Pernah merasa hidup selalu sulit, rezeki terasa kurang, atau keadaan seolah terus berjalan tidak sesuai keinginan? Bisa jadi, menurut Erbe Sentanu, persoalannya bukan semata-mata pada keadaan di luar diri kita, tetapi pada “software keyakinan” yang selama ini bekerja di dalam kepala dan hati. Gagasan tersebut menjadi salah satu inti buku Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati karya Erbe Sentanu.
Buku pengembangan diri dan spiritual ini mencoba mempertemukan konsep fisika kuantum, hukum tarik-menarik, serta kecerdasan spiritual untuk membahas bagaimana manusia dapat mengaktifkan kekuatan hati dan belajar menjalani hidup dengan lebih ikhlas. Buku ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dengan ketebalan 236 halaman. Alih-alih hanya berbicara tentang kesuksesan material, buku ini mengajak pembaca melihat kembali cara memandang kehidupan, rezeki, kesehatan, hubungan, hingga kemampuan diri sendiri.
Isi Buku
Salah satu gagasan yang menarik adalah kecenderungan manusia untuk lebih mudah mempercayai kekurangan daripada kesempurnaan dirinya. Kita sering merasa hidup itu susah dan penuh penderitaan. Rezeki dianggap selalu tidak cukup. Ketika dokter mengatakan sesuatu mengenai kondisi tubuh, kita langsung menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Kita juga mudah berprasangka bahwa lebih banyak orang jahat daripada orang baik.
Sebaliknya, kita justru sering sulit percaya bahwa hidup bisa dinikmati, bahwa rezeki telah memiliki jalannya sendiri, bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk melakukan proses penyembuhan, atau bahwa manusia dapat mengubah kehidupannya dengan terlebih dahulu mengubah pikiran dan perasaannya.
Di sinilah konsep “software keyakinan” menjadi penting. Erbe Sentanu menggambarkan keyakinan seperti perangkat lunak yang memengaruhi bagaimana manusia menjalankan kehidupannya. Jika software tersebut dipenuhi prasangka, ketakutan, dan keyakinan negatif, kualitas kehidupan yang dijalani juga dapat ikut terpengaruh.
Karena itu, kemampuan mengelola keyakinan dianggap sebagai sesuatu yang penting. Manusia perlu menyadari bahwa tidak semua pikiran yang muncul di kepala harus dipercaya begitu saja.
Buku ini kemudian menawarkan gagasan bahwa “kesempurnaan” merupakan fitrah atau semacam default factory setting manusia. Masalahnya bukan kesempurnaan tersebut benar-benar hilang, melainkan manusia sering lupa bahwa dirinya memilikinya.
Analogi teknologi digunakan untuk menjelaskan proses tersebut. Jika seseorang lupa kata sandi, bukan berarti seluruh data dalam sistemnya lenyap. Ia hanya membutuhkan cara untuk mendapatkan kembali aksesnya. Begitu pula manusia: sifat-sifat baik, rasa percaya, ketenangan, dan potensi yang ada dalam dirinya dianggap tetap tersimpan, meskipun tertutup oleh berbagai pengalaman dan keyakinan yang keliru.
Konsep ini kemudian berkaitan erat dengan keikhlasan. Dalam buku tersebut, ikhlas tidak diposisikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha, melainkan sebagai kemampuan berserah diri kepada Tuhan sambil tetap menjalani kehidupan dengan kesadaran dan keyakinan positif.
Kelebihan dan Kekurangan
Menariknya, pendekatan buku ini menggunakan istilah yang dekat dengan dunia teknologi sehingga konsep spiritual terasa lebih mudah dibayangkan. “Virus prasangka”, “software keyakinan”, forgot password, hingga search engine menjadi metafora untuk menjelaskan bagaimana manusia dapat memeriksa kembali pola pikir yang selama ini mengendalikan kehidupannya.
Bagi pembaca yang menyukai buku pengembangan diri bernuansa spiritual, Quantum Ikhlas menawarkan sudut pandang yang cukup menarik. Buku ini tidak sekadar mengajak pembaca mengejar pencapaian, tetapi mempertanyakan fondasi dari keinginan tersebut: keyakinan seperti apa yang sebenarnya kita gunakan ketika menjalani hidup?
Pesan yang terasa kuat dari buku ini adalah bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari dunia luar. Ada bagian dari kehidupan yang dapat diperbaiki dengan terlebih dahulu melihat ke dalam diri. Memeriksa keyakinan, mengelola pikiran, memahami perasaan, dan belajar melepaskan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan. Sebab terkadang, yang membuat hidup terasa berat bukan hanya masalah yang kita hadapi, melainkan cara kita mempercayai masalah tersebut. Dan mungkin, keikhlasan dimulai ketika kita berani mengganti “software” lama yang penuh ketakutan dengan keyakinan bahwa hidup masih memiliki banyak kemungkinan baik.
Identitas Buku
- Judul: Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati – The Power of Positive Feeling
- Penulis: Erbe Sentanu
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tempat Terbit: Jakarta
- Tahun Terbit: 2011
- ISBN: 978-979-27-0405-1
- Tebal: 236 halaman
Baca Juga
-
Kota Bersih, Sampah Dipindahkan: Lingkaran Setan Pengelolaan Sampah Kita
-
Patah: Ketika Kenangan Menjadi Rumah bagi Hati yang Belum Sembuh
-
Jangan Harap Punya Pemimpin Berkualitas Jika Warganya Buta Politik
-
Paradoks Sampah: Sibuk Daur Ulang, Sementara Plastik Terus Diproduksi?
-
Pembusukan Demokrasi: Atas Nama Rakyat, Kekuasaan Justru Menjadi Ancaman
Artikel Terkait
Ulasan
-
Angsa dan Kelelawar: Ketika Kebenaran Tidak Sesederhana Hitam dan Putih
-
Mystic Pop-up Bar: Kisah Kedai Misterius yang Mengurai Masalah Manusia
-
Patah: Ketika Kenangan Menjadi Rumah bagi Hati yang Belum Sembuh
-
My Unfamiliar Family: Keluarga yang Hidup Bersama Tanpa Saling Memahami
-
Review Serial Silo Season 3: Penutup Masif Trilogi Fiksi yang Terbaik!
Terkini
-
Casio Gandeng Cafe Kitsune, Hadirkan Jam Tangan Bernuansa Matcha
-
Kulit Auto Mulus, Ini 5 Body Care Pilihan untuk Mengatasi Noda Hitam
-
5 Fakta Kacang Benguk, Kenapa Tak Sepopuler Kedelai untuk Bikin Tempe?
-
Kota Bersih, Sampah Dipindahkan: Lingkaran Setan Pengelolaan Sampah Kita
-
Sinopsis The Early Spring, Drama Romantis Terbaru Jing Bo Ran dan Sun Qian