dilan dan Milea, misalnya, ternyata tidak bertahan sampai akhir hidup mereka. Bahkan, cinta yang begitu kuat dalam ingatan para penonton itu hanya berlangsung kurang dari satu tahun.
Geng motor pun, seperti yang dinarasikan Dilan dalam Milea, tidak selalu sesederhana gambaran buruk yang dilekatkan orang kepada mereka. Tentu saja, bukan berarti kekerasan dan tindakan kriminal bisa dibenarkan. Akan tetapi, manusia di dalam sebuah kelompok tidak pernah bisa sepenuhnya dipahami hanya melalui label yang kita tempelkan dari luar.
Mungkin itulah yang membuat Dilan terus menarik.
Ia bukan pahlawan sempurna. Ia bukan pula penjahat sempurna.
Ia hanyalah manusia dengan kontradiksi-kontradiksinya.
Dari Dilan sebagai panglima tempur geng motor, kekasih Milea, hingga Dilan yang kemudian terlibat dalam dunia aktivisme mahasiswa, kita melihat seseorang yang terus berubah. Tetapi, di balik semua perubahan itu, selalu ada sisi manusiawi yang membuatnya rapuh, kadang konyol, kadang menyebalkan, tetapi tetap menarik untuk diikuti.
Yang jelas, bagi saya, film-film Dilan selalu menarik untuk ditonton. Terlepas dari perdebatan tentang siapa aktor yang paling cocok memerankan Dilan, kisah ini telah menjadi salah satu fenomena penting dalam perfilman Indonesia.
Film-film seperti ini menunjukkan bahwa penonton Indonesia bisa datang berbondong-bondong ke bioskop untuk mengikuti cerita yang dekat dengan kehidupan mereka: tentang cinta, masa muda, pertemanan, keluarga, kesalahan, dan perubahan manusia.
Saya berharap ke depan film-film Indonesia dengan kekuatan cerita seperti ini terus diproduksi dan, tentu saja, kembali ditonton oleh banyak orang.
Sebab, barangkali seperti Dilan sendiri, film Indonesia juga tidak seharusnya kita nilai hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Review Film 402 Rumah Sakit Angker Korea: Kejutan Tiada Habis Bahkan Sampai Soundtrack
-
Tiga Generasi di Satu Panggung, Raisa Gandeng Ariel NOAH hingga Anggun di Konser Love & Let Go
-
Baru Terungkap! Dilan Janiyar Curhat Didukunin Asisten Pribadi Lewat Ritual Kelapa Hijau
-
Dari Angkot sampai TTS, Alasan Film Dilan 1990 Sangat Ikonik!
-
Dilan 1990: Novel Romantis yang Manis Sekaligus Problematis
Kolom
-
Dulu Saya Kira Cuma Main dan Bernyanyi: Realitas Sebenarnya di Balik Profesi Guru TK
-
Ekonomi yang Membentuk Isi Piring: Mengapa Makan Sehat Jadi Kemewahan?
-
Jalan Pintas atau Strategi Kerja Cerdas? Realita Menulis Artikel Dibantu AI
-
RUU Perampasan Aset: Menjerat Koruptor atau Menjebak Pebisnis?
-
Sering Mati Lampu Bikin Saya Memutuskan Pindah Provider ke XL
Terkini
-
Saat Keni Belajar Berkata Tidak
-
Isu Lingkungan hingga AI, Riset Pelajar di OMI 2026 Bikin Kaget Para Ahli!
-
Kura-Kura Pakai Kostum Beruang? Buku Ini Bikin Anak Tertawa!
-
Menyelami Sensasi Sensori dan Ketegangan dalam Film 'Tuner'
-
Review Baby Udon: Kisah Viral yang secara Emosional Layak Dibuat Sinematik