M. Reza Sulaiman | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi Konservasi Warkasi Habitat Burung Cendrawasih (pexels.com/Jeffry Surianto)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Burung cenderawasih bukan sekadar satwa berbulu indah. Kehadirannya membantu regenerasi hutan dan menjaga hubungan antara tumbuhan serta satwa di Papua.

Dari kejauhan, terdengar suara burung yang saling bersahutan. Seekor cenderawasih jantan memperlihatkan bulunya yang memukau sambil menari di antara dahan. Pemandangan tersebut menjadi salah satu keajaiban alam Indonesia.

Namun, pernahkah kita bertanya, apa yang terjadi pada kehidupan hutan Papua apabila burung cenderawasih kehilangan habitatnya? Selama ini, burung cenderawasih dikenal sebagai burung surga karena keindahan bulu dan perilaku perkawinannya.

Padahal, manfaat burung cenderawasih untuk lingkungan jauh lebih penting daripada sekadar daya tarik wisata. Sejumlah spesies membantu penyebaran biji tumbuhan, mendukung regenerasi hutan, dan menjadi bagian dari keseimbangan ekosistem.

Sayangnya, perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat terus mengancam keberadaan satwa khas Papua tersebut. Hutan tidak hanya tumbuh karena biji jatuh dari pohon. Sebagian tumbuhan membutuhkan bantuan satwa untuk memindahkan bijinya menuju tempat lain.

Di sinilah burung cenderawasih memiliki peran ekologis. Sejumlah spesies cenderawasih memakan buah-buahan hutan. Ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, burung dapat membawa biji melalui saluran pencernaan atau menjatuhkannya selama aktivitas makan.

Biji yang tersebar di lokasi sesuai berpeluang tumbuh menjadi tanaman baru. Proses tersebut disebut penyebaran biji atau seed dispersal. Perannya penting bagi regenerasi hutan karena membantu tumbuhan memperluas penyebaran dan mempertahankan keberadaan populasinya.

Penelitian Tri Ananda Nur Ikhsan dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan pada 22 September 2026 meneliti pohon pakan cenderawasih besar (Paradisaea apoda) di kawasan konsesi hutan Papua Selatan.

Pengamatan lapangan dilakukan selama 75 hari pada periode 2023 dan 2024. Peneliti mengidentifikasi pohon yang dimanfaatkan cenderawasih untuk memperoleh makanan, termasuk Myristica inspida dan Oncosperma tigillarium.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa beberapa tumbuhan pakan beririsan dengan jenis pohon bernilai komersial. Karena itu, peneliti merekomendasikan perlindungan vegetasi di kawasan penyangga sungai serta mempertahankan pohon pakan dalam pengelolaan hutan.

Temuan ini mengingatkan bahwa perlindungan cenderawasih tidak cukup dilakukan dengan melarang perburuan. Pohon yang menyediakan makanan dan tempat beraktivitas juga harus dijaga. Ketika pohon pakan ditebang, burung berpotensi kehilangan sumber makanan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Apa yang terjadi jika habitat cenderawasih rusak? Kerusakan habitat dapat mengubah hubungan antara burung dan tumbuhan. Ketika hutan dibuka untuk perkebunan, pertambangan, jalan, atau kegiatan lainnya, sebagian pohon penghasil buah mungkin menghilang. Cenderawasih kemudian harus mencari makanan di lokasi lain.

Masalahnya, tidak semua kawasan hutan menyediakan jenis tumbuhan dan kondisi habitat yang sama. Hilangnya pohon juga dapat mengganggu tempat bertengger, bersarang, serta lokasi pertunjukan kawin yang digunakan sejumlah spesies cenderawasih.

Jika gangguan berlangsung terus-menerus, populasi burung tertentu berisiko mengalami penurunan. Dampak ekologisnya dapat meluas. Berkurangnya burung pemakan buah berpotensi mengganggu penyebaran biji sejumlah tumbuhan, terutama jika tidak ada satwa lain yang mampu menjalankan fungsi serupa secara memadai.

Namun, tidak semua spesies cenderawasih memiliki pola makan dan kebutuhan habitat yang sama, karena mempunyai dampak kerusakan hutan perlu diteliti berdasarkan spesies dan kondisi ekosistem setempat.

Dalam pendekatan ekosistem, organisme tidak hidup secara terpisah. Tumbuhan, hewan, tanah, air, dan kondisi lingkungan saling berhubungan melalui aliran energi serta siklus materi. Artinya, keberadaan cenderawasih tidak dapat dilepaskan dari kesehatan hutan tempat mereka hidup.

Jika habitat rusak, burung kehilangan sumber daya. Sebaliknya, ketika populasi burung penyebar biji terganggu, sebagian proses regenerasi tumbuhan juga berpotensi terpengaruh. Hubungan timbal balik inilah yang membuat perlindungan satwa dan habitat harus berjalan bersama.

Ancaman terhadap cenderawasih masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Pada 8–9 Oktober 2026, Pemerintah Provinsi Papua bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua dan WWF-Indonesia membahas Rancangan Peraturan Daerah Khusus tentang perlindungan, pemanfaatan, dan replika cenderawasih.

Pembahasan tersebut melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat adat, serta berbagai pemangku kepentingan. Menurut Pemerintah Provinsi Papua, perburuan dan perdagangan ilegal masih menjadi ancaman, sementara habitat asli cenderawasih menghadapi tekanan.

Penyusunan aturan ini penting untuk memperkuat perlindungan satwa sekaligus mempertimbangkan nilai budaya cenderawasih bagi masyarakat Papua.

Namun, keberhasilan regulasi nantinya harus dilihat dari pelaksanaan di lapangan, termasuk pengawasan perdagangan ilegal dan perlindungan kawasan hutan.

Manfaat habitat cenderawasih tidak berhenti pada kehidupan burung. Hutan yang terjaga menyediakan tempat hidup bagi berbagai satwa, membantu mempertahankan siklus air, melindungi tanah, dan menyimpan karbon.

Bagi masyarakat sekitar, hutan juga dapat memiliki nilai budaya, pendidikan, serta peluang ekonomi melalui wisata pengamatan burung yang dikelola secara bertanggung jawab.

Namun, wisata tidak boleh mengganggu lokasi bersarang atau aktivitas perkawinan cenderawasih. Perlindungan hutan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat adat dan warga setempat yang memiliki pengetahuan tentang kondisi lingkungan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan habitat penting, sementara kegiatan ekonomi tetap memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat.

Keindahan cenderawasih sering menjadi simbol kebanggaan Indonesia. Foto dan tarian burung ini mudah menarik perhatian dunia. Kekaguman terhadap keindahannya akan kehilangan makna apabila habitatnya terus menyusut.

Cenderawasih bukan hanya satwa yang perlu diselamatkan karena bulunya indah. Burung ini merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang membantu menjaga keberlangsungan hutan Papua.

Melindungi cenderawasih berarti mempertahankan pohon pakan, kawasan berkembang biak, dan proses ekologis yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal cenderawasih melalui gambar dan cerita, sementara hutan yang dahulu menjadi rumahnya telah menghilang.