Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Bundaran HI Indonesia (Unsplash/@javaistan)
Oktavia Ningrum

Indonesia memiliki banyak anak muda yang terampil, lulusan perguruan tinggi, insinyur, dan tenaga profesional yang dibutuhkan industri global. Namun, ada pertanyaan penting di balik kebanggaan ketika mereka berhasil meniti karier di luar negeri: apakah Indonesia juga menyediakan industri yang memungkinkan keahlian tersebut digunakan untuk membangun teknologi nasional?

Persoalannya bukan keberhasilan orang Indonesia bekerja di negara lain. Mereka berhak mencari penghidupan yang lebih baik. Persoalan yang lebih mendasar ialah risiko ketika Indonesia terus memasok tenaga terampil ke pasar global, tetapi belum optimal memanfaatkan sumber daya manusia itu untuk mengembangkan teknologi dirgantara, kemaritiman, dan transportasi daratnya sendiri.

Negara yang hanya mengandalkan ekspor tenaga kerja berisiko kehilangan kesempatan untuk naik kelas dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.

Mendidik insinyur pesawat, ahli perkapalan, teknisi kereta api, dan peneliti membutuhkan investasi panjang. Mereka memerlukan pendidikan berkualitas, laboratorium, fasilitas pengujian, pengalaman industri, dan kesempatan mengerjakan proyek yang kompleks. Tanpa ekosistem tersebut, keahlian yang telah dibentuk tidak selalu dapat berkembang di dalam negeri. Akibatnya, tenaga profesional mungkin memilih bekerja di negara yang menawarkan fasilitas riset lebih maju, gaji lebih kompetitif, dan proyek teknologi berskala besar. Negara tujuan kemudian memperoleh manfaat dari produktivitas mereka, sementara Indonesia berisiko kehilangan sebagian potensi inovasi dan pengembangan industrinya.

Masalahnya bukan sekadar jumlah tenaga kerja yang pergi. Yang lebih penting adalah hilangnya kesempatan untuk membangun pengetahuan kolektif, melahirkan perusahaan teknologi, menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi, dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Jika Indonesia ingin membangun pesawat, kapal, kereta, dan sistem transportasi modern, negara tidak cukup hanya menghasilkan lulusan teknik. Mereka harus memiliki tempat untuk menerapkan pengetahuan, melakukan penelitian, menguji rancangan, dan mengembangkan produk sampai mampu bersaing di pasar.

Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. Industri nasional telah memiliki fondasi yang bisa dikembangkan. PT Dirgantara Indonesia, misalnya, memiliki kemampuan dalam desain, pengembangan, manufaktur, dan pemeliharaan pesawat. Perusahaan ini mengembangkan pesawat seperti CN235 dan N219 serta menjalin kerja sama teknologi dengan perusahaan dirgantara internasional.

Di bidang transportasi darat, PT Industri Kereta Api (INKA) memproduksi sarana perkeretaapian dan telah mengekspor produknya ke sejumlah negara. Pada 2026, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia juga mendukung pembiayaan ekspor gerbong buatan INKA ke Selandia Baru.  Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar pemasok tenaga kerja. Kita memiliki kemampuan industri yang nyata. Tantangannya adalah memperluas kemampuan tersebut, memperkuat riset, meningkatkan kandungan teknologi lokal, dan memastikan industri nasional memperoleh permintaan yang cukup untuk tumbuh.

Di sektor maritim, kebutuhan kapal dan penguatan galangan dalam negeri juga membuka peluang besar. Namun, produksi kapal tidak cukup hanya mengandalkan perakitan.

Pengembangan mesin, sistem navigasi, material, perangkat lunak, serta teknologi efisiensi energi perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Membeli teknologi dari luar negeri terkadang diperlukan karena kebutuhan mendesak atau keterbatasan kemampuan domestik.

Kerja sama internasional juga dapat mempercepat penguasaan teknologi. Yang perlu dihindari adalah ketergantungan permanen: membeli produk jadi tanpa membangun kemampuan untuk merancang, memproduksi, merawat, dan mengembangkan generasi berikutnya.

Pemerintah perlu menghubungkan perguruan tinggi, lembaga riset, BUMN, dan industri swasta melalui proyek yang memiliki sasaran jelas. Pengadaan publik dapat mendorong industri lokal, tetapi harus disertai standar mutu, evaluasi biaya sepanjang umur produk, dan target penguasaan teknologi yang terukur.

Pada saat yang sama, profesional Indonesia di luar negeri perlu dilibatkan melalui kolaborasi riset, pertukaran keahlian, investasi, dan kesempatan memimpin proyek strategis.

Tidak semua harus pulang permanen agar dapat berkontribusi bagi Indonesia. Keberhasilan bangsa bukan hanya diukur dari banyaknya tenaga kerja yang mampu bersaing di luar negeri. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan menciptakan pekerjaan bermutu di dalam negeri dan membangun teknologi yang dibutuhkan masyarakatnya sendiri.

Indonesia jangan hanya menjadi tempat lahirnya tenaga ahli bagi industri negara lain. Indonesia harus menjadi tempat di mana tenaga ahli dapat menciptakan pesawat, kapal, kereta, dan teknologi masa depan. Sebab, kemandirian tidak lahir hanya dari kemampuan membeli teknologi, tetapi dari keberanian membangun kemampuan untuk menciptakannya sendiri.