Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Ilustrasi Sound Horeg (Chat GPT)
Chairun Nisa

Belakangan ini, para pendukung sound horeg kerap menggunakan satu argumen untuk membelanya: "Ini budaya masyarakat."

Kalimat tersebut terdengar kuat. Sebab, ketika sesuatu sudah disebut budaya, orang cenderung menganggapnya sebagai warisan yang harus dihormati dan dilestarikan. Namun, benarkah semua kebiasaan yang ramai dan disukai banyak orang otomatis dapat disebut budaya?

Pertanyaan ini penting diajukan, terutama di tengah perdebatan panjang mengenai sound horeg yang hingga kini belum juga mereda.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ada banyak contoh budaya yang jelas keberadaannya. Yogyakarta memiliki Sekaten yang telah berlangsung selama ratusan tahun sebagai bagian dari syiar Islam dan tradisi keraton. Masyarakat Jawa mengenal tradisi gotong royong yang mengajarkan kerja sama dan kepedulian terhadap sesama. Di berbagai daerah masih hidup tradisi bersih desa, sedekah bumi, wayang, reog, hingga berbagai kesenian lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya-budaya tersebut memang berbeda bentuk, tetapi memiliki satu kesamaan: ada nilai yang diwariskan kepada masyarakat. Gotong royong mewariskan solidaritas. Sekaten mengandung nilai sejarah dan keagamaan. Wayang mengajarkan filosofi kehidupan. Reog menjadi identitas daerah sekaligus media kesenian.

Karena itu, budaya tidak hanya soal keramaian atau popularitas. Budaya juga berbicara tentang nilai, identitas, dan manfaat sosial yang bertahan melampaui zamannya.

Memang benar bahwa sound horeg telah berkembang menjadi fenomena besar, terutama di Jawa Timur. Ia memiliki komunitas, penggemar, pelaku usaha, bahkan menjadi daya tarik dalam berbagai karnaval dan perayaan rakyat. Namun popularitas tidak selalu identik dengan budaya.

Jika ukuran budaya hanya sebatas sesuatu yang ramai dan disukai banyak orang, maka tren media sosial yang viral juga bisa disebut budaya. Padahal banyak tren yang hanya bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya dilupakan.

Karena itu, menurut saya sound horeg lebih tepat disebut fenomena hiburan populer daripada budaya.

Pendapat ini bukan semata-mata karena saya tidak menyukai suara keras. Sebaliknya, saya melihat bahwa perdebatan mengenai sound horeg justru menunjukkan bahwa statusnya sebagai budaya masih dipersoalkan oleh masyarakat sendiri.

Di satu sisi, para pendukungnya menilai sound horeg sebagai hiburan rakyat yang murah dan meriah. Kehadirannya mampu menarik massa, menciptakan euforia bersama, dan menggerakkan ekonomi warga. Banyak pedagang, kru teknis, hingga penyedia jasa yang memperoleh keuntungan dari acara semacam ini.

Namun di sisi lain, sound horeg juga terus dikaitkan dengan berbagai persoalan. Mulai dari kebisingan yang mengganggu warga, risiko gangguan pendengaran, kerusakan bangunan akibat getaran suara, hingga berbagai perilaku yang sering muncul dalam sejumlah acara, seperti konsumsi minuman keras atau pertunjukan yang dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat.

Perbedaan inilah yang membuat saya bertanya: nilai apa yang sebenarnya diwariskan oleh sound horeg?

Ketika mendengar kata gotong royong, masyarakat langsung memahami manfaatnya. Ketika menyaksikan Sekaten, masyarakat melihat hubungan antara sejarah, budaya, dan agama. Namun ketika mendengar sound horeg, yang pertama kali muncul dalam pikiran banyak orang justru perdebatan tentang volume suara, fatwa haram, dan kontroversi di media sosial.

Tentu setiap budaya juga pernah menuai kritik. Namun budaya yang bertahan biasanya memiliki nilai yang diakui secara luas oleh masyarakat. Sementara sound horeg hingga kini masih lebih dikenal karena kontroversinya daripada nilai yang diwariskannya.

Karena itu, saya cenderung melihat sound horeg sebagai bentuk hiburan populer yang sedang berkembang, bukan budaya dalam pengertian yang selama ini kita kenal. Ia mungkin ramai, digemari, bahkan menguntungkan secara ekonomi. Tetapi popularitas saja belum cukup untuk menjadikannya budaya.

Sebab tidak semua yang populer layak disebut budaya. Budaya seharusnya meninggalkan sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar euforia yang hilang ketika suara pengeras akhirnya dimatikan.