M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi tinggal bersama orang tua (Pexels/Elina Fairytale)
e. kusuma .n

Tinggal bersama orang tua setelah dewasa sering dianggap tanda gagal mandiri. Bagi Gen Z, benarkah living with parents adalah kegagalan atau justru strategi finansial di tengah beratnya biaya hidup?

Terkadang, pertanyaan: “Kapan kamu mau hidup sendiri?” cukup membuat Gen Z merasa tertekan. Mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana memilih antara tinggal di rumah atau menyewa tempat tinggal sendiri.

Harga sewa, kebutuhan sehari-hari, transportasi, tagihan, makanan, hingga kebutuhan pekerjaan membuat keputusan hidup mandiri harus langsung berhadapan dengan realitas biaya yang tidak sedikit.

Di sisi lain, media sosial sering menampilkan gambaran bahwa usia dewasa identik dengan tinggal sendiri, punya apartemen, dan mampu membiayai seluruh kebutuhan tanpa bantuan keluarga.

Akibatnya, tinggal bersama orang tua setelah lulus kuliah atau bahkan saat sudah bekerja sering dianggap sebagai tanda belum dewasa. Menurut saya, sudah waktunya anggapan tersebut dipertanyakan.

Tinggal Bersama Orang Tua Bukan Berarti Tidak Mandiri

Mandiri seharusnya tidak hanya diukur dari alamat tempat tinggal. Kita bisa saja tinggal bersama orang tua tapi mengatur keuangan sendiri, membayar sebagian kebutuhan rumah, membantu keluarga, dan tetap bertanggung jawab terhadap keputusan hidup.

Sebaliknya, tinggal sendiri juga tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih dewasa. Sebab kemandirian juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, bertanggung jawab, mengelola kebutuhan, dan memahami konsekuensi dari pilihan sendiri.

Jadi, kalau seseorang memilih tetap tinggal bersama orang tua karena alasan finansial, menurut saya itu bukan sesuatu yang pantas disebut tidak mandiri atau malah dilabeli kegagalan.

Biaya Hidup Membuat “Cepat Mandiri” Tidak Selalu Realistis

Generasi muda hari ini berhadapan dengan tantangan mencukupi kebutuhan hidup yang terus membutuhkan perencanaan. Gaji pertama mungkin terasa membahagiakan, tapi setelah dihitung, ternyata banyak hal yang harus dibayar.

Kalau tinggal bersama orang tua memungkinkan seseorang mengurangi pengeluaran tempat tinggal dan mengalokasikan sebagian penghasilan untuk kebutuhan lain, mengapa pilihan tersebut harus dianggap memalukan?

Tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi, pekerjaan, atau dukungan keluarga yang sama. Karena itu, standar “umur sekian harus sudah tinggal sendiri” terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan kehidupan nyata.

Living with Parents Bisa Menjadi Strategi, Bukan Zona Nyaman

Namun, ada satu hal yang juga perlu jujur kita akui. Tinggal bersama orang tua bisa menjadi strategi keuangan yang sehat, tapi bisa pula berubah menjadi alasan untuk tidak belajar mandiri. Bedanya terletak pada cara menjalani pilihan tersebut.

Kalau tinggal di rumah berarti tetap belajar mengatur uang, berkontribusi terhadap keluarga, mengurus kebutuhan pribadi, dan menyiapkan masa depan, keputusan tersebut bisa menjadi bagian dari proses menuju kemandirian.

Sebaliknya, jika semua kebutuhan masih sepenuhnya dibebankan pada orang tua tanpa ada usaha untuk bertanggung jawab, tentu ada hal yang perlu dievaluasi. Jadi, persoalannya bukan tinggal dengan siapa, tapi seberapa bertanggung jawab kita terhadap hidup sendiri.

Jangan Jadikan Kehidupan Orang Lain sebagai Timeline

Saya rasa Gen Z juga perlu berhenti menganggap usia sebagai deadline. Usia 23 harus sudah tinggal sendiri. Usia 25 harus punya rumah. Usia 27 harus mapan. Sebenarnya, dari mana semua angka tersebut berasal?

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang harus membantu keluarga. Ada yang sedang membangun karier. Ada yang masih menabung. Ada yang memilih tinggal bersama orang tua untuk mengurangi beban finansial.

Tidak semua perjalanan harus mengikuti urutan yang sama. Sayangnya, media sosial sering membuat hidup terlihat seperti perlombaan. Padahal, kehidupan nyata jauh lebih kompleks daripada unggahan pencapaian.

Mandiri Bukan Berarti Harus Sendirian

Menurut saya, definisi mandiri perlu dibuat lebih manusiawi. Mandiri bukan berarti harus segera meninggalkan rumah. Mandiri juga bukan berarti menolak bantuan keluarga demi membuktikan sesuatu.

Mandiri berarti memahami kebutuhan diri, bertanggung jawab terhadap pilihan, dan perlahan membangun kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan lebih matang.

Jika saat ini tinggal bersama orang tua membantu kita bertahan menghadapi biaya hidup sekaligus menyiapkan masa depan, tidak ada yang salah dengan itu. Yang penting, jangan sampai “tinggal di rumah” berubah menjadi “berhenti bertumbuh.”

Sebab, menjadi dewasa bukan tentang seberapa jauh kita tinggal dari rumah orang tua. Pada akhirnya, yang lebih penting adalah seberapa siap kita bertanggung jawab terhadap hidup sendiri.

Kalau tinggal bersama orang tua membuat kita lebih mampu bertahan, menabung, membantu keluarga, dan mempersiapkan masa depan, mungkin itu bukan kegagalan untuk mandiri. Bisa jadi, justru itulah strategi paling realistis untuk mandiri.