Pada saat sekarang ini, kita sedang berada pada masa-masa di mana beban ekologi semakin berat. Jumlah penduduk yang banyak pun mempengaruhi rasa cinta pada alam. Coba kita lihat bagaimana kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh tangan manusia. Tidak semua memahami bahwa alam dan lingkungan adalah rumah bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bonus demografi disebut oleh para ahli merupakan suatu masa ketika proporsi penduduk usia produktif antara 15-64 tahun jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia non produktif.
Badan Pusat Statistik memproyeksikan puncak bonus demografi Indonesia akan berlangsung tahun 2030-an sebelum perlahan bergeser menuju struktur penduduk yang menua. Bonus demografi disinyalir berkaitan erat dengan pemeliharaan lingkungan hidup. Semakin banyak jumlah penduduk belum tentu dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan.
Pengaruh Bonus Demografi Terhadap Kerusakan Lingkungan
Bonus demografi sangat berkaitan erat dengan jumlah penduduk. Jika kita kaitkan bersama, jumlah penduduk yang semakin banyak tentu saja akan banyak kebutuhan, terutama kebutuhan akan hunian atau rumah. Karena itulah, akan banyak developer maupun perusahaan akan membutuhkan lahan membangun rumah sehingga perlu tanah untuk mendirikan bangunan.
Dampaknya adalah hutan maupun lingkungan alam akan disulap menjadi hunian sebagaimana sudah banyak kita lihat di lapangan. Kebutuhan akan hunian merupakan kebutuhan yang penting sehingga lingkungan dapat menjadi korban. Pengalihfungsian hutan menjadi pemukiman akan sering terjadi. Padahal, kita membutuhkan lingkungan yang lestari untuk hidup namun di sisi lain kita butuh rumah pula.
Sebab itu, bonus demografi dapat mempengaruhi lingkungan alam sehingga harus ada keseimbangan yang harus dilakukan. Kita harus bisa menjaga alam tetap lestari sekaligus mampu membutuhi hidup.
Pentingnya Sebuah Keseimbangan dan Kesadaran
Beban ekologi semakin berat ketika bonus demografi semakin meningkat. Masalah lingkungan akan semakin banyak seperti penumpukan sampah meningkat di air maupun darat. Jika pembangunan kita terus mengabaikan aspek keberlanjutan ekologi, bonus demografi juga berisiko menjadi bonus demografi ganda, yakni beban ekonomi akibat populasi yang menua di kemudian hari sekaligus beban ekologis akibat kerusakan lingkungan yang kita wariskan hari ini.
Menjadi penting untuk diperhatikan juga di tengah bonus demografi yang meningkat beban ekologi jangan pula meningkat. Penting sekali adanya keseimbangan yang akan memberikan efek positif bagi kehidupan. Kita harus ingat bahwa alam adalah rumah dan sahabat. Ketika kita mengingkari itu maka bencana akan datang merusak dan membunuh kita.
Coba kita perhatikan bagaimana kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan sehingga menyebabkan bencana asap menyebar sampai ke negara tetangga. Coba kita lihat banyaknya masyarakat menjadi korban dan banyaknya penyakit saluran pernapasan. Bukan itu saja, perekonomian pun terkendala karena masyarakat tidak bekerja akibat bencana asap. Semua bencana itu karena ulah manusia itu sendiri. Membakar hutan dilakukan hanya untuk kepentingan dan keuntungan semata tanpa melihat bagaimana orang lain yang menderita.
Kesadaran dari setiap orang juga penting ditingkatkan. Setiap orang harus tahu tugas dan tanggung jawabnya merawat lingkungan alam tetap terjaga dan lestari. Meningkatnya jumlah penduduk maka ditingkatkan pula kesadaran. Semua orang harus belajar bagaimana merawat alam dan lingkungan sekitar. Setiap orang harus bekerja untuk merawat dan menjaga alam bukan bekerja untuk merusak alam demi sesuap nasi.
Masyarakat di usia produktif maupun non produktif harus sama-sama saling mengingatkan bahkan saling menegur bilamana ada tindakan-tindakan kejahatan yang ingin merusak hutan. Meskipun bonus demografi meningkat maka kita jaga agar beban ekologi tetap terjaga. Pemerintah dalam hal ini pun harus memperhatikan keselamatan lingkungan dan satwa yang ada dengan memastikan tidak ada lagi tangan-tangan yang membakar hutan dan lahan serta perusakan lainnya.
Baca Juga
-
Jebakan Gaji Tinggi: Saat Korban Loker Palsu Dipaksa Jadi Sindikat Love Scamming
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Bukan Sekadar Menunggu: Pentingnya Doa dan Usaha Nyata dalam Menjemput Jodoh
Artikel Terkait
-
Penduduk Bertambah, Bayi Berkurang: Potret Baru Indonesia di Angka 290 Juta
-
Dedi Mulyadi Minta Bupati dan Wali Kota Hentikan Pembangunan Wisata dan Perumahan di Hutan
-
Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan
-
Indonesia Menuju 300 Juta Penduduk, Siapkah Negara Menghadapinya?
-
Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat
Kolom
-
Deindustrialisasi Dini: Industri Tumbuh, tetapi Lapangan Kerja Menyusut
-
Hidup Penuh Drama Demi Validasi? Kenali Beda 'Self-Appreciation' dan Main Character Syndrome
-
Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?
-
Jurang Humor Milenial vs Gen Z: Saat Plesetan Cerdas Kalah dari Meme Pisang Tanpa Konteks
-
Mengenal Makna Spiritual Angka Jawa, Pengingat Bijak Bahwa Hidup Ada Batasnya
Terkini
-
Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
-
Hidden Gem Sarapan di Tangerang! Wajib Coba Nikmatnya Katupek Pitalah di Bopet Nan Katuju