Kalimantan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati sampai-sampai mendapat julukan paru-paru dunia. Miris, dibalik julukannya, kini sebagian besar hutan Kalimantan mengalami karhutla atau kebakaran hutan dan lahan. Tak berhenti sampai di situ, karhutla juga terjadi di hutan pulau lain, seperti di Sumatera, Riau, hingga Papua.
Hal ini cukup ironis, mengingat hutan Kalimantan yang seharusnya menjadi paru-paru dunia, justru warganya kesulitan untuk bernapas lega. Karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan pada 2026 memicu kabut asap selama kurang lebih 4 bulan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana memadamkan api. Mengapa masyarakat harus terus menanggung dampak kebakaran yang berulang? Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan buruknya kualitas udara?
Bukan Sekadar Pohon dan Lahan yang Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga melepaskan berbagai polutan ke udara yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Ketika pepohonan, semak, dan material organik lainnya terbakar, asap yang dihasilkan mengandung partikel halus. Karena ukurannya yang cukup kecil, partikel tersebut bisa dengan mudah masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru.
Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari mata perih, tenggorokan terasa gatal, batuk, hingga sesak napas. Bagi orang yang memiliki riwayat penyakit asma atau jantung, polusi udara juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Bagi orang yang sehat pun paparan kabut asap jangka panjang memungkinkan timbulnya masalah kesehatan baru.
Aktivitas Sehari-hari Tetap Berjalan
Ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah akibat karhutla, kehidupan masyarakat tidak serta-merta berhenti. Warga tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak perlu bersekolah, dan pedagang harus membuka lapak demi mendapatkan penghasilan. Padahal, aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk dapat meningkatkan paparan polutan yang berbahaya bagi kesehatan.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja harian dan masyarakat yang tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah. Mau tidak mau, mereka harus mempertaruhkan kesehatan mereka demi memenuhi kebutuhan finansial. Menghindari asap tidak selalu semudah menutup pintu dan jendela. Warga membutuhkan akses terhadap informasi kualitas udara, perlindungan yang memadai, serta fasilitas yang mendukung.
Tak Padam Sejak Agustus, Siapa yang Harus Tanggung Jawab?
Memang, musibah ini sangat mungkin terjadi saat udara kering di musim kemarau. Namun, dugaan-dugaan pembakaran secara sengaja untuk membuka lahan dirasa masuk akal, mengingat karhutla 2026 ini yang terparah dalam 1 dekade terakhir.
Apalagi dengan gerakan para petinggi daerah dan negara yang dinilai kurang cakap dan komentar yang nirempati, mereka seakan tidak berada di pihak rakyat.
Kritik terhadap pemerintah daerah pun tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini. Ketika kebakaran terus meluas dan warga harus menghadapi dampak kabut asap, masyarakat berhak mendapatkan penanganan yang cepat, informasi yang jelas, serta perlindungan yang memadai. Pernyataan pejabat yang terkesan meremehkan penderitaan warga tentu dapat memperburuk ketidakpercayaan publik, terutama jika tidak disertai langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan.
Menjaga hutan memang kewajiban semua orang. Namun, upaya masyarakat saja tidak cukup tanpa dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk mencegah kerusakan lingkungan. Sebab, apa gunanya menyebut suatu kawasan sebagai paru-paru dunia jika masyarakatnya sendiri harus berjuang untuk bernapas?
Baca Juga
-
Tak Ketemu Hayoung di The Trauma Code 2, Yuk Intip 5 Dramanya yang Lain!
-
5 Keunikan Novel The Great Gatsby, Diceritakan dari Sudut Pandang Tetangga
-
Sering Terlupakan, 3 Serealia Lokal Ini Bisa Jadi Pengganti Gandum
-
4 Fakta Unik Sayur Genjer, Kenapa Bisa Dikaitkan dengan Stigma G30S/PKI?
-
Ube Ternyata Bukan Ubi Ungu? Simak 3 Perbedaan Mendasarnya!
Artikel Terkait
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
-
Target 70 Ribu Personel! Polri Siapkan Polisi Khusus Kehutanan untuk Tangani Karhutla
-
Petani Kalimantan Barat: Kami Lama Nggak Lihat Matahari, 3 Bulan Kabut Asap Tebal
-
62 Ribu Balita Terserang ISPA di Tengah Karhutla, Orang Tua Diminta Batasi Anak Keluar Rumah
-
Ustaz Abdul Somad: Pembakar Hutan Masuk Neraka Jahanam, Petugas Damkar yang Gugur Insyaallah Syahid
Kolom
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos
-
PLTSa DIY Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Masalah atau Beban Baru?
-
Paspor Hijau di Negeri Orang: Ketika Dokumen Negara Menjadi Citra Bangsa
-
Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
-
Bahaya Deepfake AI: Dari Manipulasi Wajah Sultan hingga Krisis Kepercayaan
Terkini
-
Studio Dead by Daylight Garap AAA Sci-Fi FPS Baru, Detail Dirahasiakan
-
Belok Kiri Langsing: Ketika Transformasi Fisik Dimulai dari Mencintai Diri
-
Bukan Tablet Biasa! iQOO Pad Pro Andalkan Layar OLED 165Hz dan Kipas Pendingin Aktif
-
Drama Korea Good Partner 2 Rilis Poster Perdana, Jang Nara Cari Rekan Baru
-
5 HP 3 Jutaan dengan Chipset Gahar untuk Gaming